alexametrics
28.7 C
Denpasar
Friday, August 19, 2022

Diberi Nama Amrita Kama Vila, Dibangun Tepat di Depan Pura Dalem Sala

GIANYAR – Vila yang dipermasalahkan putri Kerajaan Arab Saudi, Princess Lolwah binti Mohammed Abdullah bin Saud ternyata masih dalam tahap pengerjaan.

Lokasi vila bernama Amrita-Kama itu berada di depan Pura Dalem Sala, di Banjar Sala, Desa Pejeng Kawan, Kecamatan Tampaksiring. 

Rabu kemarin (29/1), di depan vila tampak berjejer sepeda motor. Di dalam areal, para pekerja sibuk bekerja. Kamar, gedung, kolam renang dan restoran hampir rampung.

Di bagian depan, dua orang satpam berjaga. Seorang satpam yang juga warga lokal mengaku tak tahu menahu dengan kasus yang melilit perusahaannya.

“Kami tidak tahu. Saya hanya jaga di sini. Masih ada tukang kerja,” jelasnya. Setahu dia, lokasi tanah vila itu dibeli oleh orang Indonesia. “Bos ini orang lokal. Ini ada tanah beli, sebagian kontrak,” jelasnya

Satpam itu juga memberikan nomor kuasa hukum. Sayangnya, nomor yang diberikan tidak aktif ketika dihubungi.

Kelian Dinas Banjar Sala, I Wayan Nama, 49, menyatakan, ada 2 unit vila di depan pura dalem. Yakni Amrita dan Kama.

Baca Juga:  Incar Pasar Cruise, Perpanjang Dermaga 60 Meter Terkendala Izin Amdal

“Tapi saya tidak tahu mana bangunan Amrita dan mana Kama. Karena tidak ada plang nama di depannya,” ujar Wayan Nama di kantor desa Pejeng Kawan.

Sepengetahuan dia, vila itu telah mengurus izin di tingkat bawah. “Itu sudah ada IMB (Izin mendirikan bangunan, red). Yang urus orang lokal, bukan orang asing,” jelasnya.

Mengenai areal vila itu membentang dari Banjar Sala melebar sampai desa tetangga di Desa Petulu Kecamatan Ubud. “Tapi rasanya bangunan yang di Petulu tidak jadi,” jelasnya.

Wayan Nama juga baru tahu jika vila itu bermasalah antara putri raja Arab dengan warga Indonesia. “Saya juga baru dengar kalau tidak masuk media. Itu bukan wewenang kami, kami tidak sampai ke ranah itu,” terangnya. 

Kata Nama, di masyarakat memang hampir semua mendengar masalah itu. “Tapi di masyarakat tidak ada pengaruhnya. Warga kami juga ada kerja di sana. Dan Banjar lain juga. Nggak ada masalah,” jelasnya.

Mengenai lokasi vila berdampingan dengan pura, sebelumnya sudah pernah ada rapat bersama. “Nggak ada masalah, semasih boleh, nggak langgar aturan, masyarakat nggak ada masalah,” jelasnya.

Baca Juga:  Musisi Jazz Dunia Ramaikan UVJF, Undang Band Lokal Ikut Kompetisi

Areal vila juga tampak terbelah jalan setapak yang telah dipasangi batu alam. “Itu jalan ke Pura Beji milik Banjar sala. Itu jalan hak guna pakai. Yang jelas kewajiban (kontribusi, red) di Banjar Sala sudah terpenuhi semua,” pungkasnya. 

Nama menambahkan, vila itu dibangun sekitar 8-9 tahun lalu atau sekitar tahun 2011. Masih berdasar sepengetahuannya, proyek pembangunan villa tersebut cukup sering berhenti di tengah jalan.

“Secara pasti tidak tahu. Yang saya lihat, ada tenaga kerja yang berhenti kerja cukup lama. Mungkin sekitar 6 bulan berhenti kerja, lalu lanjut lagi,” jelasnya.

Selama 9 tahun itu, diketahui tenaga kerja yang berhenti tersebut terjadi sekitar 3 kali. “Mungkin sudah ada 3 kali berhenti, entah memang jeda atau apa saya kurang tahu.

Kalau saat ini, ada tenaga yang kerja seperti biasa,” jelasnya. Tenaga kerja yang dilibatkan sekitar puluhan hingga ratusan. “Secara pasti tidak tahu, yang saya lihat tenaga kerja cukup banyak,” imbuhnya. 



