alexametrics
26.7 C
Denpasar
Friday, August 12, 2022

Gaji Dipotong 75 Persen, Leo Tunggu Mediasi Antara APPI dengan PSSI

DENPASAR – Semua orang tanpa terkecuali, tentu berdoa agar pagebluk Covid-19 ini cepat usai. Semua orang memiliki harapan

yang sama agar virus ini segera lenyap dan aktifitas kembali seperti semula karena banyak sektor yang terkena dampak.

Banyak orang yang di rumahkan, banyak juga yang mendapat pemotongan gaji dari perusahaan tempat mereka bekerja.

Hal ini juga berdampak pada pesepak bola. Pemotongannya sebesar 75 persen, tentu pesepak bola tersebut harus pintar-pintar mengatur keuangan.

Tapi, mereka adalah pesepak bola yang memiliki nilai kontrak diatas rata-rata para pekerja lainnya.

Hanya mendapat gaji sebesar 25 persen dari nilai kontrak, dirasa oleh sebagian pihak masih cukup untuk menghidupi keluarga mereka.

Pemotongan nilai kontrak ini sudah dirasakan pemain, khususnya pemain Bali United sejak bulan lalu. Nah masalahnya, bulan lalu semua tim termasuk Bali United masih bermain dan berlatih.

Baca Juga:  Jadi Sasaran Kritik Suporter, Spaso Janji Benahi Gaya Bermain

Bali United saja melakoni empat pertandingan dalam rentang waktu 15 hari sebelum akhirnya liga dihentikan.

Sebenarnya bukan dihentikan, tetapi memang libur karena dijadwal awal, ada jeda dua pekan karena FIFA matchday.

Keputusan sebagian besar klub termasuk Serdadu Tridatu yang mulai memotong nilai kontrak sesuai SK dari PSSI inilah yang melecut perdebatan.

Yang paling frontal tentu Asosiasi Pesepak Bola Profesional (APPI). FIFPro sebagai induk organisasi dari APPI pun menyoroti apa yang dilakukan PSSI dan klub Liga 1 dan Liga 2 2020.

APPI pun berencana untuk menggugat klub jika tidak bisa membayar penuh nilai kontrak pemain pada bulan Maret.

Menyikapi hal ini, pemain senior Serdadu Tridatu Leonard Tupamahu angkat bicara. Dia mengatakan jika APPI adalah wadah pesepak bola profesional untuk berkeluh kesah.

Baca Juga:  Tumbang di Malang, Bali United Dihukum Karena Lengah di Menit Akhir

“Pada dasarnya, APPI itu wadah asosiasi pemain. Saya bersyukur dengan adanya APPI ini, kami bisa menyampaikan keluh kesah kami.

Mereka membantu kami sebagai pemain di Liga 1 dan Liga 2 yang sudah bekerja penuh di bulan Maret untuk memperoleh haknya secara penuh,” bebernya.

“Hanya saja saat ini, kami masih menunggu keputusan APPI yang sedang berkoordinasi dengan pihak PSSI.

Saya berharap ada keputusan yang terbaik untuk para pemain,” tambah mantan pemain Persija Jakarta tersebut.



DENPASAR – Semua orang tanpa terkecuali, tentu berdoa agar pagebluk Covid-19 ini cepat usai. Semua orang memiliki harapan

yang sama agar virus ini segera lenyap dan aktifitas kembali seperti semula karena banyak sektor yang terkena dampak.

Banyak orang yang di rumahkan, banyak juga yang mendapat pemotongan gaji dari perusahaan tempat mereka bekerja.

Hal ini juga berdampak pada pesepak bola. Pemotongannya sebesar 75 persen, tentu pesepak bola tersebut harus pintar-pintar mengatur keuangan.

Tapi, mereka adalah pesepak bola yang memiliki nilai kontrak diatas rata-rata para pekerja lainnya.

Hanya mendapat gaji sebesar 25 persen dari nilai kontrak, dirasa oleh sebagian pihak masih cukup untuk menghidupi keluarga mereka.

Pemotongan nilai kontrak ini sudah dirasakan pemain, khususnya pemain Bali United sejak bulan lalu. Nah masalahnya, bulan lalu semua tim termasuk Bali United masih bermain dan berlatih.

Baca Juga:  Regulasi EPA Liga 1 2021 Berubah, Coach Pasek Wijaya Putar Otak

Bali United saja melakoni empat pertandingan dalam rentang waktu 15 hari sebelum akhirnya liga dihentikan.

Sebenarnya bukan dihentikan, tetapi memang libur karena dijadwal awal, ada jeda dua pekan karena FIFA matchday.

Keputusan sebagian besar klub termasuk Serdadu Tridatu yang mulai memotong nilai kontrak sesuai SK dari PSSI inilah yang melecut perdebatan.

Yang paling frontal tentu Asosiasi Pesepak Bola Profesional (APPI). FIFPro sebagai induk organisasi dari APPI pun menyoroti apa yang dilakukan PSSI dan klub Liga 1 dan Liga 2 2020.

APPI pun berencana untuk menggugat klub jika tidak bisa membayar penuh nilai kontrak pemain pada bulan Maret.

Menyikapi hal ini, pemain senior Serdadu Tridatu Leonard Tupamahu angkat bicara. Dia mengatakan jika APPI adalah wadah pesepak bola profesional untuk berkeluh kesah.

Baca Juga:  Prediksi Bali United vs Persipura: Wajib Menang, Pressing Ketat Lawan

“Pada dasarnya, APPI itu wadah asosiasi pemain. Saya bersyukur dengan adanya APPI ini, kami bisa menyampaikan keluh kesah kami.

Mereka membantu kami sebagai pemain di Liga 1 dan Liga 2 yang sudah bekerja penuh di bulan Maret untuk memperoleh haknya secara penuh,” bebernya.

“Hanya saja saat ini, kami masih menunggu keputusan APPI yang sedang berkoordinasi dengan pihak PSSI.

Saya berharap ada keputusan yang terbaik untuk para pemain,” tambah mantan pemain Persija Jakarta tersebut.


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/