alexametrics
26.8 C
Denpasar
Sunday, June 26, 2022

Proyek Magis Dadang Pranoto, Menjelma Jadi Pohon Tua Mendulang Cinta

DENPASAR – Bersama Navicula, si seniman ini dikenal sebagai Dankie Sang Raja Distorsi. Bersama Dialog Dini Hari dia adalah Dadang Pranoto, penyanyi gimbal yang menulis lirik bagaikan puisi dalam kitab-kitab suci.

Lain lagi kalau sedang sendirian. Si seniman unik ini kerap mengusung nama Pohon Tua. Sosok sarat misteri.

Tahun 2019 baru saja menggelinding, namun dia sudah menelurkan proyek baru; Pohon Tua Creatorium.

Sekilas, itu terbaca sebagai crematorium. Rumah pembakaran mayat. Alamak! Pohon Tua sudah mati dan dibakar? 

Tidak! Ternyata yang mati adalah batasan-batasan kreasi. Yang dibakar adalah pemahaman musik yang kaku.

Proyek barunya yang berisikan Palel Atmoko (Navicula/Soulfood) pada drum dan Kevin Suwandhi pada kibor/bas itu menyuguhkan warna musik yang sebelumnya tidak pernah dia mainkan ke publik.

Bukan grunge, bukan blues, bukan pula folk. Lalu apa? Entahlah. Sebaiknya, dengarkan saja. Belakangan, Pohon Tua memang terbilang sibuk.

Tak henti dia berkolaborasi dan memproduksi musik dari berbagai genre. Mulai dari Nostress, Soul and Kith, juga penyanyi Rusia bernama Daria Shevencko.

Berikutnya akan produksi bareng Made Mawut dan Soulfood. Maka mahfumlah kita kalau kemudian dia melahirkan sesuatu yang berbeda. Baru. Menantang.

Mendulang Cinta. Itulah judul singel perdana Pohon Tua Creatorium. Usut punya usut, ternyata lagu ini ditulis khusus untuk sebuah buku berjudul I’m All Ears.

Buku kecil karya Eko Wustuk bersama tim Edraflo yang berkisah tentang sepak terjang pasangan musisi yang juga suami istri: Endah N Rhesa (EAR).

“Kadang orang hanya bisa melihat burung itu terbang, tapi tak cari tahu bagaimana bisa terbang,” kata Pohon Tua menjelaskan lagu barunya.

“Aku menulisnya berdasarkan draft buku yang akan dirilis. Tapi mungkin sisi gelapnya enak dinyanyikan dan dibagi ke publik: perjalanan musik EAR yang berjuang dari bawah hingga hari ini,” lanjutnya menuntaskan. 

Lagu ini dirilis tanggal 22 Februari 2019 secara digital di sejumlah kanal musik seperti iTunes, Apple MusicSpotifyYoutube dan sejumlah tempat lainnya.

Sekedar diketahui, baik Endah maupun Rhesa sama sekali tidak tahu bahwa Pohon Tua menulis sebuah lagu khusus berpijak pada naskah buku mereka. Ha! How’s that for surprise?! 



DENPASAR – Bersama Navicula, si seniman ini dikenal sebagai Dankie Sang Raja Distorsi. Bersama Dialog Dini Hari dia adalah Dadang Pranoto, penyanyi gimbal yang menulis lirik bagaikan puisi dalam kitab-kitab suci.

Lain lagi kalau sedang sendirian. Si seniman unik ini kerap mengusung nama Pohon Tua. Sosok sarat misteri.

Tahun 2019 baru saja menggelinding, namun dia sudah menelurkan proyek baru; Pohon Tua Creatorium.

Sekilas, itu terbaca sebagai crematorium. Rumah pembakaran mayat. Alamak! Pohon Tua sudah mati dan dibakar? 

Tidak! Ternyata yang mati adalah batasan-batasan kreasi. Yang dibakar adalah pemahaman musik yang kaku.

Proyek barunya yang berisikan Palel Atmoko (Navicula/Soulfood) pada drum dan Kevin Suwandhi pada kibor/bas itu menyuguhkan warna musik yang sebelumnya tidak pernah dia mainkan ke publik.

Bukan grunge, bukan blues, bukan pula folk. Lalu apa? Entahlah. Sebaiknya, dengarkan saja. Belakangan, Pohon Tua memang terbilang sibuk.

Tak henti dia berkolaborasi dan memproduksi musik dari berbagai genre. Mulai dari Nostress, Soul and Kith, juga penyanyi Rusia bernama Daria Shevencko.

Berikutnya akan produksi bareng Made Mawut dan Soulfood. Maka mahfumlah kita kalau kemudian dia melahirkan sesuatu yang berbeda. Baru. Menantang.

Mendulang Cinta. Itulah judul singel perdana Pohon Tua Creatorium. Usut punya usut, ternyata lagu ini ditulis khusus untuk sebuah buku berjudul I’m All Ears.

Buku kecil karya Eko Wustuk bersama tim Edraflo yang berkisah tentang sepak terjang pasangan musisi yang juga suami istri: Endah N Rhesa (EAR).

“Kadang orang hanya bisa melihat burung itu terbang, tapi tak cari tahu bagaimana bisa terbang,” kata Pohon Tua menjelaskan lagu barunya.

“Aku menulisnya berdasarkan draft buku yang akan dirilis. Tapi mungkin sisi gelapnya enak dinyanyikan dan dibagi ke publik: perjalanan musik EAR yang berjuang dari bawah hingga hari ini,” lanjutnya menuntaskan. 

Lagu ini dirilis tanggal 22 Februari 2019 secara digital di sejumlah kanal musik seperti iTunes, Apple MusicSpotifyYoutube dan sejumlah tempat lainnya.

Sekedar diketahui, baik Endah maupun Rhesa sama sekali tidak tahu bahwa Pohon Tua menulis sebuah lagu khusus berpijak pada naskah buku mereka. Ha! How’s that for surprise?! 



Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/