alexametrics
28.8 C
Denpasar
Friday, May 27, 2022

2 Emas dan 2 Perunggu, Saatnya Tatap PON 2024

SENTANI– Pertandingan di cabor karate PON XX/2021, Papua sudah usai. Hasilnya Tim Karate PON Bali berhasil meraih dua emas dan dua perunggu. Perunggu terakhir dari Tim Karate PON Bali dipersembahkan oleh tim kumite beregu putri yang diperkuat oleh Nada Dwimayanti, Cok Istri Agung Sanistyarani dan Meriantini.

 

Di perebutan perunggu cabor karate di GOR Politeknik Penerbangan Kayu Batu Dok 9, Jayapura, Kamis siang kemarin (14/10), mereka berhasil menumbangkan karateka Sulawesi Tengah yang diperkuat Fania Dwi, Nikita Syahrin, dan Tri Fachryanti Ramadana dengan skor 2-0. Sebelumnya, mereka berhasil menang menghadapi Lampung dengan skor 2-0 dan dikalahkan DKI Jakarta dengan skor yang sama.

Baca Juga:  Gagal Raih Medali, Maria Londa Berharap Masih Diberi Kesempatan Kedua

 

Sebenarnya hasil ini sudah lebih baik dibanding saat PON XIX/2016, Jabar. Tantangan kedepannya, tentu saja adalah regenerasi. Jika batasan usia dipergunakan saat PON XXI/2024, Sumut-Aceh, jelas akan menjadi pekerjaan berat untuk Pengprov FORKI Bali.

 

Kemungkinan besar Cok Istri Agung Sanistyarani tidak bisa memperkuat Bali kembali. “Kalau Coki dari segi umur memang susah ya. Bisa sulit ikut di PON berikutnya. Tapi karate dipertandingkan di Olimpiade, mungkin peluang untuk tidak memakai batasan usia terbuka. Sekarang tergantung dari PB FORKI saja yang bisa mengubah aturan tersebut. Maklum, Coki ini andalan kami. Tapi adik-adik dibawahnya relative sudah terbentuk,” terang Manajer Tim Karate PON Bali Armand Setiawan saat dihubungi kemarin.

Baca Juga:  Pra Olimpiade Selancar Angin Kemungkinan Batal, Latihan Jalan Terus

 

Terkait raihan dua emas dan dua perunggu di PON Papua, dia menilai Tim Karate PON Bali kali ini cukup luar biasa. Termasuk dari jajaran pelatih didalamnya. “Pengprov FORKI Bali kebetulan mendukung penuh kami. Sekarang, sudah waktunya karate Bali bangkit kedepannya. Sekali lagi untuk 2024, perlu ada keseriusan untuk membina atlet,” terangnya.

 

Selama menjadi manajer, dia sadar betul banyak tantangan yang dihadapi. Tapi lambat laun, Armand mulai bisa menikmati perannya sebagai salah satu ujung tombak bagi karateka Bali. “Ini sudah jadi tanggung jawab saya. Saya jalani dan akhirnya bisa berjalan dengan baik,” tutupnya.


SENTANI– Pertandingan di cabor karate PON XX/2021, Papua sudah usai. Hasilnya Tim Karate PON Bali berhasil meraih dua emas dan dua perunggu. Perunggu terakhir dari Tim Karate PON Bali dipersembahkan oleh tim kumite beregu putri yang diperkuat oleh Nada Dwimayanti, Cok Istri Agung Sanistyarani dan Meriantini.

 

Di perebutan perunggu cabor karate di GOR Politeknik Penerbangan Kayu Batu Dok 9, Jayapura, Kamis siang kemarin (14/10), mereka berhasil menumbangkan karateka Sulawesi Tengah yang diperkuat Fania Dwi, Nikita Syahrin, dan Tri Fachryanti Ramadana dengan skor 2-0. Sebelumnya, mereka berhasil menang menghadapi Lampung dengan skor 2-0 dan dikalahkan DKI Jakarta dengan skor yang sama.

Baca Juga:  Pelatda PON Digeber Lagi, Cabor Bulutangkis Genjot Intensitas Latihan

 

Sebenarnya hasil ini sudah lebih baik dibanding saat PON XIX/2016, Jabar. Tantangan kedepannya, tentu saja adalah regenerasi. Jika batasan usia dipergunakan saat PON XXI/2024, Sumut-Aceh, jelas akan menjadi pekerjaan berat untuk Pengprov FORKI Bali.

 

Kemungkinan besar Cok Istri Agung Sanistyarani tidak bisa memperkuat Bali kembali. “Kalau Coki dari segi umur memang susah ya. Bisa sulit ikut di PON berikutnya. Tapi karate dipertandingkan di Olimpiade, mungkin peluang untuk tidak memakai batasan usia terbuka. Sekarang tergantung dari PB FORKI saja yang bisa mengubah aturan tersebut. Maklum, Coki ini andalan kami. Tapi adik-adik dibawahnya relative sudah terbentuk,” terang Manajer Tim Karate PON Bali Armand Setiawan saat dihubungi kemarin.

Baca Juga:  Dua Srikandi UT Denpasar Cetak Prestasi PON Papua

 

Terkait raihan dua emas dan dua perunggu di PON Papua, dia menilai Tim Karate PON Bali kali ini cukup luar biasa. Termasuk dari jajaran pelatih didalamnya. “Pengprov FORKI Bali kebetulan mendukung penuh kami. Sekarang, sudah waktunya karate Bali bangkit kedepannya. Sekali lagi untuk 2024, perlu ada keseriusan untuk membina atlet,” terangnya.

 

Selama menjadi manajer, dia sadar betul banyak tantangan yang dihadapi. Tapi lambat laun, Armand mulai bisa menikmati perannya sebagai salah satu ujung tombak bagi karateka Bali. “Ini sudah jadi tanggung jawab saya. Saya jalani dan akhirnya bisa berjalan dengan baik,” tutupnya.


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/