alexametrics
26.5 C
Denpasar
Tuesday, July 5, 2022

Investasi di Kampung Turis Nusa Penida Rendah, Ini Penyebabnya…

SEMARAPURA – Realisasi Penanaman Modal Asing (PMA) dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) di Kabupaten Klungkung hingga bulan Oktober terbilang masih rendah.

Bahkan untuk PMA, belum terealisasi sama sekali. Kondisi ini terjadi lantaran para calon investor yang sebagian besar dari luar Kecamatan Nusa Penida, terkejut dengan biaya operasional dan hidup di Nusa Penida yang tinggi.

Tidak hanya itu, infrastruktur yang belum memadai di lokasi yang dilirik para investor untuk berinvestasi, juga menjadi penyebab realisasi hingga saat ini masih rendah.

Seperti tidak adanya akses jalan, air dan listrik di lokasi investasi. Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Klungkung I Made Sudiarkajaya menjelaskan,

PMDN di Klungkung tahun 2018 ditargetkan sebesar Rp 487,5 miliar, sementara untuk PAM ditargetkan USD 2,25 juta.

Namun, hingga Oktober 2018, realisasinya baru Rp 38,3 miliar untuk PMDN. Sementara untuk PMA, realisasinya nol.

“Sebenarnya untuk PMDN, para investor telah melakukan pendaftaran nilai investasi mencapai Rp 227 miliar lebih hingga Oktober, dan untuk PMA mencapai USD 34 ribu lebih.

Rencana investasi ini sebagian besar dilakukan di Nusa Penida. Namun karena berbagai hal, para investor melakukan penundaan investasi sehingga membuat realisasi menjadi kecil,” ujarnya.

Sudiarkajaya membeberkan, penundaan investasi sebagian besar dilakukan oleh investor dari luar Nusa Penida.

Diduga mereka belum mengetahui secara detail mengenai kondisi Nusa Penida. Mereka hanya tergiur dengan potensi keuntungan

yang bisa didapatkan dari industri pariwisata yang ada di Nusa Penida tanpa menelisik lebih jauh mengenai kendala yang akan ditemui jika berinvestasi di Telur Emas Bali ini.

“Kan banyak yang berinvestasi itu kadang-kadang buta tidak tahu lokasi, tidak tahu informasi pendukung. Mendengar informasi potensi bagus, peluang bagus, persaingan bagus,

pangsa pasar bagus, nilai bisnis langsung tinggi. Tapi, informasi detail tentang pendukungnya itu yang mereka belum dapat. Saat mereka terjun, baru mereka melihat kenyataan yang ada di lapangan,” katanya.

Yang membuat para investor ini terkejut saat akan merealisasikan investasinya adalah perbedaan harga barang di Nusa Penida yang lebih tinggi dari harga barang di Bali daratan.

“Perbedaan sekian persen itu yang membuat mereka akhirnya menunda. Kalau investor lokal Nusa Penida lancar saja karena mereka sudah tahu kondisi sehingga hitung-hitungan investasinya sudah tepat,” terangnya.

Selain itu, penundaan realisasi investasi itu terjadi karena banyak lokasi investasi yang dilirik investor tidak memiliki akses jalan, air dan listrik.

Saat ini Nusa Penida bagian barat seperti Nusa Lembongan dan Jungutbatu sudah cukup padat dan banyak dari warga lokal yang memanfaatkan lahannya sendiri untuk berinvestasi membangun fasilitas akomodasi.

Oleh karenanya, para investor luar Nusa Penida akhirnya memilih untuk berinvestasi di Nusa Penida bagian tengah dan timur seperti Desa Bunga Mekar, Tanglad, Batukandik, Klumpu.

Apalagi di desa-desa tersebut banyak menyimpan objek wisata indah yang kini banyak dikunjungi wisatawan seperti Pantai Klingking, Angel Billabong, dan lainnya.

“Namun kembali lagi, karena infrastruktur yang tidak memadai, mereka akhirnya menunda investasinya. Dan ini sempat dibahas di provinsi.

Dengan perbaikan infrastruktur yang terus dilakukan, kami berharap rencana investasi tersebut bisa segera terealisasi. Jika tidak bisa direalisasikan tahun ini, kami harap bisa direalisasikan tahun depan,” tandasnya.