GIANYAR – Vila yang dipermasalahkan putri Kerajaan Arab Saudi, Princess Lolwah binti Mohammed Abdullah bin Saud ternyata masih dalam tahap pengerjaan.

Lokasi vila bernama Amrita-Kama itu berada di depan Pura Dalem Sala, di Banjar Sala, Desa Pejeng Kawan, Kecamatan Tampaksiring. 

Rabu kemarin (29/1), di depan vila tampak berjejer sepeda motor. Di dalam areal, para pekerja sibuk bekerja. Kamar, gedung, kolam renang dan restoran hampir rampung.

Di bagian depan, dua orang satpam berjaga. Seorang satpam yang juga warga lokal mengaku tak tahu menahu dengan kasus yang melilit perusahaannya.

“Kami tidak tahu. Saya hanya jaga di sini. Masih ada tukang kerja,” jelasnya. Setahu dia, lokasi tanah vila itu dibeli oleh orang Indonesia. “Bos ini orang lokal. Ini ada tanah beli, sebagian kontrak,” jelasnya

Satpam itu juga memberikan nomor kuasa hukum. Sayangnya, nomor yang diberikan tidak aktif ketika dihubungi.

Kelian Dinas Banjar Sala, I Wayan Nama, 49, menyatakan, ada 2 unit vila di depan pura dalem. Yakni Amrita dan Kama.

Baca Juga:  Rilis Single "Sadar", Ini Maknanya Kata Lebri Partami

“Tapi saya tidak tahu mana bangunan Amrita dan mana Kama. Karena tidak ada plang nama di depannya,” ujar Wayan Nama di kantor desa Pejeng Kawan.

Sepengetahuan dia, vila itu telah mengurus izin di tingkat bawah. “Itu sudah ada IMB (Izin mendirikan bangunan, red). Yang urus orang lokal, bukan orang asing,” jelasnya.

Mengenai areal vila itu membentang dari Banjar Sala melebar sampai desa tetangga di Desa Petulu Kecamatan Ubud. “Tapi rasanya bangunan yang di Petulu tidak jadi,” jelasnya.

Wayan Nama juga baru tahu jika vila itu bermasalah antara putri raja Arab dengan warga Indonesia. “Saya juga baru dengar kalau tidak masuk media. Itu bukan wewenang kami, kami tidak sampai ke ranah itu,” terangnya. 

Kata Nama, di masyarakat memang hampir semua mendengar masalah itu. “Tapi di masyarakat tidak ada pengaruhnya. Warga kami juga ada kerja di sana. Dan Banjar lain juga. Nggak ada masalah,” jelasnya.

Mengenai lokasi vila berdampingan dengan pura, sebelumnya sudah pernah ada rapat bersama. “Nggak ada masalah, semasih boleh, nggak langgar aturan, masyarakat nggak ada masalah,” jelasnya.

Baca Juga:  Jadi Desa Wisata, Desa Kamasan Fokus Garap Budaya

Areal vila juga tampak terbelah jalan setapak yang telah dipasangi batu alam. “Itu jalan ke Pura Beji milik Banjar sala. Itu jalan hak guna pakai. Yang jelas kewajiban (kontribusi, red) di Banjar Sala sudah terpenuhi semua,” pungkasnya. 

Nama menambahkan, vila itu dibangun sekitar 8-9 tahun lalu atau sekitar tahun 2011. Masih berdasar sepengetahuannya, proyek pembangunan villa tersebut cukup sering berhenti di tengah jalan.

“Secara pasti tidak tahu. Yang saya lihat, ada tenaga kerja yang berhenti kerja cukup lama. Mungkin sekitar 6 bulan berhenti kerja, lalu lanjut lagi,” jelasnya.

Selama 9 tahun itu, diketahui tenaga kerja yang berhenti tersebut terjadi sekitar 3 kali. “Mungkin sudah ada 3 kali berhenti, entah memang jeda atau apa saya kurang tahu.

Kalau saat ini, ada tenaga yang kerja seperti biasa,” jelasnya. Tenaga kerja yang dilibatkan sekitar puluhan hingga ratusan. “Secara pasti tidak tahu, yang saya lihat tenaga kerja cukup banyak,” imbuhnya. 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/