alexametrics
27.6 C
Denpasar
Thursday, August 18, 2022

HOT NEWS! Suporter Kecewa Berat, Bos Pieter Takut Diusir dari Bali

DENPASAR – Liga I musim 2018 segera berakhir. Laga terakhir Bali United bakal bersua Bhayangkara FC di Stadion PTIK, Jakarta, Sabtu (8/12) besok.

Kekecewaan masih tergambar jelas di wajah owner Bali United Pieter Tanuri. Hasil yang diraih Fadil Sausu dkk musim ini jauh dari kata sempurna.

Kecewa makin bertambah setelah menyaksikan ulah supporter pada pertandingan pekan lalu saat Bali United bersua Persija Jakarta.

Suporter menyalakan flare, cerawat, dan kembang api di Stadion Kapten Dipta. Anggota Exco PSSI ini berharap semua pihak termasuk suporter mempertimbangkan dampak yang ditimbulkan saat menyalakan flare di stadion.

“Setiap tindakan, tujuan akhirnya apa? Kalau ada indikasi mafia bermain, laporkan. Dimana-mana, kalau kalah pasti akan salah,” beber Pieter Tanuri.

Baca Juga:  Bungkam Madura United, VDV Bicara Peluang Bali United Juara Liga I

Yang menjadi pertanyaan lainnya adalah, apakah dengan aksi yang dilakukan suporter, dia akan membawa Bali United berpindah kandang keluar Bali?

Untuk masalah ini, Pieter dengan tegas menjawab tidak. Justru sebaliknya, pihaknya yang takut jika pemerintah setempat – cq Pemkab Gianyar mengusir Bali United.

Mengusir dalam arti pemerintah menilai bahwa Manajemen Bali United tidak bisa membuat suasana menjadi kondusif.

“Saya sama sekali tidak ada niat (berpindah markas). Yang saya khawatirkan adalah pemerintah Bali tidak menerima kami lagi,” terangnya.

Baginya, Bali United masih belum memberikan kontribusi yang besar untuk Bali. Tanpa Bali United pun, Bali sudah sangat terkenal.

“Kami hanya nebeng nama Bali saja. Bali ini adalah tujuan nomor satu wisatawan dunia. Jadi kami sama sekali tidak ada niat untuk pindah,” tegasnya.

Baca Juga:  Kesal Venue Grup G AFC Cup Tak Jelas, Begini Kritik Pedas Coach Teco

“Kami ini belum banyak menyumbang untuk Bali. Sumbangannya untuk Bali itu sangat kecil sekali. Jadi kami tidak boleh belagu.

Artinya apa, Bali United adalah keluarga besar mulai dari manajemen, pelatih, pemain, dan suporter. Kalau terus-terusan tidak kondusif,

pemerintahnya yang marah. Nanti nasibnya bisa seperti Persija atau Persib yang sering bermain diluar kandang mereka,” tutur Pieter. 



DENPASAR – Liga I musim 2018 segera berakhir. Laga terakhir Bali United bakal bersua Bhayangkara FC di Stadion PTIK, Jakarta, Sabtu (8/12) besok.

Kekecewaan masih tergambar jelas di wajah owner Bali United Pieter Tanuri. Hasil yang diraih Fadil Sausu dkk musim ini jauh dari kata sempurna.

Kecewa makin bertambah setelah menyaksikan ulah supporter pada pertandingan pekan lalu saat Bali United bersua Persija Jakarta.

Suporter menyalakan flare, cerawat, dan kembang api di Stadion Kapten Dipta. Anggota Exco PSSI ini berharap semua pihak termasuk suporter mempertimbangkan dampak yang ditimbulkan saat menyalakan flare di stadion.

“Setiap tindakan, tujuan akhirnya apa? Kalau ada indikasi mafia bermain, laporkan. Dimana-mana, kalau kalah pasti akan salah,” beber Pieter Tanuri.

Baca Juga:  Coach Darije Kritik Penampilan Spaso, Melvin Bela Mati-matian

Yang menjadi pertanyaan lainnya adalah, apakah dengan aksi yang dilakukan suporter, dia akan membawa Bali United berpindah kandang keluar Bali?

Untuk masalah ini, Pieter dengan tegas menjawab tidak. Justru sebaliknya, pihaknya yang takut jika pemerintah setempat – cq Pemkab Gianyar mengusir Bali United.

Mengusir dalam arti pemerintah menilai bahwa Manajemen Bali United tidak bisa membuat suasana menjadi kondusif.

“Saya sama sekali tidak ada niat (berpindah markas). Yang saya khawatirkan adalah pemerintah Bali tidak menerima kami lagi,” terangnya.

Baginya, Bali United masih belum memberikan kontribusi yang besar untuk Bali. Tanpa Bali United pun, Bali sudah sangat terkenal.

“Kami hanya nebeng nama Bali saja. Bali ini adalah tujuan nomor satu wisatawan dunia. Jadi kami sama sekali tidak ada niat untuk pindah,” tegasnya.

Baca Juga:  Prediksi Bali United vs Mitra Kukar: Jangan Pernah Anggap Remeh Lawan!

“Kami ini belum banyak menyumbang untuk Bali. Sumbangannya untuk Bali itu sangat kecil sekali. Jadi kami tidak boleh belagu.

Artinya apa, Bali United adalah keluarga besar mulai dari manajemen, pelatih, pemain, dan suporter. Kalau terus-terusan tidak kondusif,

pemerintahnya yang marah. Nanti nasibnya bisa seperti Persija atau Persib yang sering bermain diluar kandang mereka,” tutur Pieter. 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/