alexametrics
25.4 C
Denpasar
Tuesday, August 9, 2022

UPDATE! Jerinx SID Ungkap Kekesalannya dengan Manajemen BU. Ternyata..

DENPASAR – Teka teki kekesalan Drummer Band Superman Is Dead (SID), Gede Ari Astina atau dikenal JRX dengan manajemen Bali United  akhirnya terjawab.

Ternyata, kekesalan JRX  tidak hanya karena dipicu persoalan dengan pihak manajemen klub bola yang telah mengantarkan timnya menjadi juara liga 1 Indonesia tahun 2019 karena mengundang Via Vallen sebagai guest star saja. Tetapi juga karena persoalan lain.

Usut punya usut, kekesalan JRX punya dasar. Kekesalan JRX itu tak lepas dari  pihak manajemen Bali United yang diduga anti terhadap gerakan BTR (Bali Tolak Reklamasi).

Sebuah gerakan lingkungan untuk menyelamatkan Teluk Benoa dari ancaman investor rakus.

“Heran sama orang yang galak banget kalau bicara bola, seolah sudah siap mati demi (investor) bola. Tapi giliran rumahnya dijajah di depan mata, mendadak punya jutaan alasan tak ikut ,e;awan turun ke jalan (padahal gratis gak paket tiket),” tulis JRX.

Baca Juga:  Peluang Diturunkan Kontra Melbourne, Respons Spaso Bikin Tersenyum

“Gak bisa imbang gitu porsi cinta bola sama cinta leluhur? Atau demo Bali Tolak Reklamasi 13 Desember ini harus ditiketkan biar rame?,” sambungnya.

Diketahui memang, Forum Rakyat Bali Tolak Reklamasi (ForBALI) akan turun ke jalan pada Jumat (13/12) jam 14.00. Aksi yang sejak 6 tahun lalu ini digelar, mengambil titik kumpul di parkir Timur Lapangan Niti Mandala, Renon, Denpasar nantinya.

Aksi kali ini sebagai aksi tutup tahun 2019 dengan tuntutan kepada komisi IV DPR RI agar menerbitkan rekomendasi pengukuhan teluk benoa sebagai kawasan konservasi maritime dan menuntut Presiden Joko Widodo untuk menerbitkan Perpres Konservasi Teluk Benoa.

Kembali ke JRX, lalu apa kaitan sepak bola dengan gerakan BTR? Menurut pria asal Gianyar ini, intinya tim sepak bola manapun dari Jawa sampai luar Jawa tidak pernah pihak panpel memberi izin untuk membentangkan banner yang berisikan perlawanan kepada kaum elite dan juga fanatic supporter yang masih kolot.

Baca Juga:  Istirahatkan Pluim, Coach Darije Puji Kualitas Pemain Bali United

Mereka selalu bilang “jangan campur sepak bola kami dengan politik” tanpa mereka sadari sepak bola di Indonesia itu dikuasai  oleh elite – elite poltik dan dijadikan ladan bisnis oleh investor-investor. Kecuali pas salah satu supoter bukin  tagar #saveviavallen  dibawa masuk ke stadion.

Kalau gossip boleh, supaya ratting naik, supporter saling caci maki dan mereka kaum elite pun senang karena judi lancar. Tapi kalau Bali Tolak Reklamasi atau Tolak Tambang Emas Tumpang Pitu dibawa ke Stadion, PSSI sudah siap-siap bikin denda ke supporter dengan alasan bawa-bawa poltik di dalam bola.

Padahal mereka-mereka mah kotor, takut bobroknya ketauan dan supoter bisa bikin cerdas. Oh iya, yang jadi investor BTR, Tambang Emas BWI, mereka juga punya saham di beberapa club bola. #Ayojadisuportercerdas supaya mereka kalap dan juga tanah kita Indonesia nggak rusak oleh mereka.



DENPASAR – Teka teki kekesalan Drummer Band Superman Is Dead (SID), Gede Ari Astina atau dikenal JRX dengan manajemen Bali United  akhirnya terjawab.

Ternyata, kekesalan JRX  tidak hanya karena dipicu persoalan dengan pihak manajemen klub bola yang telah mengantarkan timnya menjadi juara liga 1 Indonesia tahun 2019 karena mengundang Via Vallen sebagai guest star saja. Tetapi juga karena persoalan lain.

Usut punya usut, kekesalan JRX punya dasar. Kekesalan JRX itu tak lepas dari  pihak manajemen Bali United yang diduga anti terhadap gerakan BTR (Bali Tolak Reklamasi).

Sebuah gerakan lingkungan untuk menyelamatkan Teluk Benoa dari ancaman investor rakus.

“Heran sama orang yang galak banget kalau bicara bola, seolah sudah siap mati demi (investor) bola. Tapi giliran rumahnya dijajah di depan mata, mendadak punya jutaan alasan tak ikut ,e;awan turun ke jalan (padahal gratis gak paket tiket),” tulis JRX.

Baca Juga:  Ini Kunci Sukses Serdadu Tridatu Redam Laskar Wong Kito

“Gak bisa imbang gitu porsi cinta bola sama cinta leluhur? Atau demo Bali Tolak Reklamasi 13 Desember ini harus ditiketkan biar rame?,” sambungnya.

Diketahui memang, Forum Rakyat Bali Tolak Reklamasi (ForBALI) akan turun ke jalan pada Jumat (13/12) jam 14.00. Aksi yang sejak 6 tahun lalu ini digelar, mengambil titik kumpul di parkir Timur Lapangan Niti Mandala, Renon, Denpasar nantinya.

Aksi kali ini sebagai aksi tutup tahun 2019 dengan tuntutan kepada komisi IV DPR RI agar menerbitkan rekomendasi pengukuhan teluk benoa sebagai kawasan konservasi maritime dan menuntut Presiden Joko Widodo untuk menerbitkan Perpres Konservasi Teluk Benoa.

Kembali ke JRX, lalu apa kaitan sepak bola dengan gerakan BTR? Menurut pria asal Gianyar ini, intinya tim sepak bola manapun dari Jawa sampai luar Jawa tidak pernah pihak panpel memberi izin untuk membentangkan banner yang berisikan perlawanan kepada kaum elite dan juga fanatic supporter yang masih kolot.

Baca Juga:  Dilepas Bali United, Samsul Pellu Jajal Keberuntungan di PSM Makassar

Mereka selalu bilang “jangan campur sepak bola kami dengan politik” tanpa mereka sadari sepak bola di Indonesia itu dikuasai  oleh elite – elite poltik dan dijadikan ladan bisnis oleh investor-investor. Kecuali pas salah satu supoter bukin  tagar #saveviavallen  dibawa masuk ke stadion.

Kalau gossip boleh, supaya ratting naik, supporter saling caci maki dan mereka kaum elite pun senang karena judi lancar. Tapi kalau Bali Tolak Reklamasi atau Tolak Tambang Emas Tumpang Pitu dibawa ke Stadion, PSSI sudah siap-siap bikin denda ke supporter dengan alasan bawa-bawa poltik di dalam bola.

Padahal mereka-mereka mah kotor, takut bobroknya ketauan dan supoter bisa bikin cerdas. Oh iya, yang jadi investor BTR, Tambang Emas BWI, mereka juga punya saham di beberapa club bola. #Ayojadisuportercerdas supaya mereka kalap dan juga tanah kita Indonesia nggak rusak oleh mereka.


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/