
Oleh: Santy Sastra
(Mindset Motivator & Hypnoterapist)
MAKAN bukan lagi sekadar memenuhi kebutuhan tubuh. Banyak orang makan untuk menenangkan hati, merayakan kebahagiaan, atau melupakan kesedihan. Fenomena ini disebut emotional eating.
Emotional eating terjadi ketika makanan digunakan sebagai pelarian dari emosi. Stres, bosan, marah, bahkan bahagia bisa memicu keinginan makan berlebihan tanpa rasa lapar fisik.
Bedanya dengan lapar biasa terlihat jelas. Lapar fisik muncul perlahan, bisa ditunda, dan puas dengan makanan apa saja.
Lapar emosional datang tiba-tiba, mendesak, dan hanya ingin makanan tertentu seperti cokelat atau gorengan.
Saat stres, tubuh memproduksi hormon kortisol. Hormon ini meningkatkan nafsu makan, terutama pada makanan tinggi gula dan lemak.
Otak menganggap makanan sebagai hadiah cepat untuk menenangkan diri.
Masalahnya, efek tenang itu hanya sementara. Setelah makan berlebihan, muncul rasa bersalah, sesak, dan berat badan naik. Lingkaran ini membuat emosi makin tidak stabil.
