alexametrics
27.9 C
Denpasar
Friday, August 12, 2022

Kata PSSI, Training Ground Bali United Tak Masuk Daftar Tempat Latihan

DENPASAR – Coba Semeton bayangkan bagaimana jadinya Lapangan Kapten Japa atau Stadion Kompyang Sujana menjadi tempat latihan bagi Timnas Spanyol U-20 yang dihuni oleh penyerang FC Barcelona Ansu Fati?

Atau Timnas Jepang yang dihuni oleh pemain Real Madrid berusia 18 tahun, Tafekuso Kubo? Tentu menjadi kebanggan tersendiri untuk lapangan tersebut.

Terutama untuk masyarakat sekitar. Namun, masalahnya sekarang, belum ada kejelasan lapangan mana saja yang menjadi lapangan penunjang di Stadion Kapten I Wayan Dipta di Piala Dunia U-20 tahun depan.

Dari regulasi, ada lima lapangan penunjang yang wajib dimiliki. Empat untuk lapangan latihan tim dan satu lapangan untuk wasit.

Hal teknis mengenai revitalisasi lapangan dan stadion masih belum jelas sampai sekarang. Terlebih pemilihan lapangan yang tiba-tiba sudah dilakukan tanpa sepengetahuan oleh Asprov PSSI Bali.

Baca Juga:  Performa Duet Striker Bali United Moncer, Ternyata Ini Penyebabnya…

Hal ini diungkap Ketua Departemen Sepak Bola Asprov PSSI Bali Nasser Fakhhry Attamimy. Saat diwawancarai kemarin, dia mengaku lapangan mana saja yang menjadi lapangan penunjang masih belum pasti.

Namun, dia mengatakan ada lima lapangan yang sudah ditetapkan yaitu Lapangan Gelora Samudera Kuta, Lapangan Gelora Tri Sakti Legian, Lapangan Kapten Japa, Stadion Ngurah Rai, dan Stadion Kompyang Sujana.

“Awalnya ada banyak. Lapangan di Payangan sampai Bangli masuk dalam list. Setelah itu dikerucutkan dengan memasukkan training ground milik Bali United di Pantai Purnama,

Lapangan Yoga Perkanthi Jimbaran, dan Lapangan Made Pica di Sanur. Yang Pantai Purnama dan Yoga Perkanthi akhirnya tidak masuk

Baca Juga:  Andritany Blunder, Bali United Sukses Bungkam Persija Jakarta

karena dari awal tidak ada nama dua lapangan tersebut. Akhirnya di Kementerian PUPR hanya ada lima lapangan saja,” ucapnya.

Mengenai Lapangan Made Pica, menurut Nasser tidak masuk karena berdekatan dengan saluran udara tegangan ekstra tinggi (SUTET).

Sebenarnya Lapangan Kapten Japa masih dikategorikan kurang layak dan perlu revitalisasi paling besar diantara lapangan lain.

Selain dikelilingi oleh pemukiman dengan bangunan semi permanen, kondisi lapangan juga sangat minimalis. Hanya terdapat lapangan dan dua gawang saja. 



DENPASAR – Coba Semeton bayangkan bagaimana jadinya Lapangan Kapten Japa atau Stadion Kompyang Sujana menjadi tempat latihan bagi Timnas Spanyol U-20 yang dihuni oleh penyerang FC Barcelona Ansu Fati?

Atau Timnas Jepang yang dihuni oleh pemain Real Madrid berusia 18 tahun, Tafekuso Kubo? Tentu menjadi kebanggan tersendiri untuk lapangan tersebut.

Terutama untuk masyarakat sekitar. Namun, masalahnya sekarang, belum ada kejelasan lapangan mana saja yang menjadi lapangan penunjang di Stadion Kapten I Wayan Dipta di Piala Dunia U-20 tahun depan.

Dari regulasi, ada lima lapangan penunjang yang wajib dimiliki. Empat untuk lapangan latihan tim dan satu lapangan untuk wasit.

Hal teknis mengenai revitalisasi lapangan dan stadion masih belum jelas sampai sekarang. Terlebih pemilihan lapangan yang tiba-tiba sudah dilakukan tanpa sepengetahuan oleh Asprov PSSI Bali.

Baca Juga:  Bersua Dua Mantan Klub di Eerste Divisie, Melvin Platje Nervous?

Hal ini diungkap Ketua Departemen Sepak Bola Asprov PSSI Bali Nasser Fakhhry Attamimy. Saat diwawancarai kemarin, dia mengaku lapangan mana saja yang menjadi lapangan penunjang masih belum pasti.

Namun, dia mengatakan ada lima lapangan yang sudah ditetapkan yaitu Lapangan Gelora Samudera Kuta, Lapangan Gelora Tri Sakti Legian, Lapangan Kapten Japa, Stadion Ngurah Rai, dan Stadion Kompyang Sujana.

“Awalnya ada banyak. Lapangan di Payangan sampai Bangli masuk dalam list. Setelah itu dikerucutkan dengan memasukkan training ground milik Bali United di Pantai Purnama,

Lapangan Yoga Perkanthi Jimbaran, dan Lapangan Made Pica di Sanur. Yang Pantai Purnama dan Yoga Perkanthi akhirnya tidak masuk

Baca Juga:  6 Pemain Dipanggil Timnas, Untung Luis Milla Beri Dispensasi

karena dari awal tidak ada nama dua lapangan tersebut. Akhirnya di Kementerian PUPR hanya ada lima lapangan saja,” ucapnya.

Mengenai Lapangan Made Pica, menurut Nasser tidak masuk karena berdekatan dengan saluran udara tegangan ekstra tinggi (SUTET).

Sebenarnya Lapangan Kapten Japa masih dikategorikan kurang layak dan perlu revitalisasi paling besar diantara lapangan lain.

Selain dikelilingi oleh pemukiman dengan bangunan semi permanen, kondisi lapangan juga sangat minimalis. Hanya terdapat lapangan dan dua gawang saja. 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/