alexametrics
26.5 C
Denpasar
Saturday, August 13, 2022

Masuk Bursa, Bali United Susul Jejak Raksasa Cina Guangzhou Evergrande

GIANYAR – Tepat saat pertandingan kontra Persija Jakarta di leg pertama babak delapan besar Piala Indonesia 2018 di Stadion Kapten I Wayan Dipta, kemarin (26/4),

Manajemen Bali United memperkenalkan kepada publik saham mereka yang akan dilepas di lantai bursa sebanyak 33,33 persen.

Jika ditotal, Bali United akan menawarkan sahamnya sebanyak dua miliar lembar saham dengan harga Rp 155 – Rp 175 per saham.

Seandainya Bali United berhasil menjual seluruh sahamnya yang dilempar ke publik, maka Serdadu Tridatu akan mendapatkan dana segar kurang lebih sebesar Rp 310 miliar.

PT Bali Bintang Sejahtera Tbk (Persero) menunjuk PT Buana Capital Sekuritas dan PT Kresna Sekuritas sebagai penjamin pelaksana emisi efek dalam initial public offering (IPO) kali ini.

Baca Juga:  Dua Kali Tumbang, Bali United Angkat Koper dari Trofeo HB X

Yang menarik adalah Bali United menjadi klub pertama di Asia Tenggara yang melakukan IPO dan yang kedua di Asia setelah klub raksasa Tiongkok Guangzhou Evergrande.

Lalu apakah bisnis seperti ini sangat menjanjikan untuk Bali United dan para investor ditengah belum stabilnya perekonomian Indonesia dan masih carut marutnya sepakbola Tanah Air?

Lalu apakah Bali United bisa disebut sebagai bench mark industri sepakbola Indonesia? “Mungkin kami menjadi trend setter agar klub lainnya bisa terinspirasi dari kami sehingga bisa go public.

Kami melihat industri sepakbola tidak pernah mati. Lihat bagaimana ada sebuah klub bisa berdiri sampai lebih dari 100 tahun. Jadi saya pikir industri sepakbola bisa menjadi investasi yang sangat baik,” kata CEO Bali United Yabes Tanuri.

Baca Juga:  Teco Mendadak Minta Dias, Fadil & Taufiq Fokus Jadi Pemain Bali United

Dengan melakukan IPO jelas fokus utama Manajemen Bali United adalah pendapatan dari sponsor yang bisa lebih meningkat disamping dari pendapatan tiket penjualan per pertandingan termasuk transfer pemain yang akan terkatrol.

“Fokus utama kami yang paling dikejar tentu saja dari sponsor dan yang terpenting kami mencoba untuk mengembangkan anak-anak perusahaan kami,” tutur Yabes.



GIANYAR – Tepat saat pertandingan kontra Persija Jakarta di leg pertama babak delapan besar Piala Indonesia 2018 di Stadion Kapten I Wayan Dipta, kemarin (26/4),

Manajemen Bali United memperkenalkan kepada publik saham mereka yang akan dilepas di lantai bursa sebanyak 33,33 persen.

Jika ditotal, Bali United akan menawarkan sahamnya sebanyak dua miliar lembar saham dengan harga Rp 155 – Rp 175 per saham.

Seandainya Bali United berhasil menjual seluruh sahamnya yang dilempar ke publik, maka Serdadu Tridatu akan mendapatkan dana segar kurang lebih sebesar Rp 310 miliar.

PT Bali Bintang Sejahtera Tbk (Persero) menunjuk PT Buana Capital Sekuritas dan PT Kresna Sekuritas sebagai penjamin pelaksana emisi efek dalam initial public offering (IPO) kali ini.

Baca Juga:  Venue Grup G AFC Cup, PSSI Serahkan Bali United

Yang menarik adalah Bali United menjadi klub pertama di Asia Tenggara yang melakukan IPO dan yang kedua di Asia setelah klub raksasa Tiongkok Guangzhou Evergrande.

Lalu apakah bisnis seperti ini sangat menjanjikan untuk Bali United dan para investor ditengah belum stabilnya perekonomian Indonesia dan masih carut marutnya sepakbola Tanah Air?

Lalu apakah Bali United bisa disebut sebagai bench mark industri sepakbola Indonesia? “Mungkin kami menjadi trend setter agar klub lainnya bisa terinspirasi dari kami sehingga bisa go public.

Kami melihat industri sepakbola tidak pernah mati. Lihat bagaimana ada sebuah klub bisa berdiri sampai lebih dari 100 tahun. Jadi saya pikir industri sepakbola bisa menjadi investasi yang sangat baik,” kata CEO Bali United Yabes Tanuri.

Baca Juga:  Arungi Piala Menpora 2021, Skuad Serdadu Tridatu Disuntik Vaksin Covid

Dengan melakukan IPO jelas fokus utama Manajemen Bali United adalah pendapatan dari sponsor yang bisa lebih meningkat disamping dari pendapatan tiket penjualan per pertandingan termasuk transfer pemain yang akan terkatrol.

“Fokus utama kami yang paling dikejar tentu saja dari sponsor dan yang terpenting kami mencoba untuk mengembangkan anak-anak perusahaan kami,” tutur Yabes.


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/