TABANAN-Memupuk rasa persaudaraan dan tali kasih jelang perayaan Hari Raya Natal di Tabanan, umat Kristen yang berada di Banjar Dinas Piling Tengah, Desa Mengesta Penebel melangsungkan tradisi mepatung (urunan) untuk membeli babi. Selanjutnya, babi yang sudah dipotong dibagikan secara merata. Seperti apa?
Suasana suka cita menjelang Hari Raya Natal tampak terasa di Banjar Dinas Piling Tengah, Piling Kawan Desa Mengesta Penebel Tabanan.
Menyambut Hari Raya Natal yang jatuh pada 25 Desember, terasa berbeda. Umat Kristen di sana selain mulai menghias gereja dengan budaya Bali berupa penjor. Juga nantinya saat beribadah ke Gereja wajib mengenakan pakaian Bali.
Yang lebih menarik lagi sebelum Perayaan Natal dilaksanakan, Umat Kristen menjalani tradisi mepatung (urunan) secara sukarela membeli babi.
Saat Jawa Pos Radar Bali bertandang ke Banjar Dinas Piling Tengah, Kamis kemarin (21/12), keluarga dari I Ketut Budiarsa, 54, yang memeluk agama Kristen Katolik sedang nampah (potong babi). Babi yang telah dipotong, dagingnya dibagi rata kepada keluarga yang urunan membeli babi.
“Ini kami mepatung (urunan) beli babi. Kami urunan dengan empat orang anggota keluarga yang memeluk agama Kristen Katolik,” kata Ketut Budiarsa.
Urunan membeli babi untuk kebutuhan Hari Raya Natal sudah dilakukan oleh keluarganya secara turun temurun. Dengan tujuan utama sebenarnya kebersamaan dan kekeluargaan. Bila ada anggota keluarga dengan kehidupan yang pas-pas tidak dapat membeli babi satu ekor, sehingga dengan cara mepatung ini mereka sangat terbantu.
“Jadi kami urunan beli babi, dengan anggota keluarga membayar sebesar Rp 900 ribu. Kebetulan ada empat orang anggota keluarga kami yang ikut urunan,” ungkapnya.
Tradisi Mepatung membeli babi saat Hari Raya secara sukarela telah dilakukan rutin setiap tahun. Mepatung ini bukan hanya dilakukan oleh keluarganya melainkan pula umat Kristen lainnya yang ada di Piling.
“Tradisi mepatung ini ada warga yang ambil 21 Desember, bisa juga tanggal 22 Desember sebelum Natal,” jelasnya.
Untuk daging babi yang sudah dipotong-potong itu baru diolah menjadi makanan tum, lawar, sate, nyat-nyat dan olahan makanan lainnya. Ketika olahan makanan daging babi ini sudah selesai dibuat baru selanjutnya dibagikan kepada seluruh krama banjar yang beragama Hindu. Itulah yang disebut dengan Ngejot.
“Ngejot ini biasanya dilakukan oleh ibu-ibu dengan mendatangi rumah warga beragama Hindu. Selain makanan olahan daging babi yang asal dari tradisi mepatung, juga kami membawa makan jajan seperti tape jaje uli, jajan bali,” tuturnya.
Sementara itu, Ketua Dewan Gereja Katolik Piling I Made Agus Wirawan mengatakan tradisi mepatung ini memang selalu dilakukan setiap Hari Raya Natal. Tepatnya tiga atau empat hari sebelum perayaan Natal digelar.
Tidak hanya Natal, di Hari Raya Galungan pun demikian. Umat Hindu di Piling melakukan tradisi mepatung. Sama halnya mereka juga membagikan olahan daging babi kepada umat Kristen.
Mepatung ini makna selain kebersamaan juga meringankan beban warga umat kristen yang merayakan Natal.
“Mungkin untuk membeli satu ekor babi warga (Umat) tidak mampu karena harga babi mencapai jutaan, akan tetapi ketika mepatung dilakukan lebih ringan. Karena cukup dengan uang ratusan ribu dikumpulkan secara urunan dan sukarela dapat membeli babi,” ungkap pria berusia 44 tahun.
Diakuinya di Piling, Desa Mengesta, meskipun terdapat warga beragama Kristen dan Hindu namun antar warga di sini memiliki keterikatan hubungan keluarga yang cukup erat dan wujud toleransi begitu kuat.
Yang menarik lagi seluruh warga di sini diperlakukan sama, hanya berbeda pada cara sembahyangnya saja. Kegiatan seperti ngayah, ngopin, matulungan hingga kematian juga sama dilakukan oleh seluruh warga.
Bahkan seluruh warga juga tergabung dalam sebuah wadah yang bernama suka duka. Wadah suka duka ini sangat berperan penting untuk menjaga persatuan dan kesatuan.
"Jadi di Piling tidak ada yang membedakan-bedakan, semua warga juga ikut dalam berkegiatan baik itu sosial, budaya, dan lainnya juga, maka tidak heran hubungan toleransi begitu erat terjalin," pungkasnya. ***
Editor : Donny Tabelak