Aspal jalanan Denpasar -Gilimanuk khususnya di Tabanan seolah tak pernah berhenti meminta tumbal. Sepanjang tahun 2025, angka kecelakaan lalu lintas di Pulau Dewata terus merayap naik, tumbuh dua persen.
BUKAN pekerjaan mudah, tentu saja. Karena perlu dukungan semua pihak. Di Kabupaten Tabanan, angka itu bukan sekadar statistik; ini adalah gema duka dari 1.050 tragedi yang terserak di bahu jalan.
Dari ribuan kejadian tersebut, 68 nyawa melayang—sebagian besar adalah mereka yang berada di usia produktif, para pemimpi yang langkahnya terhenti di tengah deru mesin.
Menyikapi nestapa yang kian menjadi, Polres Tabanan tidak ingin membiarkan jalanan menjadi palagan kematian. Di bawah langit awal Februari, "Operasi Keselamatan Agung 2026" resmi dicanangkan sebagai benteng untuk meredam angka-angka kelam tersebut.
Bukan Sekadar Angka Biasa
Saat memimpin apel gelar pasukan pada Senin (2/2/2026), Wakapolres Tabanan Kompol I Gede Made Surya Atmaja menegaskan bahwa lonjakan kecelakaan ini adalah alarm keras yang tidak boleh dianggap angin lalu.
"Ini bukan hal biasa. Di balik angka-angka ini, ada kehilangan nyawa dan kerugian materiil yang mendalam," ujarnya dengan nada rendah namun tegas. Bagi kepolisian, setiap angka kecelakaan adalah rapor merah yang harus diperbaiki dengan edukasi dan ketegasan.
Selama 14 hari ke depan—dari tanggal 2 hingga 15 Februari 2026—ratusan personel gabungan dari TNI, Dishub, dan Polres Tabanan akan menyebar. Mereka membawa misi tunggal: memulihkan kesadaran dan kepatuhan hukum para pengguna jalan yang kian luntur.
Meredam Ganasnya Jalur Denpasar-Gilimanuk
Fokus utama operasi kali ini adalah lintasan legendaris Denpasar-Gilimanuk. Jalur utama yang menghubungkan nadi ekonomi Bali ini telah lama menyandang reputasi sebagai "jalur maut" akibat kepadatan dan fatalitas kecelakaannya yang tinggi.
Polisi akan mengintai perilaku-perilaku yang kerap menjadi pengantar maut: pengendara tanpa helm, pengemudi yang abai terhadap sabuk pengaman, hingga mereka yang nekat berkendara di bawah pengaruh alkohol atau terdistraksi oleh layar ponsel.
"Kami menyasar pelanggaran yang berpotensi menyebabkan fatalitas. Tujuan kami adalah agar masyarakat kembali menghargai keselamatan sebagai kebutuhan, bukan sekadar kewajiban," tandas Kompol Surya Atmaja.
Kini, di tengah deru kendaraan yang melintas di jalur Tabanan, Operasi Keselamatan Agung 2026 hadir sebagai pengingat: bahwa perjalanan terbaik bukanlah yang tercepat, melainkan yang sampai ke tujuan dengan selamat untuk kembali memeluk keluarga di rumah.[*]
Editor : Hari Puspita