alexametrics
25.4 C
Denpasar
Saturday, August 20, 2022

Naik Kelas B, Museum Bali Sepi Kunjungan Turis, Jajaki Sistem Digital

DENPASAR – Museum Bali milik Pemprov Bali yang terletak di kawasan Puputan Badung baru saja naik kelas ke tipe B. 

Karena selama ini museum yang memiliki 14.542 koleksi ini hanya bertengger di tipe C.  Kemudian, sebagai bentuk inovasi, UPT Museum Bali baru menjajaki sistem digitalisasi 6.000-an koleksi yang sudah diidentifikaai melalui penelitian. 

Saat ini, UPT Museum Bali memakai sistem offline. Koleksi tersebut dimasukkan ke web saja. Itu pun hanya bisa diakses di Museum Bali.

Jadi,  pengunjung tetap datang ke museum. Di sana mereka baru bisa mengakses lewat komputer. 

Kepala Dinas Kebudayaan Bali I Wayan Kun Adnyana mengatakan, tidak ada ketakutan untuk pindah ke digitalisasi.

Dia justru berkeyakinan perpindahan koleksi ke system online justru memancing masyarakat datang ke museum.  Nanti yang ditampilkan hanya petunjuk  saja

“Digitalisasi tidak semua di open resource hanya kalau tentu yang masih offline semua dibuat jadi online untuk mengundang banyak pengunjung,” katanya.

Baca Juga:  Terdampak Corona, Tingkat Hunian di Nusa Penida Tinggal 20 Persen

Kasi koleksi UPTD Museum Bali Putu Sedana menyatakan, program yang diberi nama Sinus (Sistem Inventarisasi Koleksi Museum) nanti berbasis web.

“Cuma saat ini belum bisa online. Masih offline, hanya masih bisa dilihat di sekitaran museum saja. Ketika masyarakat ingin mengakses keberadaan koleksi yang kita miliki di museum, mereka bisa mengetahui,” bebernya.

Kedepan rencana pemuktahiran data dengan sistem digitalisasi ini cukup melalui telepon pintar saja.

“Nanti mereka dari rumah sudah mengetahui jenis koleksi yang mereka ingin cari ke museum. Tetapi ada hal hal tertentu yang tidak bisa diakses oleh masyarakat.

Untuk mengetahui secara mendetail tentang keberadaan koleksi masyarakat harus datang ke museum. Nah, jadi mereka sudah punya gambaran apa yang mereka ingin cari di museum,” jelasnya. 

Diperkirakan onlinenya tahun 2020 ini bisa dilaksanakan. Kendalanya saat ini belum terdaftar di Kominfo. UPT Museum Bali akan segera berkomunikasi dengan Kominfo untuk disiapkan ruang sehingga  nanti sistem online itu bisa dibuka.

Baca Juga:  Banjir Wisatawan di Wisata Selfie, Ini Langkah Polisi Beri Kenyamanan

“Sementara kita belum mendaftar, kita harus komunikasi dulu dengan Kominfo,” paparnya. Dengan adanya inovasi kedepan, Kadisbud juga  berharap Museum Bali naik kelas A.

Tentu ada pembenahan dari segi pelayanan dan sebagainya. Tapi kalau dari sisi koleksi, menurutnya, yang memiliki background sejarah itu tidak bisa ditandingi dengan museum baru.

Koleksi yang ada sekarang  banyak memiliki nilai sejarah. “Jadi langka barangnya, jadi tidak mungkin museum-museum baru bisa mengikuti,” bebernya.

Predikat tipe B ini diterima Maret 2019. Penilaiannya dilihat dari pengelola museum itu, tidak hanya menjaga keberadaan koleksinya,

tapi bagaimana mengolah koleksinya, mengidentifikasi koleksinya, terus menjadikan itu sebagai laboratorium studi mancanegara.

Kun Adyana mengakui wisatawan asing masih minim yang berkunjung ke Museum Bali. Apalagi, wisatawan domestic.

Meski berada di kawasan strategis ternyata sepi pengunjung wisatawan domestik. “Kurang lebih ada 12 ribu wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Museum Bali sepanjang tahun,” pungkasnya. 



