alexametrics
26.5 C
Denpasar
Tuesday, August 9, 2022

Pungut USD 10 per Wisatawan Belum Jelas, Koster: Masih Cari Regulasi

DENPASAR – Wacana adanya kontribusi wisatawan yang ke Bali masih gabeng (tak jelas). Rencana mengenakan USD 10 per wisatawan itu masih terbentur regulasi.

Karena sejauh ini belum ada cantelan hukum atas rencana ini. “Masih harus dicarikan regulasi dan bentuknya,” kata Gubernur Koster

dalam rapat dengan pelaku pengelola pariwisata bertempat di Ruang Rapat Praja Sabha, Kantor Gubernur Bali, Denpasar kemarin.

Wagub Cok Ace saat diwawancari menyatakan kontribusi wisatawan secara konseptual disetujui oleh pengusaha pariwisata.

Sayangnya, saat rencana dimasukkan dalam penerbangan, terkendala peraturan internasional. Sehingga tidak bisa mengambil kontribusi wisatawan di dalam tiket.

Sedangkan kalau wisatawan dikenakan lewat hotel pertama dia menginap, kesulitannya kepada turis yang menginap di hotel yang murah. Sehingga harga retribusi dengan harga hotelnya sama.

Baca Juga:  Pantai Batu Tumpeng, Destinasi Alternatif Berselancar Incaran Turis

“Cuma kalau kita masukan ke penerbangan ternyata dilindungi peraturan internasional. Kalau lewat hotel yang pertama, itu yang sulit. Ya kalau hotel murah kan harganya sama,” ungkapnya.

Kendati demikian, menurutnya, dari pengusaha pariwisata tidak ada yang keberatan. Bahkan, ada yang mengajukan pertanyaan apa yang harus dilakukan industri pariwisata dalam kemajuan pariwisata Bali.

Sebab, pajak kan langsung diterima oleh pusat kabupaten/kota saja.  Dalam pertemuan itu, Koster juga menyinggung soal pembangunan infrastruktur.

Kata Koster, ke depan pembangunan harus berdasar desain yang terencana, bukan berdasar dadakan ketika ada kegiatan.

“Harus by design, bukan by accident. Seperti contoh dulu ada APEC bangun jalan tol, ada IMF bangun underpass. Itu hanya menyelesaikan masalah jangka pendek, bukan jangka panjang.

Baca Juga:  Erupsi Gunung Agung, Banyak Kontrak Musisi Kafe Diputus Tengah Jalan

Jadi sekarang kita desain infrastruktur Bali agar memadai hingga tahun-tahun berikutnya,” ujarnya di hadapan pelaku pariwisata seperti ASITA, PHRI, BTB serta tokoh-tokoh lainnya.

Ia menyebutkan, unsur penunjang lain adalah transportasi. Dia mengatakan, ke depan, Bali harus mewujudkan transportasi kereta api yang dikembangkan jaringannya dari bandara ke beberapa daerah tujuan wisata.

“Ini untuk memudahkan para wisatawan, terutama bagi mereka yang terburu-buru ingin menuju ke bandara, dan sebaliknya,” katanya. 



DENPASAR – Wacana adanya kontribusi wisatawan yang ke Bali masih gabeng (tak jelas). Rencana mengenakan USD 10 per wisatawan itu masih terbentur regulasi.

Karena sejauh ini belum ada cantelan hukum atas rencana ini. “Masih harus dicarikan regulasi dan bentuknya,” kata Gubernur Koster

dalam rapat dengan pelaku pengelola pariwisata bertempat di Ruang Rapat Praja Sabha, Kantor Gubernur Bali, Denpasar kemarin.

Wagub Cok Ace saat diwawancari menyatakan kontribusi wisatawan secara konseptual disetujui oleh pengusaha pariwisata.

Sayangnya, saat rencana dimasukkan dalam penerbangan, terkendala peraturan internasional. Sehingga tidak bisa mengambil kontribusi wisatawan di dalam tiket.

Sedangkan kalau wisatawan dikenakan lewat hotel pertama dia menginap, kesulitannya kepada turis yang menginap di hotel yang murah. Sehingga harga retribusi dengan harga hotelnya sama.

Baca Juga:  HORE! Industri Pariwisata Bali Bangkit, Ini Tanda-tandanya Kata Koster

“Cuma kalau kita masukan ke penerbangan ternyata dilindungi peraturan internasional. Kalau lewat hotel yang pertama, itu yang sulit. Ya kalau hotel murah kan harganya sama,” ungkapnya.

Kendati demikian, menurutnya, dari pengusaha pariwisata tidak ada yang keberatan. Bahkan, ada yang mengajukan pertanyaan apa yang harus dilakukan industri pariwisata dalam kemajuan pariwisata Bali.

Sebab, pajak kan langsung diterima oleh pusat kabupaten/kota saja.  Dalam pertemuan itu, Koster juga menyinggung soal pembangunan infrastruktur.

Kata Koster, ke depan pembangunan harus berdasar desain yang terencana, bukan berdasar dadakan ketika ada kegiatan.

“Harus by design, bukan by accident. Seperti contoh dulu ada APEC bangun jalan tol, ada IMF bangun underpass. Itu hanya menyelesaikan masalah jangka pendek, bukan jangka panjang.

Baca Juga:  Perluas Bandara dengan Cara Reklamasi, Bupati Giri Prasta Bergeming

Jadi sekarang kita desain infrastruktur Bali agar memadai hingga tahun-tahun berikutnya,” ujarnya di hadapan pelaku pariwisata seperti ASITA, PHRI, BTB serta tokoh-tokoh lainnya.

Ia menyebutkan, unsur penunjang lain adalah transportasi. Dia mengatakan, ke depan, Bali harus mewujudkan transportasi kereta api yang dikembangkan jaringannya dari bandara ke beberapa daerah tujuan wisata.

“Ini untuk memudahkan para wisatawan, terutama bagi mereka yang terburu-buru ingin menuju ke bandara, dan sebaliknya,” katanya. 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/