alexametrics
25.4 C
Denpasar
Wednesday, August 10, 2022

Tepis Sindiran Widiade, Bos Yabes: Tak Mudah Main Comot Putra Daerah

DENPASAR – Pekan lalu, CEO Persiba Balikpapan Gede Widiade menyindir halus Manajemen Bali United dengan mengatakan bahwa percuma ada klub di Bali tetapi tidak ada pemain asal Bali didalam tim.

Sindiran tersebut juga menegaskan bahwa GW – akronim panggilannya secara lisan siap bekerjasama dengan Pemkab badung untuk membuat klub profesional setidaknya dari Liga 2 terlebih dulu.

Sindiran ini lantas ditepis oleh CEO Bali United Yabes Tanuri. Yabes sepertinya sudah tahu bahwa GW ingin membangun klub profesional di Bali.

Dia juga mulai melakukan ancang-ancang jika hal tersebut terjadi. Mengenai sindiran GW, Yabes mengatakan bahwa pihaknya sudah berusaha sejak sebelum-sebelumnya untuk merekrut pemain.

Baca Juga:  Mulai Lakukan Uji Coba, Coach Pasek: Ini Ajang Mereka Belajar

Menurutnya, tidak gampang merekrut pemain yang sudah jadi dari klub-klub profesional lainnya. “Kami mencoba berusaha mengembalikan putra daerah ke Bali.

Banyak kok. Ada di Bhayangkara dan di Barito Putra, misalnya. Tapi, kami juga harus melihat pemain tersebut bermain diposisi apa,” terang Yabes kemarin.

Kesulitan utama Manajemen Bali United sulit untuk merekrut pemain lokal adalah para pemain tersebut masih terikat kontrak dengan klub mereka masing-masing.

Seperti contoh di Bhayangkara FC ada I Putu Gede Juniantara yang sudah menjadi anggota kepolisian. Tentu sangat sulit untuk merekrutnya.

Lalu ada Gavin Kwan Adsit di Barito Putra. “Banyak yang mau kami ambil. Tapi, mereka juga masih terikat kontrak disana.

Baca Juga:  Eks Arema Cronus Minta PT. LIB dan PSSI Putar EPA Liga 1 2021

Ada yang diperpanjang kontraknya seperti Gavin dan sebagainya,” terang adik kandung Anggota Exco PSSI Pieter Tanuri tersebut.

Selain itu, faktor utama susahnya merekrut pemain lokal adalah sebagian besar pemain asal Bali berposisi sebagai bek.

Putu Gede dan Gavin adalah salah satu contohnya. Cukup sulit untuk merekrut pemain asal Bali yang benar-benar berkualitas.

“Kalau bisa 60 persen pemain belakang adalah pemain Bali, tetapi kan tidak mungkin. Rata-rata yang ada di Liga 1, posisinya sebagai pemain belakang,” terangnya. 



DENPASAR – Pekan lalu, CEO Persiba Balikpapan Gede Widiade menyindir halus Manajemen Bali United dengan mengatakan bahwa percuma ada klub di Bali tetapi tidak ada pemain asal Bali didalam tim.

Sindiran tersebut juga menegaskan bahwa GW – akronim panggilannya secara lisan siap bekerjasama dengan Pemkab badung untuk membuat klub profesional setidaknya dari Liga 2 terlebih dulu.

Sindiran ini lantas ditepis oleh CEO Bali United Yabes Tanuri. Yabes sepertinya sudah tahu bahwa GW ingin membangun klub profesional di Bali.

Dia juga mulai melakukan ancang-ancang jika hal tersebut terjadi. Mengenai sindiran GW, Yabes mengatakan bahwa pihaknya sudah berusaha sejak sebelum-sebelumnya untuk merekrut pemain.

Baca Juga:  Jelang Kontra Mitra Kukar, Coach Widodo Kenang saat Kontra Coach RD

Menurutnya, tidak gampang merekrut pemain yang sudah jadi dari klub-klub profesional lainnya. “Kami mencoba berusaha mengembalikan putra daerah ke Bali.

Banyak kok. Ada di Bhayangkara dan di Barito Putra, misalnya. Tapi, kami juga harus melihat pemain tersebut bermain diposisi apa,” terang Yabes kemarin.

Kesulitan utama Manajemen Bali United sulit untuk merekrut pemain lokal adalah para pemain tersebut masih terikat kontrak dengan klub mereka masing-masing.

Seperti contoh di Bhayangkara FC ada I Putu Gede Juniantara yang sudah menjadi anggota kepolisian. Tentu sangat sulit untuk merekrutnya.

Lalu ada Gavin Kwan Adsit di Barito Putra. “Banyak yang mau kami ambil. Tapi, mereka juga masih terikat kontrak disana.

Baca Juga:  Boleh Tambah Pemain Asing, Bali United Butuh Gelandang dan Striker

Ada yang diperpanjang kontraknya seperti Gavin dan sebagainya,” terang adik kandung Anggota Exco PSSI Pieter Tanuri tersebut.

Selain itu, faktor utama susahnya merekrut pemain lokal adalah sebagian besar pemain asal Bali berposisi sebagai bek.

Putu Gede dan Gavin adalah salah satu contohnya. Cukup sulit untuk merekrut pemain asal Bali yang benar-benar berkualitas.

“Kalau bisa 60 persen pemain belakang adalah pemain Bali, tetapi kan tidak mungkin. Rata-rata yang ada di Liga 1, posisinya sebagai pemain belakang,” terangnya. 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/