MANGUPURA, radarbali.jawapos.com - Pedestrian Pantai Kuta masih rusak akibat hantaman gelombang pasang air laut Jumat lalu (7/11/2025).
Akibat gelombang tinggi paving pedestrian rusak cukup parah, namun masih dibiarkan dan belum ada perbaikan. Warga maupun wisatawan kesulitan saat berjalan-jalan di Pantai Kuta.
Pedagang setempat terpaksa membuat pagar dari kayu gelondongan menghalau air laut. Upaya itu dikarenakan, biasanya saat malam hari gelombang tinggi.
”Ya buat pagar kayu. Malam hari suka pasang. Nunggu pemerintah lama,”ungkap salah satu pedagang di Pantai Kuta.
Tampak bean bag chair warna merah yang tergeletak begitu saja. Biasanya kursi empuk itu disewa untuk wisatawan yang menikmati pemandangan pantai.
Akibat trotoar yang rusak, pedagang setempat kesulitan berjualan. Selain sepi karena turis kesusahan lewat, mereka juga ketakutan dengan ombak besar yang merusak barang-barang mereka. “Susah tamunya lewat, sepi,” cetusnya.
Sementara itu, dikonfirmasi dengan Kepala Dinas PUPR Perkim Bali, Nusakti Yasa Wedha mengenai kondisi trotoar di Kuta diakui milik pemkab badung, saat ini memang sedang ada kegiatan BWS untuk
Sand nourishment.”Silahkan lebih lanjut di konfirmasi ke Kabupaten Badung,” kata Nusakti.
Baca Juga: Konsulat-Jenderal Australia Meresmikan Papan Nama Kantor dengan Aksara Bali Bersama Gubernur Bali
Sementara itu dikonfirmasi terpisah dengan Kabid Sumber Daya Alam (SDA) PUPR Kabupaten Badung Agung Rama menyatakan, pedestrian yang rusak sekitar 78 meter. Ia menyebut, pedestrian tidak rusak, namun hanya terputus.
Penanganan sementara dari PUPR Kabupaten Badung hanya sekadar perapian paving."Tidak rusak. Itu namanya putus," ucap Gung Rama.
Terkait upaya pedagang membuat pagar untuk menghalangi ombak, menurut Gung Rama itu tidak akan lama karena sedang musim rob."Rugikan itu (pasang pagar kayu, karena musim rob," ucapnya.
Penanganan kerusakan pedestrian tersebut, menurut Gung Rama, Pemkab Badung telah mengatensi lakukan mitigasi risiko arus gelombang yang tinggi bulan ini. Sayangnya, perbaikan pedestrian yang rusak menunggu penyelesaian pengerjaan breakwater dan pengisian pasir milik Balai Wilayah Sungai.
"Kita melakukan melakukan beton-beton sebagai walk way, kalau situasi rob menurun serta kegiatan Balai Wilayah Sungai kan ada pembangun itu. Sudah ada pembangunan break water dan pengisian pasir. Setelah itu baru akan menata kembali," jelasnya.
Ditanya mengenai waktu penanganan? Terang Gung Rama dengan penggelontoran pemasangan sistem swakelola. Gung Rama menyatakan, masih pengerjaan dengan merapikan paving-paving tersebut.
"Merapikan. Total 76 apa 78 meter. Alat kita masih bekerja," sebutnya.***
Editor : M.Ridwan