alexametrics
25.3 C
Denpasar
Friday, August 12, 2022

Sepakbola Indonesia Berduka, Ini Pesan Cak Nun, Tolong Viralkan…

DENPASAR – Dunia sepakbola Indonesia kembali berduka. Seorang suporter tewas jelang duel di pekan ke 23 Liga I yang mempertemukan Persib Bandung dengan Persija Jakarta.

Korban yang diketahui bernama Haringga Sirila itu tewas dikeroyok di area luar Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Minggu (23/9) sore kemarin.

Menurut laporan dari Reskrim Polrestabes Bandung, dari keterangan suporter yang berada di GBLA pada pukul 13.00 WIB, di area parkiran gerbang biru ada salah seorang suporter dikejar oleh oknum suporter Persib.

Oknum suporter Persib itu berteriak bahwa orang yang dikejar adalah pendukung Persija Jakarta alias Jak Mania.

Korban yang dikejar sempat meminta tolong kepada tukang bakso, namun kerumunan mengeroyok korban dengan menggunakan balok kayu, piring, botol dan benda-benda lainnya sehingga korban meninggal dunia.

Baca Juga:  16 Tim Jajal Azawear 3X3

Insiden ini membuat publik bertanya-tanya, sampai kapan perseteruan itu abadi dan memakan korban jiwa manusia.

Pesan khusus disampaikan Emha Ainun Nadjib terkait insiden yang menimpa suporter sepakbola Indonesia ini. Cak Nun – sapaan akrabnya mengajak para suporter bersikap sportif.

“Aku tanya sepakbola itu ibadah bukan? Diniatkan ibadah bukan. Karena hidup ini tidak boleh melakukan apa-apa kecuali ibadah lho.

Mohon maaf rumusnya di Al Qur’an kan….Kalimatnya ini,” bukan saya ciptakan jin dan manusia untuk beribadah tetapi terbalik.

Saya tidak ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah, jadi tidak boleh kalau tidak beribadah. Maka apa saja harus kita ibadahkan, jelas ya.

Sepakbola untuk bersyukur, untuk persaudaraan. Untuk menciptakan ghiroh, untuk saling menolong, untuk segala macam.

Pokoknya temukan dimensi ibadah dalam sepakbola. Baik pemainnya, pelatihnya, suporternya, dan semuanya. Itu juga kan fastabiqul khoirot.

Berlomba-lomba membikin kebaikan. Kan sama aturannya, PSS, PSIM, Persib, Persija, aturannya sama, mengabdi kepada prinsip sportivitas yang sama.

Itu berarti kita berlomba-lomba untuk siapa yang lebih sportif, siapa yang lebih indah suporternya, siapa yang lebih semangat, siapa yang lebih penuh cinta, dan seterusnya.

Itu berarti fastabiqul khoirot. Jadi ternyata sepakbola itu juga dunia ibadah yang luar biasa”.

 

Baca Juga:  Terdampak Covid-19, Jatah Hibah KONI Tabanan Nol Rupiah

 

 



DENPASAR – Dunia sepakbola Indonesia kembali berduka. Seorang suporter tewas jelang duel di pekan ke 23 Liga I yang mempertemukan Persib Bandung dengan Persija Jakarta.

Korban yang diketahui bernama Haringga Sirila itu tewas dikeroyok di area luar Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Minggu (23/9) sore kemarin.

Menurut laporan dari Reskrim Polrestabes Bandung, dari keterangan suporter yang berada di GBLA pada pukul 13.00 WIB, di area parkiran gerbang biru ada salah seorang suporter dikejar oleh oknum suporter Persib.

Oknum suporter Persib itu berteriak bahwa orang yang dikejar adalah pendukung Persija Jakarta alias Jak Mania.

Korban yang dikejar sempat meminta tolong kepada tukang bakso, namun kerumunan mengeroyok korban dengan menggunakan balok kayu, piring, botol dan benda-benda lainnya sehingga korban meninggal dunia.

Baca Juga:  Pelatda PON Papua Tetap Berjalan, Mekanisme Masih Dibahas KONI Bali

Insiden ini membuat publik bertanya-tanya, sampai kapan perseteruan itu abadi dan memakan korban jiwa manusia.

Pesan khusus disampaikan Emha Ainun Nadjib terkait insiden yang menimpa suporter sepakbola Indonesia ini. Cak Nun – sapaan akrabnya mengajak para suporter bersikap sportif.

“Aku tanya sepakbola itu ibadah bukan? Diniatkan ibadah bukan. Karena hidup ini tidak boleh melakukan apa-apa kecuali ibadah lho.

Mohon maaf rumusnya di Al Qur’an kan….Kalimatnya ini,” bukan saya ciptakan jin dan manusia untuk beribadah tetapi terbalik.

Saya tidak ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah, jadi tidak boleh kalau tidak beribadah. Maka apa saja harus kita ibadahkan, jelas ya.

Sepakbola untuk bersyukur, untuk persaudaraan. Untuk menciptakan ghiroh, untuk saling menolong, untuk segala macam.

Pokoknya temukan dimensi ibadah dalam sepakbola. Baik pemainnya, pelatihnya, suporternya, dan semuanya. Itu juga kan fastabiqul khoirot.

Berlomba-lomba membikin kebaikan. Kan sama aturannya, PSS, PSIM, Persib, Persija, aturannya sama, mengabdi kepada prinsip sportivitas yang sama.

Itu berarti kita berlomba-lomba untuk siapa yang lebih sportif, siapa yang lebih indah suporternya, siapa yang lebih semangat, siapa yang lebih penuh cinta, dan seterusnya.

Itu berarti fastabiqul khoirot. Jadi ternyata sepakbola itu juga dunia ibadah yang luar biasa”.

 

Baca Juga:  Audiensi dengan KONI, ESI Tabanan Optimistis di Porprov 2022

 

 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/