alexametrics
25.4 C
Denpasar
Sunday, August 14, 2022

Sapa Penggemar, Dialog Dini Hari Kembali dengan Pralaya

DENPASAR – Trio folk Dialog Dini Hari, kembali dengan sebuah single baru berjudul Pralaya. Single ini, diambil dari album penuh ketiga band berjudul Parahidup yang akan dirilis pada 17 Juli 2019.

Single ini kembali hadir setelah Dialog Dini Hari mengurung diri dan menjawab pertanyaan-pertanyaan eksistensialisme tentang perjalanan musikal mereka.

Lewat serangkaian proses yang tidak terasa telah berjalan selama kurang lebih empat tahun, akhirnya Dialog Dini Hari merampungkan album baru. Sesuatu yang telah dinantikan oleh publik.

Untuk mengawalinya, single Pralaya dipercaya sebagai pembuka. “Pralaya bercerita tentang hari ini, tentang sesuatu yang sudah pernah terjadi ribuan tahun yang lalu.

Bahwa manusia memerangi, menghakimi manusia lain. Pada saat semuanya sirna nanti, kita mungkin menyadari bahwa ada kekuatan lain

yang menghancurkan peperangan sesama manusia,” jelas Dadang Pranoto atau Pohon Tua, penulis lirik utama Dialog Dini Hari.

Baca Juga:  Tim Judoka Bali Masih Optimistis Bisa Raih Emas di Nomor Beregu

Sejarah yang berulang, adalah sesuatu yang coba mereka rekam lewat Pralaya. “Segala macam nafsu manusia akan tunduk pada satu kekuatan besar alam jagat raya ini.

Dengan memahami kedudukan manusia secara politik dan sosial individu itu sendiri, ternyata bisa mengubah watak manusianya,” lanjutnya.

Referensi penulisan yang dipilih oleh Pohon Tua terhampar lebar mulai dari kisah dewa, kerajaan di masa lampau serta sejumlah artikel modern yang ditulis ulang oleh para sejarawan.

Selain Pralaya, Parahidup juga mengandung banyak cerita. Album ini merupakan pencapaian baru dari segi artistik untuk masing-masing personil Dialog Dini Hari.

“Dialog Dini Hari menawarkan sebuah ajakan untuk mendengarkan batas-batas bermusik yang kami jelajahi secara individu.

Di Parahidup, kami mendobrak sekat-sekat mental ‘Harus begini, harus begitu’ ketika berkarya. Kami sudah tidak peduli lagi, biar saja lepas. Bila perlu hingga tak terkendali,” terang Pohon Tua.

Baca Juga:  Inspiratif, Curhat Yanti Pasca Widiasih Raih Perak di Asian Para Games

Selain Pohon Tua, Dialog Dini Hari juga beranggotakan Brozio Orah dan Putu Deny Surya. Formasi ini telah menghasilkan beberapa album bersama-sama.

Dialog Dini Hari bekerja sama dengan seniman asal Jakarta, Ruth Marbun, yang menggarap seluruh artwork visual album ini.

Pralaya sendiri sudah bisa didengarkan di sejumlah kanal musik digital mulai 26 Juni 2019. Untuk video musik digarap oleh Esa Bani dan Kuncir Satya Viku mulai bisa dinikmati di Youtube pada 1 Juli 2019.

 Album Parahidup akan dirilis secara digital pada 17 Juli 2019 dan versi fisiknya akan diumumkan saat album tersebut resmi dirilis. 



DENPASAR – Trio folk Dialog Dini Hari, kembali dengan sebuah single baru berjudul Pralaya. Single ini, diambil dari album penuh ketiga band berjudul Parahidup yang akan dirilis pada 17 Juli 2019.

Single ini kembali hadir setelah Dialog Dini Hari mengurung diri dan menjawab pertanyaan-pertanyaan eksistensialisme tentang perjalanan musikal mereka.

Lewat serangkaian proses yang tidak terasa telah berjalan selama kurang lebih empat tahun, akhirnya Dialog Dini Hari merampungkan album baru. Sesuatu yang telah dinantikan oleh publik.

Untuk mengawalinya, single Pralaya dipercaya sebagai pembuka. “Pralaya bercerita tentang hari ini, tentang sesuatu yang sudah pernah terjadi ribuan tahun yang lalu.

Bahwa manusia memerangi, menghakimi manusia lain. Pada saat semuanya sirna nanti, kita mungkin menyadari bahwa ada kekuatan lain

yang menghancurkan peperangan sesama manusia,” jelas Dadang Pranoto atau Pohon Tua, penulis lirik utama Dialog Dini Hari.

Baca Juga:  Suara Dianggap Fals, Evie Terkenang Dikeluarkan dari Grup Paduan Suara

Sejarah yang berulang, adalah sesuatu yang coba mereka rekam lewat Pralaya. “Segala macam nafsu manusia akan tunduk pada satu kekuatan besar alam jagat raya ini.

Dengan memahami kedudukan manusia secara politik dan sosial individu itu sendiri, ternyata bisa mengubah watak manusianya,” lanjutnya.

Referensi penulisan yang dipilih oleh Pohon Tua terhampar lebar mulai dari kisah dewa, kerajaan di masa lampau serta sejumlah artikel modern yang ditulis ulang oleh para sejarawan.

Selain Pralaya, Parahidup juga mengandung banyak cerita. Album ini merupakan pencapaian baru dari segi artistik untuk masing-masing personil Dialog Dini Hari.

“Dialog Dini Hari menawarkan sebuah ajakan untuk mendengarkan batas-batas bermusik yang kami jelajahi secara individu.

Di Parahidup, kami mendobrak sekat-sekat mental ‘Harus begini, harus begitu’ ketika berkarya. Kami sudah tidak peduli lagi, biar saja lepas. Bila perlu hingga tak terkendali,” terang Pohon Tua.

Baca Juga:  Sibuk Karir Pribadi, Vakum, Tolak Tawaran Manggung di Malaysia

Selain Pohon Tua, Dialog Dini Hari juga beranggotakan Brozio Orah dan Putu Deny Surya. Formasi ini telah menghasilkan beberapa album bersama-sama.

Dialog Dini Hari bekerja sama dengan seniman asal Jakarta, Ruth Marbun, yang menggarap seluruh artwork visual album ini.

Pralaya sendiri sudah bisa didengarkan di sejumlah kanal musik digital mulai 26 Juni 2019. Untuk video musik digarap oleh Esa Bani dan Kuncir Satya Viku mulai bisa dinikmati di Youtube pada 1 Juli 2019.

 Album Parahidup akan dirilis secara digital pada 17 Juli 2019 dan versi fisiknya akan diumumkan saat album tersebut resmi dirilis. 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/