alexametrics
25.4 C
Denpasar
Wednesday, August 17, 2022

Panggang Babi Hitam Legam Awali Ucap Syukur ke Ida Bhatara

GIRI EMAS – Ribuan krama di Desa Pakraman Sangsit Dangin Yeh, tumpah ruah. Krama menggelar upacara ngusaba bukakak yang rutin digelar tiap dua tahun sekali.

Tahun ini ngusaba bukakak jatuh pada Kamis (21/3), bertepatan sehari setelah rahina purnama kedasa. Tradisi ngusaba bukakak merupakan tradisi yang dilakukan turun temurun.

Ngusaba dilakukan sebagai wujud ungkapan terima kasih kepada Ida Bhatara atas hasil panen yang melimpah.

Krama telah berdatangan ke Pura Subak Dangin Yeh sejak pukul 10.00 pagi. Prosesi ngusaba bukakak kemarin diawali dengan pembuatan sarad bukakak yang terbuat dari bambu dan janur.

Setelah sarad selesai, di dalam sarad kemudian diletakkan sarana berupa babi hitam legam yang dipanggang matang pada bagian dada, namun mentah pada bagian punggung.

Krama yang hendak mengikuti ngusaba bukakak, kemudian melakukan persembahyangan di Pura Subak Dangin Yeh.

Baca Juga:  Usung Misi Perdamaian, Sepultura Punya Kenangan dengan Indonesia

Setelah itu dilanjutkan dengan persembahyangan di Pura Pancoran Mas. Kemudian dilanjutkan dengan persembahyangan di Pura Gunung Sekar.

Saat di Pura Gunung Sekar, krama kemudian diperciki tirta. Begitu mendapat tirta, krama langsung berlari menuju Pura Subak Dangin Yeh mengambil sarad bukak dan sarad dewa ayu.

Sarad yang beratnya hingga satu ton itu, kemudian diusung menuju Pura Gunung Sekar. Setelah itu sarad diusung menuju Pura Desa Pakraman Buleleng.

“Istilahnya Ida Bhatara melancaran ke Pura Desa Pakraman Buleleng. Kalau di skala, mungkin seperti silaturahmi. Pura yang menjadi lokasi tujuan ini, sudah dipilih sejak tiga hari lalu.

Kami memohon petunjuk pada Ida, dan Ida memilih melancaran ke Pura Desa Pakraman Buleleng,” ungkap sesepuh adat Desa Pakraman Sangsit Dangin Yeh Ketut Setiawan, saat ditemui di Pura Subak Dangin Yeh, siang kemarin (21/3).

Baca Juga:  Ditolak Semarang dan Surabaya, Kapal Pesiar Viking Sun Sandar di Bali

Saat diusung menuju Pura Desa Pakraman Buleleng, ribuan krama mengikuti. Meski ngusaba bukakak sebenarnya merupakan tradisi yang menjadi tanggungjawab subak, seluruh krama desa tetap ikut terlibat di dalamnya.

Ketika sampai di Pura Desa Pakraman Buleleng, sarad bukakak sempat kesulitan masuk ke jeroan pura. Sebab pintu masuk cukup sempit, tak cukup dilalui sarad bukakak.

Akhirnya sarad dimasukkan dengan cara memanjat tembok pura. Begitu sampai di jeroan pura, krama pun langsung bersorak tanda suka cita.

Kedatangan sarad bukakak itu pun langsung disambut sukacita oleh para prajuru dan krama tridatu di Desa Pakraman Buleleng.

Ini bukan pertama kalinya sarad bukakak melancaran ke Pura Desa Pakraman Buleleng. Hal serupa juga pernah terjadi pada tahun 1967 dan 2001 silam. 



GIRI EMAS – Ribuan krama di Desa Pakraman Sangsit Dangin Yeh, tumpah ruah. Krama menggelar upacara ngusaba bukakak yang rutin digelar tiap dua tahun sekali.

Tahun ini ngusaba bukakak jatuh pada Kamis (21/3), bertepatan sehari setelah rahina purnama kedasa. Tradisi ngusaba bukakak merupakan tradisi yang dilakukan turun temurun.

Ngusaba dilakukan sebagai wujud ungkapan terima kasih kepada Ida Bhatara atas hasil panen yang melimpah.

Krama telah berdatangan ke Pura Subak Dangin Yeh sejak pukul 10.00 pagi. Prosesi ngusaba bukakak kemarin diawali dengan pembuatan sarad bukakak yang terbuat dari bambu dan janur.

Setelah sarad selesai, di dalam sarad kemudian diletakkan sarana berupa babi hitam legam yang dipanggang matang pada bagian dada, namun mentah pada bagian punggung.

Krama yang hendak mengikuti ngusaba bukakak, kemudian melakukan persembahyangan di Pura Subak Dangin Yeh.

Baca Juga:  Ayu Naomi Puas Bocah Tua Nakal Direspons Positif Pecinta Musik Bali

Setelah itu dilanjutkan dengan persembahyangan di Pura Pancoran Mas. Kemudian dilanjutkan dengan persembahyangan di Pura Gunung Sekar.

Saat di Pura Gunung Sekar, krama kemudian diperciki tirta. Begitu mendapat tirta, krama langsung berlari menuju Pura Subak Dangin Yeh mengambil sarad bukak dan sarad dewa ayu.

Sarad yang beratnya hingga satu ton itu, kemudian diusung menuju Pura Gunung Sekar. Setelah itu sarad diusung menuju Pura Desa Pakraman Buleleng.

“Istilahnya Ida Bhatara melancaran ke Pura Desa Pakraman Buleleng. Kalau di skala, mungkin seperti silaturahmi. Pura yang menjadi lokasi tujuan ini, sudah dipilih sejak tiga hari lalu.

Kami memohon petunjuk pada Ida, dan Ida memilih melancaran ke Pura Desa Pakraman Buleleng,” ungkap sesepuh adat Desa Pakraman Sangsit Dangin Yeh Ketut Setiawan, saat ditemui di Pura Subak Dangin Yeh, siang kemarin (21/3).

Baca Juga:  Rayakan Maulid Nabi, Penglingsir Puri Ikut Bancakan, Ini Maknanya...

Saat diusung menuju Pura Desa Pakraman Buleleng, ribuan krama mengikuti. Meski ngusaba bukakak sebenarnya merupakan tradisi yang menjadi tanggungjawab subak, seluruh krama desa tetap ikut terlibat di dalamnya.

Ketika sampai di Pura Desa Pakraman Buleleng, sarad bukakak sempat kesulitan masuk ke jeroan pura. Sebab pintu masuk cukup sempit, tak cukup dilalui sarad bukakak.

Akhirnya sarad dimasukkan dengan cara memanjat tembok pura. Begitu sampai di jeroan pura, krama pun langsung bersorak tanda suka cita.

Kedatangan sarad bukakak itu pun langsung disambut sukacita oleh para prajuru dan krama tridatu di Desa Pakraman Buleleng.

Ini bukan pertama kalinya sarad bukakak melancaran ke Pura Desa Pakraman Buleleng. Hal serupa juga pernah terjadi pada tahun 1967 dan 2001 silam. 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/