alexametrics
25.4 C
Denpasar
Saturday, August 20, 2022

Festival Jegog, Upaya Pelestarian Budaya Khas Jembrana

NEGARA – Jegog merupakan salah satu kesenian yang hanya ada di Jembrana. Kesenian Jegog yang menggunakan alat musik

didominasi bambu ini sudah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Karena itu sebagai salah satu upaya pelestarian budaya, Pemkab Jembrana menggelar Festival Jegog 2019 yang mengusung tema The New Spirit Of Jegog.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jembrana Nengah Alit mengatakan, festival yang digelar selama dua hari mulai

Jumat (30/8) hingga Sabtu (31/8), di Gedung Kesenian Ir. Soekarno, bertujuan untuk mempertahankan seni budaya khas Jembrana yang sudah mulai terkikis.

“Tujuan kegiatan festival ini juga membentuk karakter generasi muda Jembrana yang berbudaya,” jelasnya.

Disamping itu, sebagai media untuk menyalurkan potensi dan daya kreatifitas seni dan menghidupkan sekaa-sekaa jegog yang ada di seluruh Jembrana.

Jegog juga sebagai sebuah atraksi wisata unggulan selain makepung, sehingga kedepannya kesenian jegog dapat ditonton oleh wisatawan.

Nengah Alit menambahkan, pada festival Jegog ke-2 tahun 2019 ini, pada hari pertama Jumat malam kemarin menampilkan tiga jegog kolaborasi yang berada di bawah Sanggar Seni Sana Seni.

Baca Juga:  Harga Hotel dan Vila di Kuta Utara Terjangkau, Okupansi Melonjak 60 %

Kemudian Sabtu malam (31/8), menampilkan jegog mebarung dibawah naungan paguyuban Jegog Jembrana dan sanggar seni Ghora Yowana Budaya dengan mengusung kurang lebih 60 sekaa jegog se Jembrana.

“Pelajar dari Papua yang menimba ilmu di Jembrana juga menonton sebagai tamu kehormatan,” ungkapnya.

Bupati Jembrana I Putu Artha dalam sambutannya menyampaikan, Jegog Festival 2019 yang merupakan pelaksanaan kedua kalinya ini didukung Kementerian Pariwisata.

Pelaksanaan festival in berangkat dari kepedulian untuk melestarikan budaya lokal khas Jembrana yang sudah mulai ditinggalkan. “Apabila dibiarkan maka akan mengancam kelestariannya,” ujar Bupati Artha.

Menurut Bupati Artha, setelah berbagai penelitian dilakukan tentang Jegog, akhirnya jegog ditetapkan menjadi warisan budaya tak benda oleh Kementerian pendidikan dan Kebudayaan.

Berangkat dari penghargaan tersebut, membuktikan bahwa begitu besar potensi budaya Jembrana sehingga sepatutnya menjadi prioritas untuk dilestarikan oleh seluruh masyarakat Jembrana.

Bupati Artha berharap tidak ada klaim budaya oleh daerah lain, bahkan negara lain seperti yang telah terjadi pada reog dan lagu daerah.

Baca Juga:  Favorit Jadi Jujukan Kapal Pesiar, Pelindo Janji Perpanjang Dermaga

“Sehingga jika kita mengenal kebudayaan kita sendiri tidak ada lagi pengakuan atas kebudayaan kita oleh pihak lain,” terangnya.

Mengenai jegog, lanjutnya, tidak hanya bicara mengenai gamelan atau alat musik jegog semata. Tetapi lebih dari itu, bupati berharap even yang digelar menjadi potret untuk mengenal Jembrana yang kaya dengan seni dan budaya.

Karena publik perlu diajak mengenal dan melestarikan keragaman budaya Jembrana serta kearifan lokal masyarakat untuk bersama membangun Jembrana, sesuai visi pemerintah kabupaten Jembrana membangun dari desa dan kelurahan.

Bupati mengapresiasi dan memberikan penghargaan atas kreativitas sanggar seni dan masyarakat khususnya komunitas jegog Jembrana yang mampu bersinergi dengan pemerintah kabupaten sehingga terselenggaranya Festival Jegog ini.

