Nestapa 21 Keluarga di Tabanan Usai Diterjang Puting Beliung di Masa Pencaroba

Bulan April 2026 ini secara kalender sudah memasuki bulan kemarau. Atau masa pancaroba, peralihan menuju musim kemarau. Namun, cuaca ekstrem masih terjadi. Termasuk angin ngelinus, atau angin puting beliung yang memporakporandakan atap rumah warga Desa Sesandan, Desa Buahan, dan Desa Tegaljadi, Tabanan.
HARI itu, Selasa (7/4/2026) sore itu, langit Tabanan mendadak pekat. Angin ngelinus atau puting beliung datang tanpa permulaan yang lama, menyapu apa pun yang dilewatinya.
Kini, setelah badai berlalu, yang tersisa hanyalah puing-puing atap dan duka yang mendalam bagi puluhan kepala keluarga di tiga desa berbeda.
Berdasarkan data terbaru dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tabanan, dampak terjangan angin puyuh ini ternyata jauh lebih luas dari perkiraan awal. Sebanyak 21 rumah warga dilaporkan mengalami kerusakan, tersebar di Desa Sesandan, Desa Buahan, dan Desa Tegaljadi.
Jejak Kerusakan di Tiga Desa
Di Banjar Dinas Sandan Dangin Yeh, Desa Sesandan, delapan rumah warga luluh lantak pada bagian atap. Beberapa di antaranya bahkan tertimpa pohon besar yang tumbang akibat kuatnya embusan angin.
Tak jauh dari sana, di Desa Buahan, dua rumah warga juga mengalami nasib serupa. Tak hanya bangunan, alam pun ikut "menangis"; hamparan tanaman jagung seluas 28 are milik I Wayan Muliada rata dengan tanah. Harapan untuk panen dalam waktu dekat kini sirna seketika.
Dampak paling masif justru dilaporkan dari Kecamatan Marga. Di Desa Tegaljadi, tepatnya di Banjar Dinas Pengembungan dan Banjar Dinas Adeng, total ada 11 rumah warga yang terdampak. Kerusakan didominasi pada bagian atap dan garase, memaksa pemilik rumah untuk menutupinya seadanya dengan terpal.
Bahu-membahu di Tengah Puing
Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Tabanan, I Putu Trisna Widiatmika, memastikan timnya telah turun ke lapangan untuk melakukan penanganan darurat. Fokus utama saat ini adalah mengevakuasi pohon yang menimpa rumah warga serta melakukan asesmen kerugian.



