alexametrics
25.4 C
Denpasar
Thursday, July 7, 2022

Digital Nomad Perlu Digarap dengan Visa Khusus 3 Bulan hingga 1 Tahun

Fenomena digital nomad sudah menjadi hal yang lazim di tengah berkembangkan teknologi berbasis internet. Salah satunya, para pekerja bisa mengerjakan pekerjaan dari jara jauh. Bahkain lintas negara dan benua. Bali menjadi salah satu surga bagi digital nomad. Bisa wisata sambil kerja.

NI KADEK NOVI FEBRIANI, Canggu

SEJAK Maret 2020 lalu Indonesia dilanda pandemi Covid-19. Segala kegiatan mendadak terhenti termasuk pariwisata di Bali. Tiada penerbangan internasional dan juga warga asing pun jarang terlihat di Pulau Dewata ini.

Kuta yang selama ini menjadi jujukan turis dengan banyaknya akomodasi wisata hingga hiburan malam seakan menjadi kota hantu di malam hari. Banyak jalanan yang sepi. Pemandangan ini hampir 180 derajat daripada sebelum pandemi melanda. 

Sebelum pandemi Covid-19 menyerang Bali, Kuta bagaikan lautan manusia. Dari pantai, restoran, hotel, klub malam, hingga jalanannya dipenuhi manusia. Bahkan, malam hari banyak turis yang teler usai menikmati hiburan.

Tappi, di kawasan Canggu, suasanyanya berbanding terbalik. Jalan seputaran Canggu di Pantai Berawa dan Pantai Batu Bolong masih ramai wisatawan asing. Mereka ada yang jalan kaki maupun naik sepeda motor.

Banyak aktivitas dilakukan di wilayah Canggu, yang kini bak kampung turis. Maklum saja, ketika Kuta sudah penuh sesak, banyak vila dan rumah hunian yang muncul di Canggu dan sekitarnya.   

 

Di Canggu, para wisatawan ini beraktivitas selancar, atau menikmati pantai Berawa, hingga chill (santai) di kafe pinggir pantai maupun sekadar ngopi. Sebagian dari mereka bukan sekadar berwisata. Mereka sebetulnya sedang melakukan kerja jarak jauh juga. Aktivitas mereka dimulai dari pagi dari sekitar pukul 09.00 untuk sarapan sampai malam.  

 

Dari bincang-bincang radarbal.id dengan pemilik kafe, para warga asing itu berasal dari Belanda, Ukraina, Amerika Serikat,  Rusia, juga Australia. Ada yang sudah tinggal beberapa tahun di Bali maupun baru hitungan bulan. 

 

Canggu tampak hidup tak seperti Kuta seperti kota mati yang dahulunya menjadi tempat para turis. Adanya short cut di Canggu, penghubung dari Batu Belig, Kerobokan ke Pantai Berawa, Canggu dan ke barat lagi sampai Pantai Bolong memudahkan para pengendara. Walaupun jalan itu sempit dan kerap padat akan kendaraan roda dua dan roda empat. 

 

Ketua PHRI Badung, I Gusti Agung Rai Suryawijaya mengatakan bahwa Canggu memang menjadi tempat favorit baru di Bali yang nyaman untuk para wisatawan. Turis ingin mencari suasana baru. Kalau dulu di Kuta, Legian, Seminyak dan Petitenget, kini bergeser ke Batu Belig sampai Canggu. 

 

“Canggu menjadi tempat favorit. Karena di Canggu ada komunitas tamu apa saja dari Eropa, Australia, Rusia. Kafe lebih kompleks banyak sekali nomadic tourism,” ujarnya.

 

Di masa pandemi, Canggu dipilih sebagai tempat bekerja yaitu work from Bali. Di Canggu ada banyak tempat yang disewakan untuk co-working space.

PPara digital nomad atau para pekerja jarak jauh ini, menggemari Canggu karena tempat, harga di sana juga terjangkau sehingga menjadi daya tarik dan komunitas yang baik. 

 

Agung Rai menyarankan kepada Pemerintah Kabupaten Badung untuk menjadikan Canggu sebagai income. Dari restaurant yang banyak di sana, toko-toko, atau pasar swalayan juga ada disana. Orang asing yang menjadikan Bali tempat bekerja walau perusahaannya di luar negeri menjadi suatu nilai lebih. Dari sana menurutnya bisa mendapatkan kontribusi untuk Bali. 

 

“Kalau pajak kan tidak bisa karena perusahaannya bukan di Bali. Tapi kalau kontribusi bisa saja sumbangsih mereka untuk ikut merawat, konservasi di  Bali,” ujarnya. 

 

Ia juga menambahkan banyaknya turis datang ke Bali itu melalui penerbangan Jakarta. Hanya karena Jakarta bisa sebagai pintu masuk warga internasional. Kemudian karantina di Jakarta baru ke Bali dengan penerbangan domestik.

“Perkiraan data kalau di Bali masih ada 7000 orang asing mereka banyak datang setelah karantina di Jakarta dan pakai domestic flight. Kalau mereka bekerja dari Bali sekaligus  berlibur dan juga harga murah dibandingkan di Eropa,” paparnya. 

 

Maka dari itu, digital nomad tourism  ini menurutnya sangat potensial bagi Bali khususnya Canggu dan Ubud. Sehingga dibutuhkan aturan khusus, biar ada Visa 3 bulan, 6 bulan bahkan setahun. bagi mereka yang ingin tinggal dalam waktu lama di Bali. 

Jika kondisi sudah normal hal ini patut menjadi perhatian pemerintah karena Digital Nomad ini menjadi trend dan memberikan dampak ekonomi bagi warga Bali.



