alexametrics
28.7 C
Denpasar
Tuesday, July 5, 2022

Pariwisata Buleleng Jalan Terus, Sempat Turun, Kini Kembali Normal

RadarBali.com – Aktifitas pariwisata di Kabupaten Buleleng kini kembali menggeliat. Kunjungan wisatawan, utamanya mancanegara, diakui sempat turun ketika status awas pertama kali disematkan.

Kini, kunjungan wisatawan pun berjalan dengan normal. Aktifitas pariwisata di Desa Sambirenteng, sempat terdampak pasca status awas disematkan pada Gunung Agung, lebih dari sebulan lalu.

Bahkan beberapa reservasi sempat dibatalkan. Kini tingkat reservasi pun sudah di atas 50 persen. Di Alamanda Resort Sambirenteng, misalnya.

Aktifitas wisatawan mancanegara tetap terlihat normal di resort tersebut. Hunian tamu, sejak sebulan terakhir disebut tetap normal. Bahkan di atas hangka 50 persen.

“Kondisi hotel ini, keadannya normal saja. Hunian tamu bulan ini dari awal sampai sekarang justru meningkat. Pengaruh Gunung Agung tidak terlalu signifikan,” kata Nyoman Sudiarti, Asisten Manajer Alamanda Resort.

Sudiarti mengatakan, wisatawan yang datang biasanya sudah mengetahui posisi hotel jaraknya cukup jauh dari Gunung Agung. Sehingga mereka tetap nyaman berada di areal hotel.

Setiap ada wisatawan yang melakukan check in, pihak hotel juga menjelaskan kondisi di sekitar hotel. Seringkali wisatawan juga menyertakan donasi kepada para pengungsi.

Untuk mengantisipasi erupsi Gunung Agung, pihak hotel pun sudah melakukan sejumlah persiapan.

“Kami sudah tutup ventilasi. Seandainya ada hujan abu, biar tidak ada abu vulkanik masuk. Kami juga sudah siapkan masker, dan siapkan makanan awet,” imbuhnya.

Kadis Pariwisata Buleleng Nyoman Sutrisna mengatakan, Buleleng justru menimpa limpahan wisatawan mancanegara.

Pada awal status awas disematkan, Sutrisna mengungkapkan ada beberapa hotel yang mengeluh turunnya kunjungan wisatawan.

Bahkan ada pembatalan kunjungan. Hanya saja jumlahnya tak besar. Hanya dua hotel. Itu pun ada di wilayah timur Kabupaten Buleleng.

Sementara hotel lainnya di wilayah barat dan tengah Buleleng, justru mendapat limpahan kunjungan wisatawan.

Penyebabnya, pariwisata Amed ditutup untuk aktifitas pariwisata karena masuk wilayah sektoral 12 kilometer, alias masuk Kawasan Rawan Bencana (KRB) I.

“Mereka memilih ke Buleleng. Kami malah dapat keuntungan, terutama Lovina dan Pemuteran. Mereka juga apresiasi terumbu karang kita. Katanya tidak kalah dengan Amed,” kata Sutrisna



RadarBali.com – Aktifitas pariwisata di Kabupaten Buleleng kini kembali menggeliat. Kunjungan wisatawan, utamanya mancanegara, diakui sempat turun ketika status awas pertama kali disematkan.

Kini, kunjungan wisatawan pun berjalan dengan normal. Aktifitas pariwisata di Desa Sambirenteng, sempat terdampak pasca status awas disematkan pada Gunung Agung, lebih dari sebulan lalu.

Bahkan beberapa reservasi sempat dibatalkan. Kini tingkat reservasi pun sudah di atas 50 persen. Di Alamanda Resort Sambirenteng, misalnya.

Aktifitas wisatawan mancanegara tetap terlihat normal di resort tersebut. Hunian tamu, sejak sebulan terakhir disebut tetap normal. Bahkan di atas hangka 50 persen.

“Kondisi hotel ini, keadannya normal saja. Hunian tamu bulan ini dari awal sampai sekarang justru meningkat. Pengaruh Gunung Agung tidak terlalu signifikan,” kata Nyoman Sudiarti, Asisten Manajer Alamanda Resort.

Sudiarti mengatakan, wisatawan yang datang biasanya sudah mengetahui posisi hotel jaraknya cukup jauh dari Gunung Agung. Sehingga mereka tetap nyaman berada di areal hotel.

Setiap ada wisatawan yang melakukan check in, pihak hotel juga menjelaskan kondisi di sekitar hotel. Seringkali wisatawan juga menyertakan donasi kepada para pengungsi.

Untuk mengantisipasi erupsi Gunung Agung, pihak hotel pun sudah melakukan sejumlah persiapan.

“Kami sudah tutup ventilasi. Seandainya ada hujan abu, biar tidak ada abu vulkanik masuk. Kami juga sudah siapkan masker, dan siapkan makanan awet,” imbuhnya.

Kadis Pariwisata Buleleng Nyoman Sutrisna mengatakan, Buleleng justru menimpa limpahan wisatawan mancanegara.

Pada awal status awas disematkan, Sutrisna mengungkapkan ada beberapa hotel yang mengeluh turunnya kunjungan wisatawan.

Bahkan ada pembatalan kunjungan. Hanya saja jumlahnya tak besar. Hanya dua hotel. Itu pun ada di wilayah timur Kabupaten Buleleng.

Sementara hotel lainnya di wilayah barat dan tengah Buleleng, justru mendapat limpahan kunjungan wisatawan.

Penyebabnya, pariwisata Amed ditutup untuk aktifitas pariwisata karena masuk wilayah sektoral 12 kilometer, alias masuk Kawasan Rawan Bencana (KRB) I.

“Mereka memilih ke Buleleng. Kami malah dapat keuntungan, terutama Lovina dan Pemuteran. Mereka juga apresiasi terumbu karang kita. Katanya tidak kalah dengan Amed,” kata Sutrisna



Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/