“Saya berharap Festival Jegog bisa menjadi trigger atau pemicu seluruh masyarakat untuk berkreatifitas, beriinovasi dalam, bidang seni budaya berbasis komunitas dan masyarakat,” tandasnya.  (rba)

 

 

 

 



NEGARA – Jegog merupakan salah satu kesenian yang hanya ada di Jembrana. Kesenian Jegog yang menggunakan alat musik

didominasi bambu ini sudah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Karena itu sebagai salah satu upaya pelestarian budaya, Pemkab Jembrana menggelar Festival Jegog 2019 yang mengusung tema The New Spirit Of Jegog.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jembrana Nengah Alit mengatakan, festival yang digelar selama dua hari mulai

Jumat (30/8) hingga Sabtu (31/8), di Gedung Kesenian Ir. Soekarno, bertujuan untuk mempertahankan seni budaya khas Jembrana yang sudah mulai terkikis.

“Tujuan kegiatan festival ini juga membentuk karakter generasi muda Jembrana yang berbudaya,” jelasnya.

Disamping itu, sebagai media untuk menyalurkan potensi dan daya kreatifitas seni dan menghidupkan sekaa-sekaa jegog yang ada di seluruh Jembrana.

Jegog juga sebagai sebuah atraksi wisata unggulan selain makepung, sehingga kedepannya kesenian jegog dapat ditonton oleh wisatawan.

Nengah Alit menambahkan, pada festival Jegog ke-2 tahun 2019 ini, pada hari pertama Jumat malam kemarin menampilkan tiga jegog kolaborasi yang berada di bawah Sanggar Seni Sana Seni.

Baca Juga:  Objek Wisata Swafoto Pantai Candikusuma Mulai Ditinggalkan, Ternyata…

Kemudian Sabtu malam (31/8), menampilkan jegog mebarung dibawah naungan paguyuban Jegog Jembrana dan sanggar seni Ghora Yowana Budaya dengan mengusung kurang lebih 60 sekaa jegog se Jembrana.

“Pelajar dari Papua yang menimba ilmu di Jembrana juga menonton sebagai tamu kehormatan,” ungkapnya.

Bupati Jembrana I Putu Artha dalam sambutannya menyampaikan, Jegog Festival 2019 yang merupakan pelaksanaan kedua kalinya ini didukung Kementerian Pariwisata.

Pelaksanaan festival in berangkat dari kepedulian untuk melestarikan budaya lokal khas Jembrana yang sudah mulai ditinggalkan. “Apabila dibiarkan maka akan mengancam kelestariannya,” ujar Bupati Artha.

Menurut Bupati Artha, setelah berbagai penelitian dilakukan tentang Jegog, akhirnya jegog ditetapkan menjadi warisan budaya tak benda oleh Kementerian pendidikan dan Kebudayaan.

Berangkat dari penghargaan tersebut, membuktikan bahwa begitu besar potensi budaya Jembrana sehingga sepatutnya menjadi prioritas untuk dilestarikan oleh seluruh masyarakat Jembrana.

Bupati Artha berharap tidak ada klaim budaya oleh daerah lain, bahkan negara lain seperti yang telah terjadi pada reog dan lagu daerah.

Baca Juga:  Patung Bambu Jadi Pembeda Soundrenaline 2018 di Bali, Tolong Lihat…

“Sehingga jika kita mengenal kebudayaan kita sendiri tidak ada lagi pengakuan atas kebudayaan kita oleh pihak lain,” terangnya.

Mengenai jegog, lanjutnya, tidak hanya bicara mengenai gamelan atau alat musik jegog semata. Tetapi lebih dari itu, bupati berharap even yang digelar menjadi potret untuk mengenal Jembrana yang kaya dengan seni dan budaya.

Karena publik perlu diajak mengenal dan melestarikan keragaman budaya Jembrana serta kearifan lokal masyarakat untuk bersama membangun Jembrana, sesuai visi pemerintah kabupaten Jembrana membangun dari desa dan kelurahan.

Bupati mengapresiasi dan memberikan penghargaan atas kreativitas sanggar seni dan masyarakat khususnya komunitas jegog Jembrana yang mampu bersinergi dengan pemerintah kabupaten sehingga terselenggaranya Festival Jegog ini.

“Saya berharap Festival Jegog bisa menjadi trigger atau pemicu seluruh masyarakat untuk berkreatifitas, beriinovasi dalam, bidang seni budaya berbasis komunitas dan masyarakat,” tandasnya.  (rba)

 

 

 

 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/