DENPASAR – Museum Bali milik Pemprov Bali yang terletak di kawasan Puputan Badung baru saja naik kelas ke tipe B. 

Karena selama ini museum yang memiliki 14.542 koleksi ini hanya bertengger di tipe C.  Kemudian, sebagai bentuk inovasi, UPT Museum Bali baru menjajaki sistem digitalisasi 6.000-an koleksi yang sudah diidentifikaai melalui penelitian. 

Saat ini, UPT Museum Bali memakai sistem offline. Koleksi tersebut dimasukkan ke web saja. Itu pun hanya bisa diakses di Museum Bali.

Jadi,  pengunjung tetap datang ke museum. Di sana mereka baru bisa mengakses lewat komputer. 

Kepala Dinas Kebudayaan Bali I Wayan Kun Adnyana mengatakan, tidak ada ketakutan untuk pindah ke digitalisasi.

Dia justru berkeyakinan perpindahan koleksi ke system online justru memancing masyarakat datang ke museum.  Nanti yang ditampilkan hanya petunjuk  saja

“Digitalisasi tidak semua di open resource hanya kalau tentu yang masih offline semua dibuat jadi online untuk mengundang banyak pengunjung,” katanya.

Baca Juga:  Woow…Tergerus Lahar Hujan, Tukad Dedari Bak Lukisan Alam

Kasi koleksi UPTD Museum Bali Putu Sedana menyatakan, program yang diberi nama Sinus (Sistem Inventarisasi Koleksi Museum) nanti berbasis web.

“Cuma saat ini belum bisa online. Masih offline, hanya masih bisa dilihat di sekitaran museum saja. Ketika masyarakat ingin mengakses keberadaan koleksi yang kita miliki di museum, mereka bisa mengetahui,” bebernya.

Kedepan rencana pemuktahiran data dengan sistem digitalisasi ini cukup melalui telepon pintar saja.

“Nanti mereka dari rumah sudah mengetahui jenis koleksi yang mereka ingin cari ke museum. Tetapi ada hal hal tertentu yang tidak bisa diakses oleh masyarakat.

Untuk mengetahui secara mendetail tentang keberadaan koleksi masyarakat harus datang ke museum. Nah, jadi mereka sudah punya gambaran apa yang mereka ingin cari di museum,” jelasnya. 

Diperkirakan onlinenya tahun 2020 ini bisa dilaksanakan. Kendalanya saat ini belum terdaftar di Kominfo. UPT Museum Bali akan segera berkomunikasi dengan Kominfo untuk disiapkan ruang sehingga  nanti sistem online itu bisa dibuka.

Baca Juga:  Tiap Manggung, Nanoe Biroe Komit Selipkan Bahaya HIV/AIDS

“Sementara kita belum mendaftar, kita harus komunikasi dulu dengan Kominfo,” paparnya. Dengan adanya inovasi kedepan, Kadisbud juga  berharap Museum Bali naik kelas A.

Tentu ada pembenahan dari segi pelayanan dan sebagainya. Tapi kalau dari sisi koleksi, menurutnya, yang memiliki background sejarah itu tidak bisa ditandingi dengan museum baru.

Koleksi yang ada sekarang  banyak memiliki nilai sejarah. “Jadi langka barangnya, jadi tidak mungkin museum-museum baru bisa mengikuti,” bebernya.

Predikat tipe B ini diterima Maret 2019. Penilaiannya dilihat dari pengelola museum itu, tidak hanya menjaga keberadaan koleksinya,

tapi bagaimana mengolah koleksinya, mengidentifikasi koleksinya, terus menjadikan itu sebagai laboratorium studi mancanegara.

Kun Adyana mengakui wisatawan asing masih minim yang berkunjung ke Museum Bali. Apalagi, wisatawan domestic.

Meski berada di kawasan strategis ternyata sepi pengunjung wisatawan domestik. “Kurang lebih ada 12 ribu wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Museum Bali sepanjang tahun,” pungkasnya. 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/