alexametrics
25.4 C
Denpasar
Wednesday, August 17, 2022

Wabah Corona Meluas, Pelaku Wisata di Bali Berharap Tak Seganas SARS

MANGUPURA – Selain digempur grubug (wabah) yang menyebabkan 564 ekor babi tewas sia-sia, Kabupaten Badung juga “merana” karena merebaknya virus  orona.

Hal ini disampaikan Wakil Ketua Indonesian Hotel General Manager Association (IHGMA), I Made Ramia Adnyata SE MM CHA.

Agar novel coronavirus (2019-nCoV) atau virus corona tidak masuk ke Indonesia, khususnya Provinsi Bali, Ramia menegaskan pihaknya telah mengintruksikan

seluruh stakeholder yang berada di bawah naungan IHGMA agar mematuhi imbauan Menteri Pariwisata RI, Wishnutama Kusubandio.

Ramia menyebut ancaman penularan virus corona tak bisa dipandang sebelah mata. Mengacu pada data periode sebelumnya, yakni 2019, rata-rata kunjungan wisatawan China ke Bali mencapai 3.287 ribu per hari.

Oleh sebab itu, upaya pencegahan dari semua pemangku kepentingan sektor sangat penting.

 “Sebagaimana kita ketahui, virus asal Wuhan, China ini sudah menyebar ke-16 negara. Mau tidak mau, Bali sebagai daerah yang sangat diminati oleh wisatawan China harus meningkatkan kewaspadaan,” ucapnya.

Baca Juga:  Sulit Berpaling dari Sajian Bebek khas Warung Eropa

Untuk mengatasi dampak corona, Ramia menyebut pihaknya telah mengalihkan fokus promosi pariwisata ke sejumlah negara.

Antara lain Jepang, Amerika Serikat, Australia, Eropa, New Zealand, dan lain-lain. “Saya pribadi berharap keadaan segera pulih dan wabah corona

dapat ditangani sesigap mungkin oleh Pemerintah China,” tandas tokoh pariwisata asal Karangasem sekaligus General Manager (GM) Hotel Sovereign Bali itu.

Khusus di tempatnya bekerja, Ramia menyebut terjadi penurunan tingkat hunian mencapai 15 persen sehingga pihaknya menderita kerugian mencapai Rp 200 juta rupiah.

“411 room night cancel per 25 hingga 28 Januari 2020. Turis asal Tiongkok Shanghai, Guangzhou batal terbang dan menginap di sini. Kalau mereka punya deposit, kita keep.

Kapan datang bisa digunakan lagi,” jelas Ramia sembari menyebut pihaknya juga menggelar sosialisasi virus corona bekerja sama dengan Omsa Medic.

Bila menemukan wisatawan yang mengalami gejala terinfeksi virus corona, seperti mengeluh sakit, menderita gangguan saluran pernapasan, pilek, batuk, sakit tenggorakan,

Baca Juga:  Pandemi Corona, 4 Desa Adat di Sukawati Batasi Nikah & Upacara Ngaben

sakit kepala, dan demam selama beberapa hari, Ramia menyebut Hotel Sovereign Bali telah memiliki plan dan kerja sama dengan RS Sanglah.

“Kami tak bisa hanya mengandalkan alat pendeteksi suhu tubuh di pintu masuk Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai. Kami telah menyediakan master dan sarung tangan

gratis untuk wisatawan dan staf hotel. Pengalaman SARS dulu, butuh waktu 3 hingga 6 bulan untuk recovery agar situasi kembali normal. Semoga kali ini lebih cepat,” tegasnya.

Sembari menyebut tidak ada ritual khusus yang dilakukan untuk menangkal virus corona, Ramia mengatakan okupansi yang masih di kisaran 70 persen membuat pihaknya tidak melakukan pengurangan jumlah karyawan.

“Yang pasti kami menyiapkan kontinjensi plan sebagai antisipasi operasional hotel,” tegas pria murah senyum itu.

Ramia tak menampik banyak pihak yang drop karena wabah korona, khususnya mereka yang sangat mengandalkan kunjungan turis Negeri Tirai Bambu. 



