alexametrics
28.8 C
Denpasar
Thursday, May 26, 2022

Gagal ke Manchester, Nengah Widiasih Bersiap di Thailand dan Dubai

DENPASAR – Tepat hari ini, ada peringatan Hari Kartini. banyak atlet-atlet wanita Pulau Dewata yang begitu berjasa mengharumkan nama bangsa di dunia internasional. 

Contohlah seperti Maria Natalia Londa dari cabor atletik dan Cok Istri Agung Sanistyarani dari cabor karate.

Tapi untuk atlet disabilitas, ada satu nama yang cukup besar karena berhasil mengharumkan nama Indonesia.

Dia adalah Ni Nengah Widiasih. Salah satu dari sederet prestasi di dunia internasional adalah Ni Nengah Widiasih.

Atlet para powerlifting tersebut sempat meraih satu-satunya medali untuk Indonesia di Paralimpiade Rio 2016.

Saat itu Widiasih yang turun di kelas 41 kg, berhasil menyabet medali perunggu. Baginya, wanita Indonesia harus bisa kuat dan berjuang untuk menjadi yang terdepan.

“Makna Kartini bagi saya adalah wanita Indonesia harus menjadi wanita yang kuat dan cerdas meskipun ada yang memiliki keterbatasan fisik,” terangnya saat diwawancarai Jawa Pos Radar Bali.

Baca Juga:  Lima Peselancar Ombak Bali Berjuang Tembus Olimpiade Tokyo 2021

Nah, kebetulan, dia bersama rekan-rekannya yang lain sesama atlet difabel, sedang berjuang untuk menembus Paralimpiade Tokyo 2021.

Namun, Tim Indonesia sempat terhalang karena gagal berangkat menuju Manchester, Inggris pada Maret lalu.

Hal ini karena kasus yang menimpa Tim Bulutangkis Indonesia di All England 2021 yang terpaksa lebih awal mengakhiri perjuangan karena berada dalam satu pesawat dengan penumpang yang positif Covid-19.

“Buntut panjang ke kami jadinya. Pihak KBRI di London, tidak memberikan izin karena khawatir kasus serupa terulang kembali kepada kami,” ungkapnya.

Padahal, World  Para Powerlifting World Cup 2021 saat itu menjadi salah satu kualifikasi menuju Tokyo. Namun, Widiasih dan paralifter lainnya tidak mau berkecil hati.

Baca Juga:  Tak Gentar dengan Thailand, Vietnam dan UEA, Siap Rebut Posisi Starter

Sebab masih ada dua agenda lainnya yang harus mereka kejar agar bisa lolos ke Tokyo. Pertama adalah World Cup di Thailand pada 5-9 Mei mendatang. Lalu 19-24 Juni di Dubai.

Hingga saat ini, mereka semua melakukan pemusatan latihan di Solo, tepatnya di Hotel Kusuma Sahid Prince.

“Persiapan saya dan teman-teman lainnya itu fokus untuk memulihkan kondisi. Maklum, kami tidak berlatih selama tujuh bulan akibat pandemi,” terangnya.

Dia mencoba untuk meraih tiket menuju Rio karena memiliki target untuk bisa meraih medali. “Harapan besar untuk saya untuk bisa meraih prestasi lebih baik atau setidaknya menyamai hasil di Rio.

Tapi jangan bicara target dulu. Untuk sekarang, saya fokus untuk berlatih sekeras mungkin,” tutup Nengah Widiasih. 


DENPASAR – Tepat hari ini, ada peringatan Hari Kartini. banyak atlet-atlet wanita Pulau Dewata yang begitu berjasa mengharumkan nama bangsa di dunia internasional. 

Contohlah seperti Maria Natalia Londa dari cabor atletik dan Cok Istri Agung Sanistyarani dari cabor karate.

Tapi untuk atlet disabilitas, ada satu nama yang cukup besar karena berhasil mengharumkan nama Indonesia.

Dia adalah Ni Nengah Widiasih. Salah satu dari sederet prestasi di dunia internasional adalah Ni Nengah Widiasih.

Atlet para powerlifting tersebut sempat meraih satu-satunya medali untuk Indonesia di Paralimpiade Rio 2016.

Saat itu Widiasih yang turun di kelas 41 kg, berhasil menyabet medali perunggu. Baginya, wanita Indonesia harus bisa kuat dan berjuang untuk menjadi yang terdepan.

“Makna Kartini bagi saya adalah wanita Indonesia harus menjadi wanita yang kuat dan cerdas meskipun ada yang memiliki keterbatasan fisik,” terangnya saat diwawancarai Jawa Pos Radar Bali.

Baca Juga:  Tunjukkan Eksistensi, TI Denpasar Sabet Tiga Emas

Nah, kebetulan, dia bersama rekan-rekannya yang lain sesama atlet difabel, sedang berjuang untuk menembus Paralimpiade Tokyo 2021.

Namun, Tim Indonesia sempat terhalang karena gagal berangkat menuju Manchester, Inggris pada Maret lalu.

Hal ini karena kasus yang menimpa Tim Bulutangkis Indonesia di All England 2021 yang terpaksa lebih awal mengakhiri perjuangan karena berada dalam satu pesawat dengan penumpang yang positif Covid-19.

“Buntut panjang ke kami jadinya. Pihak KBRI di London, tidak memberikan izin karena khawatir kasus serupa terulang kembali kepada kami,” ungkapnya.

Padahal, World  Para Powerlifting World Cup 2021 saat itu menjadi salah satu kualifikasi menuju Tokyo. Namun, Widiasih dan paralifter lainnya tidak mau berkecil hati.

Baca Juga:  Sukses Angkat Kisah Selat Bali ke Dalam Operet dan Pantomim

Sebab masih ada dua agenda lainnya yang harus mereka kejar agar bisa lolos ke Tokyo. Pertama adalah World Cup di Thailand pada 5-9 Mei mendatang. Lalu 19-24 Juni di Dubai.

Hingga saat ini, mereka semua melakukan pemusatan latihan di Solo, tepatnya di Hotel Kusuma Sahid Prince.

“Persiapan saya dan teman-teman lainnya itu fokus untuk memulihkan kondisi. Maklum, kami tidak berlatih selama tujuh bulan akibat pandemi,” terangnya.

Dia mencoba untuk meraih tiket menuju Rio karena memiliki target untuk bisa meraih medali. “Harapan besar untuk saya untuk bisa meraih prestasi lebih baik atau setidaknya menyamai hasil di Rio.

Tapi jangan bicara target dulu. Untuk sekarang, saya fokus untuk berlatih sekeras mungkin,” tutup Nengah Widiasih. 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/