alexametrics
26.8 C
Denpasar
Monday, June 27, 2022

Siat Sarang; Cara Unik Warga Bali Perangi Bhuta Kala Pada Diri Manusia

AMLAPURA – Karangasem memang dikenal dengan berbagai tradisi unik. Di antaranya adalah siat atau perang sarang di Desa Adat Selat, Karangasem.

Ritual ini dilakukan di pertigaan desa setempat sebelah utara Pura Bale Agung. Menurut Kelian Adat Selat Jro Mangku Wayan Gede Mustika, ritual ini dilaksanakan secara turun temurun.

Ritual ini merupakan simbol memerangi Bhuta Kala atau kekuatan jahat yang ada pada diri manusia. “Memiliki makna untuk memerangi sifat jahat yang ada pada diri kita sendiri,” ujar Jro Mangku.

Ritual ini dilakukan pukul 17.00 Wita kemarin. Sebelum ritual, dilakukan pecaruan termasuk juga di rumah masing masing warga.

Perang sarang sendiri menggunakan sarang atau alat untuk membuat jajanan uli yang terbuat dari ron atau daun kelapa.

Sarang yang cukup berat inilah yang dipakai perang. Dua kelompok saling serang dan saling lempar menggunakan sarang.

Teknisnya, bendesa adat memberikan sarang kepada masing-masing kelompok. Begitu sarang diberikan, mereka langsung saling serang.

Mereka ini adalah para yowana atau anak remaja desa dari seluruh Desa Adat Selat. Sebagian tidak menggunakan baju, sebagian kelompok menggunakan baju.

Ada tiga ronde pada perang sarang ini. Ronde pertama serangan antara kelompok dari utara dan selatan, serangan kedua dari barat dan timur, sementara serangan yang terakhir adalah penyirang dari barat laut ke timur laut.

Selain dipusatkan di pertigaan Desa Adat Selat, perang sarang juga dilakukan di masing – masing banjar adat. Ada 18 banjar adat di Desa Pakraman Selat.

Hanya saja perang sarang dipusatkan di Pertigaan Desa Adat Selat. Secara niskala juga dilakukan ritual pecaruan di sisi timur jalan Pura Bale Agung.

“Siat sarang ini kami lakukan setiap tahun, selama ini tidak pernah tidak dilaksanakan,” ujar Jro Mangku. Mereka tidak berani melaksanakan karena berkaitan dengan hasil panen atau kesuburan.

Karena jika tidak dilakukan maka hasil penen akan rusak. “inlah yang dipercaya masyarakat sehingga tidak berani tidak melaksanakan,” jelasnya.

Sementara usai saing serang semua peserta kembali berbaur. Tidak ada dendam  karena semua mereka lakukan adalah ngayah dan bagian dari ritual.



AMLAPURA – Karangasem memang dikenal dengan berbagai tradisi unik. Di antaranya adalah siat atau perang sarang di Desa Adat Selat, Karangasem.

Ritual ini dilakukan di pertigaan desa setempat sebelah utara Pura Bale Agung. Menurut Kelian Adat Selat Jro Mangku Wayan Gede Mustika, ritual ini dilaksanakan secara turun temurun.

Ritual ini merupakan simbol memerangi Bhuta Kala atau kekuatan jahat yang ada pada diri manusia. “Memiliki makna untuk memerangi sifat jahat yang ada pada diri kita sendiri,” ujar Jro Mangku.

Ritual ini dilakukan pukul 17.00 Wita kemarin. Sebelum ritual, dilakukan pecaruan termasuk juga di rumah masing masing warga.

Perang sarang sendiri menggunakan sarang atau alat untuk membuat jajanan uli yang terbuat dari ron atau daun kelapa.

Sarang yang cukup berat inilah yang dipakai perang. Dua kelompok saling serang dan saling lempar menggunakan sarang.

Teknisnya, bendesa adat memberikan sarang kepada masing-masing kelompok. Begitu sarang diberikan, mereka langsung saling serang.

Mereka ini adalah para yowana atau anak remaja desa dari seluruh Desa Adat Selat. Sebagian tidak menggunakan baju, sebagian kelompok menggunakan baju.

Ada tiga ronde pada perang sarang ini. Ronde pertama serangan antara kelompok dari utara dan selatan, serangan kedua dari barat dan timur, sementara serangan yang terakhir adalah penyirang dari barat laut ke timur laut.

Selain dipusatkan di pertigaan Desa Adat Selat, perang sarang juga dilakukan di masing – masing banjar adat. Ada 18 banjar adat di Desa Pakraman Selat.

Hanya saja perang sarang dipusatkan di Pertigaan Desa Adat Selat. Secara niskala juga dilakukan ritual pecaruan di sisi timur jalan Pura Bale Agung.

“Siat sarang ini kami lakukan setiap tahun, selama ini tidak pernah tidak dilaksanakan,” ujar Jro Mangku. Mereka tidak berani melaksanakan karena berkaitan dengan hasil panen atau kesuburan.

Karena jika tidak dilakukan maka hasil penen akan rusak. “inlah yang dipercaya masyarakat sehingga tidak berani tidak melaksanakan,” jelasnya.

Sementara usai saing serang semua peserta kembali berbaur. Tidak ada dendam  karena semua mereka lakukan adalah ngayah dan bagian dari ritual.



Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/