MANGUPURA – Selain digempur grubug (wabah) yang menyebabkan 564 ekor babi tewas sia-sia, Kabupaten Badung juga “merana” karena merebaknya virus  orona.

Hal ini disampaikan Wakil Ketua Indonesian Hotel General Manager Association (IHGMA), I Made Ramia Adnyata SE MM CHA.

Agar novel coronavirus (2019-nCoV) atau virus corona tidak masuk ke Indonesia, khususnya Provinsi Bali, Ramia menegaskan pihaknya telah mengintruksikan

seluruh stakeholder yang berada di bawah naungan IHGMA agar mematuhi imbauan Menteri Pariwisata RI, Wishnutama Kusubandio.

Ramia menyebut ancaman penularan virus corona tak bisa dipandang sebelah mata. Mengacu pada data periode sebelumnya, yakni 2019, rata-rata kunjungan wisatawan China ke Bali mencapai 3.287 ribu per hari.

Oleh sebab itu, upaya pencegahan dari semua pemangku kepentingan sektor sangat penting.

 “Sebagaimana kita ketahui, virus asal Wuhan, China ini sudah menyebar ke-16 negara. Mau tidak mau, Bali sebagai daerah yang sangat diminati oleh wisatawan China harus meningkatkan kewaspadaan,” ucapnya.

Baca Juga:  Dukung Tutup Toko Mafia Tiongkok, Wabup: Sama Saja dengan Penjajahan

Untuk mengatasi dampak corona, Ramia menyebut pihaknya telah mengalihkan fokus promosi pariwisata ke sejumlah negara.

Antara lain Jepang, Amerika Serikat, Australia, Eropa, New Zealand, dan lain-lain. “Saya pribadi berharap keadaan segera pulih dan wabah corona

dapat ditangani sesigap mungkin oleh Pemerintah China,” tandas tokoh pariwisata asal Karangasem sekaligus General Manager (GM) Hotel Sovereign Bali itu.

Khusus di tempatnya bekerja, Ramia menyebut terjadi penurunan tingkat hunian mencapai 15 persen sehingga pihaknya menderita kerugian mencapai Rp 200 juta rupiah.

“411 room night cancel per 25 hingga 28 Januari 2020. Turis asal Tiongkok Shanghai, Guangzhou batal terbang dan menginap di sini. Kalau mereka punya deposit, kita keep.

Kapan datang bisa digunakan lagi,” jelas Ramia sembari menyebut pihaknya juga menggelar sosialisasi virus corona bekerja sama dengan Omsa Medic.

Bila menemukan wisatawan yang mengalami gejala terinfeksi virus corona, seperti mengeluh sakit, menderita gangguan saluran pernapasan, pilek, batuk, sakit tenggorakan,

Baca Juga:  2 Pedagang Pasar Badung Positif Covid-19, 19 Pedagang Jalani Test Swab

sakit kepala, dan demam selama beberapa hari, Ramia menyebut Hotel Sovereign Bali telah memiliki plan dan kerja sama dengan RS Sanglah.

“Kami tak bisa hanya mengandalkan alat pendeteksi suhu tubuh di pintu masuk Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai. Kami telah menyediakan master dan sarung tangan

gratis untuk wisatawan dan staf hotel. Pengalaman SARS dulu, butuh waktu 3 hingga 6 bulan untuk recovery agar situasi kembali normal. Semoga kali ini lebih cepat,” tegasnya.

Sembari menyebut tidak ada ritual khusus yang dilakukan untuk menangkal virus corona, Ramia mengatakan okupansi yang masih di kisaran 70 persen membuat pihaknya tidak melakukan pengurangan jumlah karyawan.

“Yang pasti kami menyiapkan kontinjensi plan sebagai antisipasi operasional hotel,” tegas pria murah senyum itu.

Ramia tak menampik banyak pihak yang drop karena wabah korona, khususnya mereka yang sangat mengandalkan kunjungan turis Negeri Tirai Bambu. 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/