alexametrics
25.4 C
Denpasar
Tuesday, August 9, 2022

Baru 30 Persen Transaksi Non Tunai di Sektor Pariwisata di Bali

RadarBali.com – Ketua Aprindo Bali Gusti Ketut Sumardayasa menilai, transaksi non tunai terbukti meningkatkan produktivitas pelaku usaha.

Dia mencontohkan untuk di usaha ritel, pemanfaatan transaksi non tunai akan menghemat biaya pengiriman uang, dan yang utama mengefektifkan perusahaan untuk bertransaksi hingga mengurangi ancaman kriminalitas.

“Memang anggota Aprindo di Bali yang menerapkan sistem ini masih rendah, hanya 30 persen saja,” beber Gusti Sumardayasa.

Dengan sistem transaksi non tunai diterapkan di objek-objek wisata akan mengurangi tindakan kriminalitas.

Misalnya, adanya pungutan liar pada tiket dan juga pencegahan peredaran uang palsu. “Potensi kecurangan jika membayar secara non tunai sangat bisa dihindari,” kata Gusti Sumardayasa. 

Namun penerapan transaksi non tunai ini juga masih ada sejumlah masalah. “Misalnya ketika jaringan ada gangguan, otomatis akan terjadi masalah,” sambungnya.

Baca Juga:  Ajang Sinergi Kebijakan Digitalisasi, FEKDI 2022 Resmi Dibuka

Di sisi lain, Regional Transaction dan Consumer Banking Head Bank Mandiri Regional XI Bali dan Nusra Endra Wahyudi menyatakan kesiapannya untuk mendukung program pemerintah menerapkan transaksi non tunai di sejumlah objek wisata di Pulau Bali.

Selama ini pihaknya sudah mendukung transaksi non tunai di bisnis hotel restoran dan kafe (Horeka). Tetapi, ke depan akan merambah sejumlah objek wisata.

“Ke depan tentu saja siap. Hanya saja untuk objek pariwisata kami harus sesuaikan dengan pemda setempat,” tuturnya. 



RadarBali.com – Ketua Aprindo Bali Gusti Ketut Sumardayasa menilai, transaksi non tunai terbukti meningkatkan produktivitas pelaku usaha.

Dia mencontohkan untuk di usaha ritel, pemanfaatan transaksi non tunai akan menghemat biaya pengiriman uang, dan yang utama mengefektifkan perusahaan untuk bertransaksi hingga mengurangi ancaman kriminalitas.

“Memang anggota Aprindo di Bali yang menerapkan sistem ini masih rendah, hanya 30 persen saja,” beber Gusti Sumardayasa.

Dengan sistem transaksi non tunai diterapkan di objek-objek wisata akan mengurangi tindakan kriminalitas.

Misalnya, adanya pungutan liar pada tiket dan juga pencegahan peredaran uang palsu. “Potensi kecurangan jika membayar secara non tunai sangat bisa dihindari,” kata Gusti Sumardayasa. 

Namun penerapan transaksi non tunai ini juga masih ada sejumlah masalah. “Misalnya ketika jaringan ada gangguan, otomatis akan terjadi masalah,” sambungnya.

Baca Juga:  Walikota Jaya Negara Launching 3 Inovasi Berbasis Digital

Di sisi lain, Regional Transaction dan Consumer Banking Head Bank Mandiri Regional XI Bali dan Nusra Endra Wahyudi menyatakan kesiapannya untuk mendukung program pemerintah menerapkan transaksi non tunai di sejumlah objek wisata di Pulau Bali.

Selama ini pihaknya sudah mendukung transaksi non tunai di bisnis hotel restoran dan kafe (Horeka). Tetapi, ke depan akan merambah sejumlah objek wisata.

“Ke depan tentu saja siap. Hanya saja untuk objek pariwisata kami harus sesuaikan dengan pemda setempat,” tuturnya. 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/