Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Nah! Ada Cerita "Horor" di Balik Layar SEA Games 2025: Atlet Bali Finis Keempat di Tengah Keterbatasan Alat

I Wayan Widyantara • Jumat, 19 Desember 2025 | 17:00 WIB
GAGAL SABET MEDALI : Atlet layar asal Bali, I Wayan Wiratnatha Meranggi (belakang)seusai bertanding. (Foto Porlasi Bali untuk Radar Bali
GAGAL SABET MEDALI : Atlet layar asal Bali, I Wayan Wiratnatha Meranggi (belakang)seusai bertanding. (Foto Porlasi Bali untuk Radar Bali

RadarBali.id – Perjuangan atlet layar kebanggaan Bali, I Wayan Wiratnatha Meranggi, di ajang SEA Games 2025 Thailand menyisakan kisah dramatis. Meski harus puas menempati posisi keempat pada nomor Kite Foil, Meranggi dan tim Indonesia berhasil melewati berbagai rintangan, mulai dari hotel "horor" hingga keterbatasan alat.

Pelatih Layar Indonesia sekaligus Ketua PORLASI Bali, I Made Astika Oye Wahyudi, mengungkapkan keterkejutannya saat tiba di Thailand. Tim Indonesia ditempatkan di sebuah hotel yang tampak seperti bangunan tak berpenghuni sejak pandemi Covid-19. "Kesan pertama lumayan kaget, gedungnya seperti sudah lama kosong. Atmosfernya berbeda jauh dengan kejuaraan dunia lainnya," ujar Astika, Kamis (18/12/2025).

Di arena lomba, tantangan tak kalah berat. Angin di perairan Thailand sangat tricky dengan kecepatan yang berubah drastis dari 5 hingga 18 knot.

Namun, yang paling menegangkan adalah saat tim harus mengganti alat di tengah laut akibat keterbatasan sarana.

"Momen paling panik itu saat angin di bawah 13 knot. Kami harus set-up kite ukuran 21 meter di floating jetty tengah laut. Alat kita terbatas, jadi harus bongkar pasang di sana," tambahnya.

Meski pulang tanpa medali, Astika menekankan bahwa tim Indonesia membawa pulang ilmu berharga setelah berhadapan dengan juara dunia seperti Max Maeder dari Singapura. Menariknya, Astika ternyata memiliki hubungan personal dengan keluarga sang juara dunia; ia pernah mengajar adik Max berselancar di Sanur, dan orang tua Max bahkan menyumbangkan alat bekas pakai untuk mendukung tim Indonesia berlaga di SEA Games kali ini.

"Kami pulang membawa ilmu. Ini adalah langkah pertama untuk pertarungan harga diri bangsa di level internasional selanjutnya," tegasnya.[*]

Editor : Hari Puspita
#atlet layar #porlasi #atlet bali #SEA Games Bangkok