29.8 C
Denpasar
Saturday, February 4, 2023

Kenangan Manis Rahmat, Gabung Bali United Jadi Tinta Emas di Kariernya

DENPASAR – Di awal-awal era Liga 1, PSM Makassar hampir selalu menjadi juara. Di Liga 1 2017, PSM menjadi peringkat ketiga saat itu karena di pekan ke-33 ketika perburuan gelar juara, mereka kalah tipis 0-1 menghadapi Bali United.

Di Liga 1 2018, giliran Persija Jakarta yang menjadi batu sandungan dan harus puas menjadi runner up setelah berjuang hingga pekan ke-34. Pengalaman yang kurang mengenakkan tersebut dirasakan oleh M. Rahmat. Dia menjadi salah satu legenda hidup Pasukan Ramang – julukan PSM Makassar.

Rahmat cukup lama membela PSM. Sekitar 11 tahun lamanya. Baru di musim 2020, Rahmat akhirnya memilih hengkang dari PSM yang sudah membesarkan namanya. Bali United menjadi pelabuhan karier selanjutnya.

Bersama Bali United tinta emas pun terukir. Akhirnya, dia berhasil meraih gelar juara Liga 1 2021/2022. Gelar yang dalam beberapa musim terakhir, selalu sulit untuk dicapai hingga akhir kompetisi. Sebelum meraih gelar juara Liga 1 bersama Bali United, Rahmat lebih dulu menjadi kampiun Piala Indonesia 2018/2019 bersama PSM Makassar setahun sebelumnya.

Bersama Bali United, dia cepat beradaptasi dengan skema sang arsitek Stefano Teco Cugurra. Pemain asal Takalar, Sulawesi Selatan ini akhirnya membuat gol perdana saat preliminary round 1 Liga Champions Asia 2020 menghadapi wakil Sngapura Tampines Rovers Our Tampines Hub Stadium, Singapura pada 14 Januari 2020.

Baca Juga:  Sah, Yabes Tanuri: Bali United Siap Jadi Host Piala Presiden

Saat itu, Rahmat masuk sebagai pemain pengganti dan akhirnya berhasil mencetak gol. Rahmat yang diwawancarai Rabu kemarin (9/11) di sela-sela jatah libur yang diberikan Teco untuk seluruh pemain mengatakan bahwa dia tidak pernah membayangkan jika dia saat itu bisa menjadi bagian dari Bali United.

“Saya tidak pernah membayangkan kalau saya akan menjadi bagian dari Bali United. Ternyata pilihan saya pada waktu itu tepat karena Bali United, saya akhirnya bisa merasakan gelar juara Liga 1 di Indonesia,” terangnya. Namun sebelum memberikan kisah manis untk Bali United, di Liga 1 2017 dia juga memiliki kisah pilu bersama PSM ketika berhadapan dengan Bali United.

Pada November 2017 di pekan ke-33 Liga 1, M. Rahmat yang masih berseragam PSM menjadi saksi bagaimana laga hidup mati terjadi. Sebelum pertandingan, kedua tim termasuk Bhayangkara FC memiliki poin sama yaitu 62. Meskipun akhirnya Bhayangkara FC yang berhasil menjadi juara.

Harus ada tim yang kalah antara PSM atau Bali United dan akhirnya dimenangkan oleh Bali United dengan skor tipis 0-1 melalui gol Stefano Lilipaly setelah menerima umpan dari Sylvano Comvalius. Setelah itu, kericuhan terjadi di dalam Stadion Andi Mattalatta Matoangin, Makassar.

Baca Juga:  Prediksi Bali United vs PSM: Skuad Pincang, tapi Jangan Lupa Menang!

Suporter PSM ricuh dan melempar benda-benda ke arah para pemain, pelatih, dan ofisial Bali United. Mulai dari botol minuman hingga kursi. “Saya ingat sekali pertandingan itu berjalan dengan intensitas tinggi karena kedua tim membutuhkan poin dan berpeluang sama untuk mengejar gelar juara. Bali United tampil luar biasa saat itu, terutama Mas Wawan (Hendrawan) di sektor penjaga gawang yang sukses mematahkan peluang gol PSM Makassar,” ujar pemain berusia 34 tahun itu.

“Laga pada waktu itu memang diwarnai perseteruan di lapangan. Termasuk pertengkaran Lilipaly dengan Comvalius. Namun ternyata kedua pemain tersebut sukses mencetak gol kemenangan untuk Bali United di penghujung babak kedua dan menjadi petaka bagi kami tim tuan rumah. Selain menutup peluang gelar juara, kekalahan di kandang sangat menyakitkan bagi kami pada waktu itu,” tutup pemilik nomor punggung 91 tersebut. (lit/rid)

 



DENPASAR – Di awal-awal era Liga 1, PSM Makassar hampir selalu menjadi juara. Di Liga 1 2017, PSM menjadi peringkat ketiga saat itu karena di pekan ke-33 ketika perburuan gelar juara, mereka kalah tipis 0-1 menghadapi Bali United.

