RADAR BALI - Kondisi fisik bangunan Pasar Ikan Higienis Kedonganan di Kecamatan Kuta, Badung, kini berada dalam kondisi yang sangat memprihatinkan.
Sentra perikanan terbesar di Bali serta daya tarik wisata mina bahari tersebut terlihat kumuh karena kondisi bangunan yang telah berusia puluhan tahun, tidak memiliki instalasi pengolah air limbah, pengaturan parkir yang tidak terkelola, serta deretan warung dengan kondisi dan sanitasi yang buruk.
Hal ini memicu perhatian serius dari Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Badung yang langsung turun ke lapangan.
Dari hasil pemantauan para wakil rakyat, pasar ikan higienis yang dikelola oleh Desa Adat Kedonganan ini mendesak untuk dirombak total secara menyeluruh.
Penataan ulang direncanakan menyasar pembangunan kembali infrastruktur gedung pasar, area parkir, lapak pedagang warung-warung di sekitar kawasan, hingga sistem Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).
Sebagai pasar yang mengusung konsep "higienis", penurunan standar kebersihan dan sanitasi yang terjadi saat ini dikhawatirkan dapat memperburuk citra Kedonganan di mata wisatawan, mengingat kawasan ini merupakan salah satu urat nadi ekonomi perikanan sekaligus destinasi wisata kuliner laut unggulan di Kabupaten Badung.
Selain kerusakan fisik dan masalah sanitasi, kapasitas fasilitas pendukung utama seperti tempat penyimpanan ikan juga dinilai sudah tidak mampu mengakomodasi kebutuhan para nelayan serta pelaku usaha.
Fasilitas cold storage yang ada saat ini merupakan bantuan lama yang telah beroperasi lebih dari 15 tahun dengan kapasitas terbatas, yaitu sekitar 30 hingga 35 ton saja.
Daya tampung tersebut sudah tidak sebanding dengan tingginya volume hasil tangkapan ikan yang masuk ke Kedonganan yang mencapai 100 ton per hari.
Pihak dewan mendorong pengadaan gudang pendingin (cold storage) baru dengan kapasitas minimal 100 ton per hari agar komoditas hasil laut dapat disimpan dengan standar kesegaran yang tinggi sebelum didistribusikan ke pasar atau restoran.
Terkait ketersediaan lahan untuk pengembangan fasilitas perikanan ini, Desa Adat Kedonganan telah menyiapkan aset tanah seluas 25 hingga 30 are sehingga tidak menjadi kendala dalam proses pembangunan.
Percepatan revitalisasi infrastruktur dan penataan kawasan ini harus menjadi prioritas utama demi memastikan roda ekonomi masyarakat lokal tetap berputar optimal sekaligus menjaga daya tarik estetika wisata kuliner di Kedonganan.
Kondisi Pasar Ikan Kedonganan tersebut bertolak belakang dengan Pasar Ikan Bangsaen di Chonburi, Thailand. Pasar seafood tersebut dirombak total dengan gaya Jepang untuk mengakomodasi kebutuhan mina bahari restoran, sekaligus menjadi tujuan utama wisata kuliner di kota tersebut. ***
Editor : Ibnu Yunianto