alexametrics
27.8 C
Denpasar
Thursday, June 30, 2022

Ini Kunci Spaso Berhasil Meraih Sepatu Emas Sebagai Top Skorer Liga 1

GIANYAR – Ilija Spasojevic menjadi satu-satunya pemain Bali United yang meraih gelar individual dalam liga 1 2021/2022. Spaso meraih sepatu emas karena menjadi top skorer. Namun, apa kunci Spaso bisa sesubur ini?

Dejan Gluscevic bersama bersama Bandung Raya, Jacksen F. Tiago kala membela Persebaya Surabaya, hingga Boaz Solossa adalah sederet pemain yang sukses mengawinkan dua gelar sekaligus dalam satu musim kompetisi sebagai top skorer dan juara Liga Indonesia.

Torehan ini akhirnya dicapai juga oleh Ilija Spasojevic. Spaso menjadi top skorer dan berhak merebut sepatu emas setelah mencetak 23 gol dan dua assist musim ini. Jika diamati, sebenarnya penyerang kelahiran Bar, Montenegro ini tidak banyak berlari untuk mengejar bola.

Spaso terbilang bukanlah tipikal goal getter layaknya Youssef Ezzejari di Persik Kediri atau Ciro Alves bersama Persikabo 1973. Dia lebih menunggu bola daripada mencari bola. Dengan gaya permainannya seperti itu, kritik tentu ada saja. Toh Spaso berhasil membuktikan kapabilitasnya sebagai penyerang terbaik di Liga 1 2021/2022.

Gaya permainannya yang lebih banyak menunggu bola, diungkapkan langsung oleh Spaso dan dia membenarkannya.

“Saya pikir rekan-rekan banyak membantu saya. Saya lebih banyak berada dalam box. Itu memang tugas saya dan dari pelatih. Gol-gol yang saya buat juga tidak lepas dari peran teman-teman di lapangan. Saya bergantung dengan rekan-rekan dan pola permainan tim,” ujar Spasojevic.

Pemain yang sudah melesakkan 134 gol sepanjang karier profesionalnya yang terhitung sejak tahun 2006, mantan pemain Bhayangkara FC ini menilai banyak pemain yang membantunya dalam menciptakan gol untuk Serdadu Tridatu.

Tanpa mengesampingkan pemain lain di dalam skuad, Spaso dengan tegas mengungkapkan jika barisan wide attacker Serdadu Tridatu menjadi salah satu kunci vital sehingga Bali United berhasil merebut gelar juara Liga 1 kedua kali secara beruntun.

Ada peran besar dari Stefano Lilipaly, Privat Mbarga, M. Rahmat, Irfan Jaya, hingga Yabes Roni Malaifani. Semua pemain ini pernah berkontribusi dan menjadi pahlawan Bali United di laga-laga krusial Serdadu Tridatu musim ini.

“Pola permainan Bali United sangat luar biasa. Ada pemain-pemain cepat. Tapi saya sudah bilang jika rekan-rekan saya di tim pantas menerima gelar ini juga (sepatu emas Liga 1). Ini berkat hasil kerja keras seluruh pemain di lapangan,” imbuh Spaso.

Spaso juga tidak lupa mengomentari pertandingan terakhir menghadapi Persik Kediri. Di pekan ke-33, Bali United banyak mendapat hujatan karena bermain dibawah performa terbaik dan bisa seakan bermain-main saja. Bahkan Persebaya Surabaya dianggap sebagai juara tanpa mahkota setelah menumbangkan Bali United dengan skor telak tiga gol tanpa balas.

Menghadapi Macan Putih, permainan Bali United berbanding terbalik 180 derajat. Tanpa beberapa pemain asing sejak menit pertama, mereka tampil lebih baik dari Persik. Bahkan I Komang Tri Arta Wiguna, I Gede AGus Mahendra, dan Rakasurya tampil apik setelah diberikan kepercayaan oleh Teco.

“Ya waktu lawan Persebaya, mental pasti berbeda karena sebelum pertandingan kami sudah mengetahui menjadi juara. Sedikit terganggu fokus kami dan kurang beruntung. Sekarang berbeda cerita. Kami bermain untuk harga diri dan saya pikir ending yang sempurna untuk musim ini,” tutup Spaso.



