Di bawah langit Kediri, Tabanan, Kamis (25/12/2025), sebuah pemandangan sejuk tersaji di halaman Gereja GKPB Jemaat Immanuel Sanggulan. Di antara kerumunan jemaat yang bersukacita merayakan kelahiran Yesus Kristus, tampak deretan seragam loreng khas Barisan Ansor Serbaguna (Banser) yang ikut menjaga peribadatan di geraja.
KEHADIRAN mereka bukan sekadar urusan prosedur keamanan, melainkan simbol kuat tentang bagaimana kerukunan antarumat beragama dirawat di tanah Bali.
Mereka bersinergi dengan Pecalang, aparat kepolisian dari Polres Tabanan, anggota TNI Kodim 1619/Tabanan, hingga adik-adik Saka Pramuka, Banser Tabanan menunjukkan bahwa perbedaan keyakinan bukanlah sekat, melainkan kekayaan.
Pantauan di lapangan menunjukkan setidaknya tujuh anggota Banser dikerahkan untuk menjaga dua titik krusial ibadah Natal di Tabanan, yakni di Gereja GKPB Immanuel dan Gereja Gerokgak.
Tanpa canggung, mereka bahu-membahu mengatur arus lalu lintas dan menata kendaraan para jemaat agar ibadah berjalan khidmat tanpa gangguan kemacetan.
Kepala Satuan Koordinasi Cabang (Kasatkorcab) Banser Kabupaten Tabanan, Akhmad Dzulkifli, menegaskan bahwa keterlibatan mereka adalah murni panggilan kemanusiaan. Hal ini juga selaras dengan instruksi pusat agar seluruh kader Banser berperan aktif menjaga kenyamanan ibadah saudara-saudara Nasrani di daerah masing-masing.
"Ini adalah bentuk kemanusiaan. Sebagaimana hasil apel Operasi Nataru 2025 yang dihadiri langsung oleh Bapak Kapolri, Banser diminta terlibat aktif dalam sisi pengamanan," ujar Dzulkifli di sela-sela kegiatannya.
Bagi Dzulkifli dan rekan-rekannya, berada di halaman gereja saat Natal adalah cara mereka merawat Indonesia dalam skala kecil. Melalui sinergi yang kontinyu dengan pihak kepolisian, kehadiran mereka diharapkan dapat menebarkan rasa aman bagi siapapun yang sedang beribadah.
"Banser mengamankan Natal adalah upaya kami untuk menjaga persatuan dan kesatuan di tengah perbedaan agama, suku, ras, dan budaya. Di sini, kita bicara tentang satu saudara dalam kemanusiaan," pungkasnya mantap.
Saat lonceng gereja berdentang dan nyanyian pujian bergema dari dalam gedung, di luar sana, Banser dan berbagai elemen masyarakat lainnya tetap berjaga. Sebuah potret harmoni yang membuktikan bahwa di Tabanan, toleransi bukan sekadar slogan, melainkan tindakan nyata yang terus dipelihara.[*]
Editor : Hari Puspita