Di Liga 1 2018, giliran Persija Jakarta yang menjadi batu sandungan dan harus puas menjadi runner up setelah berjuang hingga pekan ke-34. Pengalaman yang kurang mengenakkan tersebut dirasakan oleh M. Rahmat. Dia menjadi salah satu legenda hidup Pasukan Ramang – julukan PSM Makassar.

Rahmat cukup lama membela PSM. Sekitar 11 tahun lamanya. Baru di musim 2020, Rahmat akhirnya memilih hengkang dari PSM yang sudah membesarkan namanya. Bali United menjadi pelabuhan karier selanjutnya.

Bersama Bali United tinta emas pun terukir. Akhirnya, dia berhasil meraih gelar juara Liga 1 2021/2022. Gelar yang dalam beberapa musim terakhir, selalu sulit untuk dicapai hingga akhir kompetisi. Sebelum meraih gelar juara Liga 1 bersama Bali United, Rahmat lebih dulu menjadi kampiun Piala Indonesia 2018/2019 bersama PSM Makassar setahun sebelumnya.

Bersama Bali United, dia cepat beradaptasi dengan skema sang arsitek Stefano Teco Cugurra. Pemain asal Takalar, Sulawesi Selatan ini akhirnya membuat gol perdana saat preliminary round 1 Liga Champions Asia 2020 menghadapi wakil Sngapura Tampines Rovers Our Tampines Hub Stadium, Singapura pada 14 Januari 2020.

Baca Juga:  Prediksi Bali United vs PSM: Skuad Pincang, tapi Jangan Lupa Menang!

Saat itu, Rahmat masuk sebagai pemain pengganti dan akhirnya berhasil mencetak gol. Rahmat yang diwawancarai Rabu kemarin (9/11) di sela-sela jatah libur yang diberikan Teco untuk seluruh pemain mengatakan bahwa dia tidak pernah membayangkan jika dia saat itu bisa menjadi bagian dari Bali United.

“Saya tidak pernah membayangkan kalau saya akan menjadi bagian dari Bali United. Ternyata pilihan saya pada waktu itu tepat karena Bali United, saya akhirnya bisa merasakan gelar juara Liga 1 di Indonesia,” terangnya. Namun sebelum memberikan kisah manis untk Bali United, di Liga 1 2017 dia juga memiliki kisah pilu bersama PSM ketika berhadapan dengan Bali United.

Pada November 2017 di pekan ke-33 Liga 1, M. Rahmat yang masih berseragam PSM menjadi saksi bagaimana laga hidup mati terjadi. Sebelum pertandingan, kedua tim termasuk Bhayangkara FC memiliki poin sama yaitu 62. Meskipun akhirnya Bhayangkara FC yang berhasil menjadi juara.

Harus ada tim yang kalah antara PSM atau Bali United dan akhirnya dimenangkan oleh Bali United dengan skor tipis 0-1 melalui gol Stefano Lilipaly setelah menerima umpan dari Sylvano Comvalius. Setelah itu, kericuhan terjadi di dalam Stadion Andi Mattalatta Matoangin, Makassar.

Baca Juga:  Minta Skuad Fokus, Demerson Costa: Filosofi Bali United Adalah Menang

Suporter PSM ricuh dan melempar benda-benda ke arah para pemain, pelatih, dan ofisial Bali United. Mulai dari botol minuman hingga kursi. “Saya ingat sekali pertandingan itu berjalan dengan intensitas tinggi karena kedua tim membutuhkan poin dan berpeluang sama untuk mengejar gelar juara. Bali United tampil luar biasa saat itu, terutama Mas Wawan (Hendrawan) di sektor penjaga gawang yang sukses mematahkan peluang gol PSM Makassar,” ujar pemain berusia 34 tahun itu.

“Laga pada waktu itu memang diwarnai perseteruan di lapangan. Termasuk pertengkaran Lilipaly dengan Comvalius. Namun ternyata kedua pemain tersebut sukses mencetak gol kemenangan untuk Bali United di penghujung babak kedua dan menjadi petaka bagi kami tim tuan rumah. Selain menutup peluang gelar juara, kekalahan di kandang sangat menyakitkan bagi kami pada waktu itu,” tutup pemilik nomor punggung 91 tersebut. (lit/rid)

 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru