Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Kreatif dan Inspiratif!. Suwitra Produksi Gamelan Berbahan Drim Bekas, Begini Kisahnya

Ni Made Ari Rismaya Dewi • Kamis, 29 Februari 2024 | 04:10 WIB

 

KREATIF: Suwirta dan gong yang diproduksinya dari drim bekas.
KREATIF: Suwirta dan gong yang diproduksinya dari drim bekas.

MANGUPURA, radarballi.id - Sentra produksi gamelan sudah eksis di Kabupaten Badung sejak tahun 1970-an. Salah satu bengkel yang terus memproduksi gamelan hingga saat ini yaitu milik Nyoman Suwitra di Dusun Selat, Desa Beringkit, Kecamatan Mengwi, Badung.

Gamelan buah karya Suwitra ini pun sudah memasuki pasar di luar Badung. Seperti di Kabupaten Jembrana dan Buleleng.

Uniknya, bengkel milik Suwitra ini tak diproduksi menggunakan bahan logam kuningan, melainkan dibuat dari olahan drim bekas. Alhasil, harga gamelannya jauh lebih terjangkau.

 Baca Juga: Cek Fakta!, Ternyata Lima Bus dan Satu Motor Hangus Terbakar di Bengkel Aldy Pondok Indah Karena ini

Diceritakannya ide memproduksi gamelan dari olahan drim bekas berawal karena keluarganya yang lebih dulu membuat perabot rumah tangga. Bahan yang digunakan yaitu drim bekas dari Pulau Jawa.

Keluarganya pun melihat adanya peluang untuk mengolah bahan drim bekas menjadi gamelan. Karena diakuinya produksi gamelan di masa itu memerlukan modal yang besar.

"Modal produksinya besar dan belum cukup kemampuan untuk membuat itu. (Di tahun itu, red) pasar gamelan yang ramai. Kami mulai berpikir, kenapa tidak coba saja sambil buat gamelan," ungkapnya, mengisahkan..

 Baca Juga: Empat Pengedar Sabu-Sabu di Tabanan akhirnya Digulung, Ini Sepak Terjangnya Sebelum Diberangus

Ia sekeluarga lantas mencoba untuk merakit lempengan drim bekas hingga menyerupai bagian-bagian gamelan. Hingga lahirlah karya gamelan gong, kecek, hingga riong dari bengkelnya.

Bengkel ini mulai dibangun dan ditekuni oleh sang ayahanda, Made Kembar, pada tahun 1970-an. Kemudian mulai tahun 1980, dirinya mulai ikut membantu di bengkel dan meneruskan usaha ini sebagai generasi kedua.

Gamelan dijual dengan harga yang lebih terjangkau dan berhasil menarik minat masyarakat. Saat ini usahanya juga serint kedatangan pesanan dari kelompok seni di luar kabupaten.

 Baca Juga: Rekapitulasi Suara Selesai, Semua Saksi di Kecamatan Buleleng Bertanda Tangan, Begini Menurut Ketua PPK

"Peminatnya bukan cuma pribadi, tapi juga dari kelompok. Sekolah-sekolah TK itu juga pesan gamelannya pakai gamelan besi karena lebih murah," kata Suwitra.

Gamelan yang diproduksinya dibanderol dari harga Rp200 ribu hingga Rp500 ribu. Sementara instrumen gamelan yang berukuran besar dijual sampai harga Rp1 juta.

Waktu pengerjaannya pun bervariasi tergantung jenis gamelannya. Seperti yang paling mudah yaitu kecek yang bisa selesai dalam waktu dua hari. Sementara gamelan jenis gong memerlukan waktu lebih lama, yaitu sampai lima hari.

 Baca Juga: Dewa Ratu! Pengendara Motor Tewas Tertabrak Mobil di Jalan Denpasar-Singaraja, Ini Penyebabnya

Adapun prosesnya dimulai dari pemotongan drim menjadi pelat, proses bentuk, pengelasan, hingga finishing. Pengerjaannya dilakukan oleh pekerja yang masih berhubungan keluarga.***

 

Editor : M.Ridwan
#bahan bekas #gamelan #DRim #radarbali