MANGUPURA- Pulihnya pariwisata Bali mulai dirasakan dengan padatnya jalan menuju ke obyek wisata. Salah satunya di Jalan Uluwatu I yang menghubungkan Jalan By Pass Ngurah Rai menuju Pantai Jimbaran dan Kedonganan. Sekaligus merupakan jalan menuju ke Uluwatu, Ungasan, dan Pecatu.
Kemacetan pun kembali menjadi permasalahan yang harus diatasi di sekitar Jalan Uluwatu I. Bendesa Adat Jimbaran, I Gusti Made Rai Dirga Arsana Putra mengatakan, tim pengusul telah mengajukan rencana jalan alternatif dalam mengatasi kemacetan.
"Kalau progres yang saya tahu, kita ada tim pengusul rencana jalan alternatif untuk memecah kemacetan di Jalan Uluwatu I. Setelah tim terbentuk, kita melapor ke Pak Bupati," ungkapnya.
Bupati Badung dan jajaran pun merespon dengan sangat antusias, setelah melihat apa yang terjadi di Jalan Uluwatu I. "Memang betul-betul krodit, terlebih sekarang pariwisata sudah normal. Jadi untuk waktu tempuh Jimbaran ke Uluwatu rata-rata sekarang perlu waktu satu jam lebih," sambungnya.
Hal ini tentu sangat mengganggu ke depannya. Atas respon positif dari Pemkab Badung, pihaknya melakukan sosialiasi ulang kepada masyarakat Jimbaran, terutama pada nelayan terkait dengan rencana pembukaan pantai dan terbukanya akses baru. Akses ini disebutnya bisa menghubungkan Jalan Uluwatu I dengan pesisir pantai.
Adapun progresnya hingga saat ini yang akan dimulai di bulan September atau awal Oktober yakni penataan kawasan di pinggir pantai. "Sehingga nanti badan jalan yang akan ditetapkan memang betul-betul terbebas dari pemilikan lahan. Untuk wilayah di tepi pantai, nelayan, para pedagang souvenir, cafe, semua sudah sepakat untuk segera menerima penatan ini," ungkapnya.
Penataan ini nantinya mempermudah akses masuk ke pantai ketika Jalan Uluwatu I semakin krodit. Dengan demikian, wisatawan yang ingin mampir menikmati kuliner di Jimbaran tentu akan lebih nyaman.
Terkait dengan teknis lebih lanjut, pihak desa sudah berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Badung melalui tim lapangan. Termasuk mengenai gambar hingga spesifikasi teknis yang akan digunakan, semua sudah berada di tangan tim Dinas PUPR Badung.
Untuk diketahui, jalan alternatif ini sudah diusulkan di tahun 2014 lalu. Alasan yang paling mendasar adalah sering terjadinya kecelakaan di tanjakan Jalan Uluwatu I. Bahkan pernah ada kejadian rem blong yang akhirnya memakan banyak korban. "Melihat dari kondisi seperti itu, akhirnya kita harus punya alternatif. Sehingga nanti jalan raya dari Jimbaran, Kuta, Nusa Dua ke arah Uluwatu bisa ada alternatif yang mengimbangi kepadatan ini," kata Rai Dirga.
Terutama ketika jam-jam sore atau jam padatnya pengunjung ke Uluwatu. Terlebih dengan dibukanya akses sekarang di Pantai Pandawa dan Pantai Melasti, sehingga tingkat kunjungan ke daerah selatan semakin tinggi dan mau tidak mau pasti melalui Jimbaran.
Pemecah kemacetan tersebut diusulkan dari Uluwatu turun ke Jimbaran melalui arah barat, melalui Labuan Sait, tembus ke Ayana, dan kemudian turun ke Jimbaran. "Sehingga nanti di Jimbaran baru dia menjadi alur yang bisa diatur satu arah atau bagaimana sebaiknya. Sehingga kemacetan tidak di jalan tanjakan ini," tuturnya.
Dari desa adat tentunya tidak inginkan kemacetan berkepanjangan di kawasan wisata, terutama di Pantai Balangan, Pantai Melasti, Pantai Pandawa, termusuk kawasan Garuda Wisnu Kencana (GWK) yang akan terus menjadi tujuan kunjungan wisatawan. Khususnya bagi wisatawan domestik yang menggunakan bus.
"Itulah alasan yang paling mendasar dari tim kita di desa, kelurahan, dan LPM untuk bagiamana caranya Pemkab Badung lebih awal melakukan antisipasi. Jangan sampai kondisi di Canggu terulang lagi di wilayah selatan," tuturnya.
Pada rencana penataan kali ini, Bupati Badung maupun Dinas PUPR sedang mencarikan alternatif yang terbaik agar tidak mengganggu para pemilik lahan dan properti, tetapi juga tidak menghambat adanya jalur alternatif. (*)
Editor : Donny Tabelak