SEMARAPURA – Realisasi Penanaman Modal Asing (PMA) dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) di Kabupaten Klungkung hingga bulan Oktober terbilang masih rendah.

Bahkan untuk PMA, belum terealisasi sama sekali. Kondisi ini terjadi lantaran para calon investor yang sebagian besar dari luar Kecamatan Nusa Penida, terkejut dengan biaya operasional dan hidup di Nusa Penida yang tinggi.

Tidak hanya itu, infrastruktur yang belum memadai di lokasi yang dilirik para investor untuk berinvestasi, juga menjadi penyebab realisasi hingga saat ini masih rendah.

Seperti tidak adanya akses jalan, air dan listrik di lokasi investasi. Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Klungkung I Made Sudiarkajaya menjelaskan,

PMDN di Klungkung tahun 2018 ditargetkan sebesar Rp 487,5 miliar, sementara untuk PAM ditargetkan USD 2,25 juta.

Namun, hingga Oktober 2018, realisasinya baru Rp 38,3 miliar untuk PMDN. Sementara untuk PMA, realisasinya nol.

“Sebenarnya untuk PMDN, para investor telah melakukan pendaftaran nilai investasi mencapai Rp 227 miliar lebih hingga Oktober, dan untuk PMA mencapai USD 34 ribu lebih.

Rencana investasi ini sebagian besar dilakukan di Nusa Penida. Namun karena berbagai hal, para investor melakukan penundaan investasi sehingga membuat realisasi menjadi kecil,” ujarnya.

Sudiarkajaya membeberkan, penundaan investasi sebagian besar dilakukan oleh investor dari luar Nusa Penida.

Diduga mereka belum mengetahui secara detail mengenai kondisi Nusa Penida. Mereka hanya tergiur dengan potensi keuntungan

yang bisa didapatkan dari industri pariwisata yang ada di Nusa Penida tanpa menelisik lebih jauh mengenai kendala yang akan ditemui jika berinvestasi di Telur Emas Bali ini.

“Kan banyak yang berinvestasi itu kadang-kadang buta tidak tahu lokasi, tidak tahu informasi pendukung. Mendengar informasi potensi bagus, peluang bagus, persaingan bagus,

pangsa pasar bagus, nilai bisnis langsung tinggi. Tapi, informasi detail tentang pendukungnya itu yang mereka belum dapat. Saat mereka terjun, baru mereka melihat kenyataan yang ada di lapangan,” katanya.

Yang membuat para investor ini terkejut saat akan merealisasikan investasinya adalah perbedaan harga barang di Nusa Penida yang lebih tinggi dari harga barang di Bali daratan.

“Perbedaan sekian persen itu yang membuat mereka akhirnya menunda. Kalau investor lokal Nusa Penida lancar saja karena mereka sudah tahu kondisi sehingga hitung-hitungan investasinya sudah tepat,” terangnya.

Selain itu, penundaan realisasi investasi itu terjadi karena banyak lokasi investasi yang dilirik investor tidak memiliki akses jalan, air dan listrik.

Saat ini Nusa Penida bagian barat seperti Nusa Lembongan dan Jungutbatu sudah cukup padat dan banyak dari warga lokal yang memanfaatkan lahannya sendiri untuk berinvestasi membangun fasilitas akomodasi.

Oleh karenanya, para investor luar Nusa Penida akhirnya memilih untuk berinvestasi di Nusa Penida bagian tengah dan timur seperti Desa Bunga Mekar, Tanglad, Batukandik, Klumpu.

Apalagi di desa-desa tersebut banyak menyimpan objek wisata indah yang kini banyak dikunjungi wisatawan seperti Pantai Klingking, Angel Billabong, dan lainnya.

“Namun kembali lagi, karena infrastruktur yang tidak memadai, mereka akhirnya menunda investasinya. Dan ini sempat dibahas di provinsi.

Dengan perbaikan infrastruktur yang terus dilakukan, kami berharap rencana investasi tersebut bisa segera terealisasi. Jika tidak bisa direalisasikan tahun ini, kami harap bisa direalisasikan tahun depan,” tandasnya.



Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/