alexametrics
26.5 C
Denpasar
Wednesday, August 10, 2022

Pasek Suardika Ingatkan Menpar Wisnutama Tak Bikin Stigma Negatif Bali

SINGARAJA – Rencana Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wisnutama Kusbandio membuat pariwisata Bali lebih ramah dengan wisatawan muslim, menuai pro dan kontra di masyarakat.

Bukan hanya di media sosial, permasalahan itu juga menjadi perbincangan di masyarakat. Wacana itu dianggap memunculkan stigma negatif pada pariwisata Bali.

Wacana itu juga mendapat kecaman dari mantan anggota DPD Bali, Gede Pasek Suardika. Pasek menyebut cara berpikir Kementerian Pariwisata terhadap Bali tidak pernah berubah.

Menurutnya, bukan kali ini saja, pemerintah mengeluarkan pernyataan yang kontroversial. “Dulu mencoba menjual wisata halal. Sekarang mencoba menyulap Bali ramah muslim.

Itu sama saja membuat stigma bahwa selama ini Bali tidak ramah pada umat muslim,” kata Pasek Suardika saat ditemui di Stadion Mayor Metra, Minggu (10/11) sore.

Baca Juga:  Proses Koridor Bebas Covid, Siapkan Seribu Dosis untuk Daerah Wisata

Menurutnya, label muslim friendly sama saja menganggap Bali selama ini tidak ramah untuk wisatawan muslim.

Selain itu, muncul pula stigma bahwa Bali akan diistimewakan untuk sekelompok golongan saja. Padahal Bali selama ini sudah ramah untuk semua golongan, tak peduli dengan latar belakang suku maupun agama wisatawan.

Apabila Kemenpar berencana membuat wisata halal atau sejenisnya, ia menyarankan agar program itu dibawa ke daerah lain.

Khusus di Bali, ia mendesak agar Kemenpar melakukan pembenahan dan penambahan infrastruktur pariwisata.

“Misalnya kita bicara Ubud. Buat pedestrian di sana lebih bagus, kabel-kabel ditangani biar bisa di bawah tanah, kemacetannya ditangani.

Sehingga bisa membuat wisata Bali lebih indah dari yang dipikirkan. Bukan bermain dengan stigma identitas,” tukasnya.

Baca Juga:  Astoria Hotel Berstandar Internasional, Terbesar di Mataram


SINGARAJA – Rencana Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wisnutama Kusbandio membuat pariwisata Bali lebih ramah dengan wisatawan muslim, menuai pro dan kontra di masyarakat.

Bukan hanya di media sosial, permasalahan itu juga menjadi perbincangan di masyarakat. Wacana itu dianggap memunculkan stigma negatif pada pariwisata Bali.

Wacana itu juga mendapat kecaman dari mantan anggota DPD Bali, Gede Pasek Suardika. Pasek menyebut cara berpikir Kementerian Pariwisata terhadap Bali tidak pernah berubah.

Menurutnya, bukan kali ini saja, pemerintah mengeluarkan pernyataan yang kontroversial. “Dulu mencoba menjual wisata halal. Sekarang mencoba menyulap Bali ramah muslim.

Itu sama saja membuat stigma bahwa selama ini Bali tidak ramah pada umat muslim,” kata Pasek Suardika saat ditemui di Stadion Mayor Metra, Minggu (10/11) sore.

Baca Juga:  Pandemi, Pedagang di Bali Ngaku Berat, Erick Thohir: Memang Berat!

Menurutnya, label muslim friendly sama saja menganggap Bali selama ini tidak ramah untuk wisatawan muslim.

Selain itu, muncul pula stigma bahwa Bali akan diistimewakan untuk sekelompok golongan saja. Padahal Bali selama ini sudah ramah untuk semua golongan, tak peduli dengan latar belakang suku maupun agama wisatawan.

Apabila Kemenpar berencana membuat wisata halal atau sejenisnya, ia menyarankan agar program itu dibawa ke daerah lain.

Khusus di Bali, ia mendesak agar Kemenpar melakukan pembenahan dan penambahan infrastruktur pariwisata.

“Misalnya kita bicara Ubud. Buat pedestrian di sana lebih bagus, kabel-kabel ditangani biar bisa di bawah tanah, kemacetannya ditangani.

Sehingga bisa membuat wisata Bali lebih indah dari yang dipikirkan. Bukan bermain dengan stigma identitas,” tukasnya.

Baca Juga:  Kembangkan Buyan dan Tamblingan, Fokus Dijadikan Objek Wisata Alam

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/