RadarBali.id – Perjuangan atlet layar kebanggaan Bali, I Wayan Wiratnatha Meranggi, di ajang SEA Games 2025 Thailand menyisakan kisah dramatis. Meski harus puas menempati posisi keempat pada nomor Kite Foil, Meranggi dan tim Indonesia berhasil melewati berbagai rintangan, mulai dari hotel "horor" hingga keterbatasan alat.
Pelatih Layar Indonesia sekaligus Ketua PORLASI Bali, I Made Astika Oye Wahyudi, mengungkapkan keterkejutannya saat tiba di Thailand. Tim Indonesia ditempatkan di sebuah hotel yang tampak seperti bangunan tak berpenghuni sejak pandemi Covid-19. "Kesan pertama lumayan kaget, gedungnya seperti sudah lama kosong. Atmosfernya berbeda jauh dengan kejuaraan dunia lainnya," ujar Astika, Kamis (18/12/2025).
Di arena lomba, tantangan tak kalah berat. Angin di perairan Thailand sangat tricky dengan kecepatan yang berubah drastis dari 5 hingga 18 knot.
Namun, yang paling menegangkan adalah saat tim harus mengganti alat di tengah laut akibat keterbatasan sarana.
"Momen paling panik itu saat angin di bawah 13 knot. Kami harus set-up kite ukuran 21 meter di floating jetty tengah laut. Alat kita terbatas, jadi harus bongkar pasang di sana," tambahnya.
Meski pulang tanpa medali, Astika menekankan bahwa tim Indonesia membawa pulang ilmu berharga setelah berhadapan dengan juara dunia seperti Max Maeder dari Singapura. Menariknya, Astika ternyata memiliki hubungan personal dengan keluarga sang juara dunia; ia pernah mengajar adik Max berselancar di Sanur, dan orang tua Max bahkan menyumbangkan alat bekas pakai untuk mendukung tim Indonesia berlaga di SEA Games kali ini.
"Kami pulang membawa ilmu. Ini adalah langkah pertama untuk pertarungan harga diri bangsa di level internasional selanjutnya," tegasnya.[*]
Editor : Hari Puspita