27.6 C
Denpasar
Saturday, February 4, 2023

Teco pun Tak Setuju Format Bubble to Bubble

DENPASAR –Pelatih Bali United, Stefano “Teco” Cugurra, akhirnya  bersuara. Dari pernyataannya, Teco tidak setuju dengan format gelembung untuk melanjutkan Liga 1 musim ini yang belum berakhir tetapi terganjal tragedi Kanjuruhan.

“Saya pikir waktu main dengan sistem bubble, semua tim bisa rugi finansial. Tim harus bayar hotel, makanan, sewa lapangan, sewa bus dan sebagainya. Terus tim bisa bermain jauh dari suporter,” tegasnya.

Di  samping itu, sudah pasti Liga 1 musim ini akan tertunda selama dua bulan. Selama dua bulan ini, ada tujuh pekan yang tertunda. Jika kompetisi dimulai kembali akhir November atau awal Desember, yang jadwal akan semakin padat.

Bisa-bisa dalam satu bulan, masing-masing klub akan memainkan setidaknya enam pertandingan untuk mengejar ketertinggalan jadwal.

Baca Juga:  Nasib Liga 1 Diputuskan Selasa Lusa, Begini Respons Penting Coach Teco

Jelas hal ini bisa merugikan karena menyangkut kebugaran pemain. Disamping itu, pemain bisa rentan cedera. Tapi ditanya soal padatnya jadwal kompetisi, pelatih kelahiran Rio De Janeiro, Brasil tersebut tidak memiliki masalah yang berarti meskipun Teco menilai bermain enam kali dalam sebulan adalah kondisi yang tidak ideal.

Ya, pasti main enam kali dalam satu bulan, tidak ideal. Tapi lebih bagus kami main enam kali dalam sebulan  daripada tidak bermain sama sekali,” tutup pelatih peraih tiga gelar juara Liga 1 tersebut.

Seperti diketahui, masih belum jelasnya kompetisi, jelas membuat waswas semua pihak. Apalagi pihak-pihak yang berhubungan langsung dengan sepak bola seperti pelatih, pemain, hingga klub itu sendiri.

Baca Juga:  Timor Leste Gelar Final Copa FFTL, Indonesia Kapan Bos?

Apalagi sudah satu bulan kompetisi ditunda, bisa saja pemasukan klub berkurang dan sponsor juga mulai mengencangkan ikat pinggang untuk memberikan dan segara.

Pengamat sepak bola Bali I Wayan Sukadana pun ikut berkomentar mengenai hal ini. Ditemui di Jimbaran saat dia sedang menjadi Asisten Instruktur Kursus Kepelatihan Lisensi C AFC kemarin, dihentikannya kompetisi sampai batas waktu yang tidak ditentukan, bisa berpengaruh bukan hanya terkait finansial dan pemain profesional, tetapi pembinaan usia muda juga terganggu.(alit binawan/radar bali)

 



DENPASAR –Pelatih Bali United, Stefano “Teco” Cugurra, akhirnya  bersuara. Dari pernyataannya, Teco tidak setuju dengan format gelembung untuk melanjutkan Liga 1 musim ini yang belum berakhir tetapi terganjal tragedi Kanjuruhan.

“Saya pikir waktu main dengan sistem bubble, semua tim bisa rugi finansial. Tim harus bayar hotel, makanan, sewa lapangan, sewa bus dan sebagainya. Terus tim bisa bermain jauh dari suporter,” tegasnya.

Di  samping itu, sudah pasti Liga 1 musim ini akan tertunda selama dua bulan. Selama dua bulan ini, ada tujuh pekan yang tertunda. Jika kompetisi dimulai kembali akhir November atau awal Desember, yang jadwal akan semakin padat.

Bisa-bisa dalam satu bulan, masing-masing klub akan memainkan setidaknya enam pertandingan untuk mengejar ketertinggalan jadwal.

Baca Juga:  Mutiara Hitam Tekuk Serdadu Tridatu 3- 1

Jelas hal ini bisa merugikan karena menyangkut kebugaran pemain. Disamping itu, pemain bisa rentan cedera. Tapi ditanya soal padatnya jadwal kompetisi, pelatih kelahiran Rio De Janeiro, Brasil tersebut tidak memiliki masalah yang berarti meskipun Teco menilai bermain enam kali dalam sebulan adalah kondisi yang tidak ideal.

Ya, pasti main enam kali dalam satu bulan, tidak ideal. Tapi lebih bagus kami main enam kali dalam sebulan  daripada tidak bermain sama sekali,” tutup pelatih peraih tiga gelar juara Liga 1 tersebut.

Seperti diketahui, masih belum jelasnya kompetisi, jelas membuat waswas semua pihak. Apalagi pihak-pihak yang berhubungan langsung dengan sepak bola seperti pelatih, pemain, hingga klub itu sendiri.

Baca Juga:  Mantap! Debut Lilipaly Berbuah Kemenangan

Apalagi sudah satu bulan kompetisi ditunda, bisa saja pemasukan klub berkurang dan sponsor juga mulai mengencangkan ikat pinggang untuk memberikan dan segara.

Pengamat sepak bola Bali I Wayan Sukadana pun ikut berkomentar mengenai hal ini. Ditemui di Jimbaran saat dia sedang menjadi Asisten Instruktur Kursus Kepelatihan Lisensi C AFC kemarin, dihentikannya kompetisi sampai batas waktu yang tidak ditentukan, bisa berpengaruh bukan hanya terkait finansial dan pemain profesional, tetapi pembinaan usia muda juga terganggu.(alit binawan/radar bali)

 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru