alexametrics
25.4 C
Denpasar
Saturday, August 20, 2022

New Normal, Wisata Dirgantara di Bali Mulai Menggeliat

DENPASAR – Setelah hiatus cukup lama terhitung sejak akhir Maret 2020, wisata dirgantara di Pulau Dewata kembali bergeliat. 

Empat operator paralayang bisa sedikit tersenyum karena mulai ada wisatawan yang ingin mencoba olahraga yang tergolong ekstrem tersebut.

Tercatat, ada empat operator paralayang yang ada di Bali dan semuanya ada di kawasan Kuta Selatan. 

Empat operator tersebut adalah Nyangnyang Paragliding, Riug Paragliding, Bali Paragliding, dan Timbis Paragliding. 

Meskipun wisawatan masih tidak seramai biasanya, namun Flight Manager Nyangnyang Paragliding, Rizky Widiantara yang diwawancarai kemarin sedikit bernafas lega.

“Sudah mulai ada wisatawan yang datang. Sedikit, tapi tidak masalah,” terang Rizky. 

Dalam sepekan terakhir pasca puluhan pilot dari empat operator ikut ambil bagian dalam pembukaan Pantai Pandawa yang dibuka langsung oleh Gubernur Bali Wayan Koster, rata-rata wisatawan yang datang sebanyak dua orang.

Baca Juga:  Pariwisata Bali Batal Dibuka, PHRI: Bukti Kegagalan Program Pemerintah

Sudah jelas, baru wisatawan mancanegara saja yang ingin melakukan tandem. Saat Jawa Pos Radar Bali mengunjungi Nyangnyang Paragliding kemarin, ada dua wisatawan mancanegara yang mencoba olahraga ini. 

Jika penerbangan internasional menuju Bali sudah mulai dibuka pada bulan September mendatang dan pariwisata kembali menggeliat, tidak serta merta empat operator tersebut leluasa menggaet wisatawan. 

Hanya 50 persen pengunjung dari rata-rata pengunjung dihari normal saja yang diperbolehkan.

Ini sudah sesuai dengan standar kesehatan yang ditetapkan oleh Kemenkes dan PB FASI sebagai induk olahraga kedirgantaraan Indonesia. 

“Pembatasan pengunjung itu 50 persen. Jadi kalau biasanya menerbangkan 60 wisatawan, sekarang kami batasi menjadi 30 wisatawan saja. Tapi kapasitas pengunjung berbeda-beda untuk tiap operator,” ungkapnya.

Baca Juga:  Kapal Pinisi, Kapal Sejarah untuk Delegasi IMF Siap Antar Tour ke Nusa

“Prosedur kesehatan juga diperhatikan seperti pemakaian masker, ruang tunggu yang bersih dan sehat, serta sirkulasi udara yang baik. 

Tapi ada sebagian wisatawan yang risih dan tidak mau memakai masker. Kami maklumi karena mereka pasti ingin selfie waktu terbang,” tutup pria yang juga menjabat sebagai Ketua Pengprov FASI Paralayang tersebut. 



DENPASAR – Setelah hiatus cukup lama terhitung sejak akhir Maret 2020, wisata dirgantara di Pulau Dewata kembali bergeliat. 

Empat operator paralayang bisa sedikit tersenyum karena mulai ada wisatawan yang ingin mencoba olahraga yang tergolong ekstrem tersebut.

Tercatat, ada empat operator paralayang yang ada di Bali dan semuanya ada di kawasan Kuta Selatan. 

Empat operator tersebut adalah Nyangnyang Paragliding, Riug Paragliding, Bali Paragliding, dan Timbis Paragliding. 

Meskipun wisawatan masih tidak seramai biasanya, namun Flight Manager Nyangnyang Paragliding, Rizky Widiantara yang diwawancarai kemarin sedikit bernafas lega.

“Sudah mulai ada wisatawan yang datang. Sedikit, tapi tidak masalah,” terang Rizky. 

Dalam sepekan terakhir pasca puluhan pilot dari empat operator ikut ambil bagian dalam pembukaan Pantai Pandawa yang dibuka langsung oleh Gubernur Bali Wayan Koster, rata-rata wisatawan yang datang sebanyak dua orang.

Baca Juga:  Kunjungan Wisatawan Berangsur Pulih, Dispar Badung: Mayoritas Domestik

Sudah jelas, baru wisatawan mancanegara saja yang ingin melakukan tandem. Saat Jawa Pos Radar Bali mengunjungi Nyangnyang Paragliding kemarin, ada dua wisatawan mancanegara yang mencoba olahraga ini. 

Jika penerbangan internasional menuju Bali sudah mulai dibuka pada bulan September mendatang dan pariwisata kembali menggeliat, tidak serta merta empat operator tersebut leluasa menggaet wisatawan. 

Hanya 50 persen pengunjung dari rata-rata pengunjung dihari normal saja yang diperbolehkan.

Ini sudah sesuai dengan standar kesehatan yang ditetapkan oleh Kemenkes dan PB FASI sebagai induk olahraga kedirgantaraan Indonesia. 

“Pembatasan pengunjung itu 50 persen. Jadi kalau biasanya menerbangkan 60 wisatawan, sekarang kami batasi menjadi 30 wisatawan saja. Tapi kapasitas pengunjung berbeda-beda untuk tiap operator,” ungkapnya.

Baca Juga:  Togar : Peran Seni Rupa Bali Penting Untuk Kemajuan Pariwisata

“Prosedur kesehatan juga diperhatikan seperti pemakaian masker, ruang tunggu yang bersih dan sehat, serta sirkulasi udara yang baik. 

Tapi ada sebagian wisatawan yang risih dan tidak mau memakai masker. Kami maklumi karena mereka pasti ingin selfie waktu terbang,” tutup pria yang juga menjabat sebagai Ketua Pengprov FASI Paralayang tersebut. 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/