alexametrics
26.5 C
Denpasar
Saturday, August 13, 2022

Kota Tua nan Eksotis

RadarBali.com- Wisatawan yang berkunjung ke Kabupaten Sumenep tidak hanya disuguhi dengan  sejarah Kraton, namun juga akan diajak menapaki sejarah Kota Tua Kalianget yang menjadi saksi sejarah di Madura.

Pemukiman arah timur jantung kota Sumenep ini menjadi salah satu kota modern pertama di Pulau Madura. Bangunan-bangunan khas Belanda yang ada dibangun pada masa VOC dan diteruskan oleh pemerintahan Hindia Belanda.

Keberadaan kota tua sangat strategis. Lokasinya tidak jauh dari pelabuhan tua di Madura. Jarak pelabuhan yang disebut Pelabuhan Kertasada ini hanya sekitar 10 kilometer dari Kota Sumenep.

Di sekitar Kota Tua ada benteng sejarah yang dibangun setelah Sumenep jatuh ke tangan VOC pada tahun 1705.

Hingga sekarang benteng tersebut dikenal dengan sebutan ”Loji Kantang”. Menurut sejarah yang diyakini masyarakat dan sejumlah buku sejarah Kota Tua, sejak dibangunnya benteng baru di daerah Kali Mo’ok Kalianget pada tahun 1785, menyebar perumahan orang Eropa.

Baca Juga:  Astungkara! Kunjungan Wisdom ke Desa Penglipuran Tembus 2.000 Orang Per Hari

Pemukiman yang dibangun kental dengan bentuk bangunan khas Eropa, sebagian juga berbentuk bangunan Belanda.

 Bangunan di lokasi itu cenderung terpengaruh kebudayaan Indisch yang sudah berkembang sejak abad ke-17 sampai 18 di Indonesia.

 

Akhirnya pada tahun 1899 Pemerintah Hindia Belanda mengambil alih kekuasaan. Sistem pemerintahan beralih kekuasaan sampai pada pengelolaan pegaraman di Sumenep.

 Mereka memberi nama dengan sebutan pabrik garam Briket Modern. Sejak itulah peradaban Kota Tua Kalianget terbangun.

Berbagai fasilitas di perumahan dibenahi. Peradaban Kota tua menjadi daya tarik para Budayawan. Tidak sedikit yang sudah membukukan tentang sejarah kota modern ini. Seperti Adurrahchman, 1971 dengan menulis buku Sejarah Madura Selajang Pandang Sumenep.

 

Baca Juga:  Gerbang Tak Kunjung Dibuka, Pelaku Pariwisata Minta Kepastian

Salah satu penulis dan ketua tim editor buku sejarah Sumenep yang diterbitkan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Sumenep, Ibnu Hajar mengatakan Kota Tua sarat dengan sejarah Sumenep.

 Sebab menurutnya, kota tua itu menjadi kota modern pertama di Madura. “Kota tua ini mempunyai nilai sejarah tinggi.

Dan mengandung daya tarik tinggi wisatawan. Sebab wisata ini bisa menjadi cagar budaya di Sumenep. Sehingga menambah deretan destinasi di Sumenep,” katanya.

 Sebagai Budayawan, pihaknya menyarankan pemerintah bisa mendatangkan Ahli Planologi tata kota. Sehingga bisa mengembalikan ruh tata ruang pemukiman dan arsitektur Kota Tua yang masih terisa.

 Tujuannya, agar memberikan kontribusi akademis dan edukasi tentang sejarah kebudayaan terhadap pengunjung. “Sayang kalau ini tidak dikembangkan. Sebab restorasi kota tua akan melahirkan image eksotika kota tua yang tak menua,”pungkas Ibnu Hajar. 



RadarBali.com- Wisatawan yang berkunjung ke Kabupaten Sumenep tidak hanya disuguhi dengan  sejarah Kraton, namun juga akan diajak menapaki sejarah Kota Tua Kalianget yang menjadi saksi sejarah di Madura.

Pemukiman arah timur jantung kota Sumenep ini menjadi salah satu kota modern pertama di Pulau Madura. Bangunan-bangunan khas Belanda yang ada dibangun pada masa VOC dan diteruskan oleh pemerintahan Hindia Belanda.

Keberadaan kota tua sangat strategis. Lokasinya tidak jauh dari pelabuhan tua di Madura. Jarak pelabuhan yang disebut Pelabuhan Kertasada ini hanya sekitar 10 kilometer dari Kota Sumenep.

Di sekitar Kota Tua ada benteng sejarah yang dibangun setelah Sumenep jatuh ke tangan VOC pada tahun 1705.

Hingga sekarang benteng tersebut dikenal dengan sebutan ”Loji Kantang”. Menurut sejarah yang diyakini masyarakat dan sejumlah buku sejarah Kota Tua, sejak dibangunnya benteng baru di daerah Kali Mo’ok Kalianget pada tahun 1785, menyebar perumahan orang Eropa.

Baca Juga:  Potensi Budaya Berserakan, Desa Beratan Dirancang Jadi Desa Wisata

Pemukiman yang dibangun kental dengan bentuk bangunan khas Eropa, sebagian juga berbentuk bangunan Belanda.

 Bangunan di lokasi itu cenderung terpengaruh kebudayaan Indisch yang sudah berkembang sejak abad ke-17 sampai 18 di Indonesia.

 

Akhirnya pada tahun 1899 Pemerintah Hindia Belanda mengambil alih kekuasaan. Sistem pemerintahan beralih kekuasaan sampai pada pengelolaan pegaraman di Sumenep.

 Mereka memberi nama dengan sebutan pabrik garam Briket Modern. Sejak itulah peradaban Kota Tua Kalianget terbangun.

Berbagai fasilitas di perumahan dibenahi. Peradaban Kota tua menjadi daya tarik para Budayawan. Tidak sedikit yang sudah membukukan tentang sejarah kota modern ini. Seperti Adurrahchman, 1971 dengan menulis buku Sejarah Madura Selajang Pandang Sumenep.

 

Baca Juga:  Diincar Pengembang, Subak Pakel Dijadikan Objek Wisata

Salah satu penulis dan ketua tim editor buku sejarah Sumenep yang diterbitkan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Sumenep, Ibnu Hajar mengatakan Kota Tua sarat dengan sejarah Sumenep.

 Sebab menurutnya, kota tua itu menjadi kota modern pertama di Madura. “Kota tua ini mempunyai nilai sejarah tinggi.

Dan mengandung daya tarik tinggi wisatawan. Sebab wisata ini bisa menjadi cagar budaya di Sumenep. Sehingga menambah deretan destinasi di Sumenep,” katanya.

 Sebagai Budayawan, pihaknya menyarankan pemerintah bisa mendatangkan Ahli Planologi tata kota. Sehingga bisa mengembalikan ruh tata ruang pemukiman dan arsitektur Kota Tua yang masih terisa.

 Tujuannya, agar memberikan kontribusi akademis dan edukasi tentang sejarah kebudayaan terhadap pengunjung. “Sayang kalau ini tidak dikembangkan. Sebab restorasi kota tua akan melahirkan image eksotika kota tua yang tak menua,”pungkas Ibnu Hajar. 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/