GIANYAR – Ilija Spasojevic menjadi satu-satunya pemain Bali United yang meraih gelar individual dalam liga 1 2021/2022. Spaso meraih sepatu emas karena menjadi top skorer. Namun, apa kunci Spaso bisa sesubur ini?

Dejan Gluscevic bersama bersama Bandung Raya, Jacksen F. Tiago kala membela Persebaya Surabaya, hingga Boaz Solossa adalah sederet pemain yang sukses mengawinkan dua gelar sekaligus dalam satu musim kompetisi sebagai top skorer dan juara Liga Indonesia.

Torehan ini akhirnya dicapai juga oleh Ilija Spasojevic. Spaso menjadi top skorer dan berhak merebut sepatu emas setelah mencetak 23 gol dan dua assist musim ini. Jika diamati, sebenarnya penyerang kelahiran Bar, Montenegro ini tidak banyak berlari untuk mengejar bola.

Spaso terbilang bukanlah tipikal goal getter layaknya Youssef Ezzejari di Persik Kediri atau Ciro Alves bersama Persikabo 1973. Dia lebih menunggu bola daripada mencari bola. Dengan gaya permainannya seperti itu, kritik tentu ada saja. Toh Spaso berhasil membuktikan kapabilitasnya sebagai penyerang terbaik di Liga 1 2021/2022.

Gaya permainannya yang lebih banyak menunggu bola, diungkapkan langsung oleh Spaso dan dia membenarkannya.

“Saya pikir rekan-rekan banyak membantu saya. Saya lebih banyak berada dalam box. Itu memang tugas saya dan dari pelatih. Gol-gol yang saya buat juga tidak lepas dari peran teman-teman di lapangan. Saya bergantung dengan rekan-rekan dan pola permainan tim,” ujar Spasojevic.

Pemain yang sudah melesakkan 134 gol sepanjang karier profesionalnya yang terhitung sejak tahun 2006, mantan pemain Bhayangkara FC ini menilai banyak pemain yang membantunya dalam menciptakan gol untuk Serdadu Tridatu.

Tanpa mengesampingkan pemain lain di dalam skuad, Spaso dengan tegas mengungkapkan jika barisan wide attacker Serdadu Tridatu menjadi salah satu kunci vital sehingga Bali United berhasil merebut gelar juara Liga 1 kedua kali secara beruntun.

Ada peran besar dari Stefano Lilipaly, Privat Mbarga, M. Rahmat, Irfan Jaya, hingga Yabes Roni Malaifani. Semua pemain ini pernah berkontribusi dan menjadi pahlawan Bali United di laga-laga krusial Serdadu Tridatu musim ini.

“Pola permainan Bali United sangat luar biasa. Ada pemain-pemain cepat. Tapi saya sudah bilang jika rekan-rekan saya di tim pantas menerima gelar ini juga (sepatu emas Liga 1). Ini berkat hasil kerja keras seluruh pemain di lapangan,” imbuh Spaso.

Spaso juga tidak lupa mengomentari pertandingan terakhir menghadapi Persik Kediri. Di pekan ke-33, Bali United banyak mendapat hujatan karena bermain dibawah performa terbaik dan bisa seakan bermain-main saja. Bahkan Persebaya Surabaya dianggap sebagai juara tanpa mahkota setelah menumbangkan Bali United dengan skor telak tiga gol tanpa balas.

Menghadapi Macan Putih, permainan Bali United berbanding terbalik 180 derajat. Tanpa beberapa pemain asing sejak menit pertama, mereka tampil lebih baik dari Persik. Bahkan I Komang Tri Arta Wiguna, I Gede AGus Mahendra, dan Rakasurya tampil apik setelah diberikan kepercayaan oleh Teco.

“Ya waktu lawan Persebaya, mental pasti berbeda karena sebelum pertandingan kami sudah mengetahui menjadi juara. Sedikit terganggu fokus kami dan kurang beruntung. Sekarang berbeda cerita. Kami bermain untuk harga diri dan saya pikir ending yang sempurna untuk musim ini,” tutup Spaso.



Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/