Fenomena digital nomad sudah menjadi hal yang lazim di tengah berkembangkan teknologi berbasis internet. Salah satunya, para pekerja bisa mengerjakan pekerjaan dari jara jauh. Bahkain lintas negara dan benua. Bali menjadi salah satu surga bagi digital nomad. Bisa wisata sambil kerja.

NI KADEK NOVI FEBRIANI, Canggu

SEJAK Maret 2020 lalu Indonesia dilanda pandemi Covid-19. Segala kegiatan mendadak terhenti termasuk pariwisata di Bali. Tiada penerbangan internasional dan juga warga asing pun jarang terlihat di Pulau Dewata ini.

Kuta yang selama ini menjadi jujukan turis dengan banyaknya akomodasi wisata hingga hiburan malam seakan menjadi kota hantu di malam hari. Banyak jalanan yang sepi. Pemandangan ini hampir 180 derajat daripada sebelum pandemi melanda. 

Sebelum pandemi Covid-19 menyerang Bali, Kuta bagaikan lautan manusia. Dari pantai, restoran, hotel, klub malam, hingga jalanannya dipenuhi manusia. Bahkan, malam hari banyak turis yang teler usai menikmati hiburan.

Tappi, di kawasan Canggu, suasanyanya berbanding terbalik. Jalan seputaran Canggu di Pantai Berawa dan Pantai Batu Bolong masih ramai wisatawan asing. Mereka ada yang jalan kaki maupun naik sepeda motor.

Banyak aktivitas dilakukan di wilayah Canggu, yang kini bak kampung turis. Maklum saja, ketika Kuta sudah penuh sesak, banyak vila dan rumah hunian yang muncul di Canggu dan sekitarnya.   

 

Di Canggu, para wisatawan ini beraktivitas selancar, atau menikmati pantai Berawa, hingga chill (santai) di kafe pinggir pantai maupun sekadar ngopi. Sebagian dari mereka bukan sekadar berwisata. Mereka sebetulnya sedang melakukan kerja jarak jauh juga. Aktivitas mereka dimulai dari pagi dari sekitar pukul 09.00 untuk sarapan sampai malam.  

 

Dari bincang-bincang radarbal.id dengan pemilik kafe, para warga asing itu berasal dari Belanda, Ukraina, Amerika Serikat,  Rusia, juga Australia. Ada yang sudah tinggal beberapa tahun di Bali maupun baru hitungan bulan. 

 

Canggu tampak hidup tak seperti Kuta seperti kota mati yang dahulunya menjadi tempat para turis. Adanya short cut di Canggu, penghubung dari Batu Belig, Kerobokan ke Pantai Berawa, Canggu dan ke barat lagi sampai Pantai Bolong memudahkan para pengendara. Walaupun jalan itu sempit dan kerap padat akan kendaraan roda dua dan roda empat. 

 

Ketua PHRI Badung, I Gusti Agung Rai Suryawijaya mengatakan bahwa Canggu memang menjadi tempat favorit baru di Bali yang nyaman untuk para wisatawan. Turis ingin mencari suasana baru. Kalau dulu di Kuta, Legian, Seminyak dan Petitenget, kini bergeser ke Batu Belig sampai Canggu. 

 

“Canggu menjadi tempat favorit. Karena di Canggu ada komunitas tamu apa saja dari Eropa, Australia, Rusia. Kafe lebih kompleks banyak sekali nomadic tourism,” ujarnya.

 

Di masa pandemi, Canggu dipilih sebagai tempat bekerja yaitu work from Bali. Di Canggu ada banyak tempat yang disewakan untuk co-working space.

PPara digital nomad atau para pekerja jarak jauh ini, menggemari Canggu karena tempat, harga di sana juga terjangkau sehingga menjadi daya tarik dan komunitas yang baik. 

 

Agung Rai menyarankan kepada Pemerintah Kabupaten Badung untuk menjadikan Canggu sebagai income. Dari restaurant yang banyak di sana, toko-toko, atau pasar swalayan juga ada disana. Orang asing yang menjadikan Bali tempat bekerja walau perusahaannya di luar negeri menjadi suatu nilai lebih. Dari sana menurutnya bisa mendapatkan kontribusi untuk Bali. 

 

“Kalau pajak kan tidak bisa karena perusahaannya bukan di Bali. Tapi kalau kontribusi bisa saja sumbangsih mereka untuk ikut merawat, konservasi di  Bali,” ujarnya. 

 

Ia juga menambahkan banyaknya turis datang ke Bali itu melalui penerbangan Jakarta. Hanya karena Jakarta bisa sebagai pintu masuk warga internasional. Kemudian karantina di Jakarta baru ke Bali dengan penerbangan domestik.

“Perkiraan data kalau di Bali masih ada 7000 orang asing mereka banyak datang setelah karantina di Jakarta dan pakai domestic flight. Kalau mereka bekerja dari Bali sekaligus  berlibur dan juga harga murah dibandingkan di Eropa,” paparnya. 

 

Maka dari itu, digital nomad tourism  ini menurutnya sangat potensial bagi Bali khususnya Canggu dan Ubud. Sehingga dibutuhkan aturan khusus, biar ada Visa 3 bulan, 6 bulan bahkan setahun. bagi mereka yang ingin tinggal dalam waktu lama di Bali. 

Jika kondisi sudah normal hal ini patut menjadi perhatian pemerintah karena Digital Nomad ini menjadi trend dan memberikan dampak ekonomi bagi warga Bali.



Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru