Di usianya yang masih kepala dua, 20 tahun, Kadek Arel Priyatna sudah terbiasa dengan tekanan. Di bawah lampu stadion yang benderang, ia adalah karang di lini pertahanan Bali United. Dengan ban kapten melingkar di lengan Timnas Indonesia U-23, ia adalah komandan yang tenang di tengah hiruk-pikuk serangan lawan.
TAK terduga memang. Kini, langkah pemuda asli Bali ini tak lagi terbatas pada garis putih lapangan hijau.
Kadek Arel telah melompat lebih jauh, masuk ke ruang-ruang rapat organisasi untuk menjaga sesuatu yang lebih besar dari sekadar gawang: masa depan dan hak-hak pesepakbola Indonesia.
Suara Muda di Meja Eksekutif
Kadek Arel resmi mencatatkan sejarah personal dengan terpilih sebagai Anggota Executive Committee (Exco) Asosiasi Pesepakbola Profesional Indonesia (APPI). Di bawah payung FIFPRO dan pengakuan FIFA, Kadek akan mengemban amanah ini untuk periode 2026 hingga 2029.
Namanya kini bersanding dengan para raksasa sepak bola nasional. Ia akan duduk satu meja dengan figur senior seperti Andritany Ardhiyasa, Achmad Jufriyanto, hingga bek putri Shalika Aurelia. Bagi Kadek, ini bukan sekadar jabatan administratif, melainkan sebuah tanggung jawab moral.
“Ini menjadi tantangan saya berikutnya sebagai pemain muda. Saya sangat bangga karena ini adalah bagian dari upaya mengembangkan sepak bola Indonesia,” ungkap Kadek dengan nada optimis.
Misi di Luar Lapangan
Jika di lapangan ia bertugas melakukan interception dan sapuan bola, di APPI tugasnya adalah menyusun "benteng" perlindungan bagi para pemain profesional. Mulai dari edukasi, advokasi hak-hak pemain, hingga penguatan solidaritas antar-atlet menjadi fokus utama organisasi yang telah berdiri sejak 2008 ini.
Kadek menyadari bahwa meski wajah sepak bola Tanah Air terus bersolek menuju kemajuan, masih ada "lubang" di pertahanan yang perlu ditambal secara kolektif.
“Sepak bola kita sudah sangat berkembang, hanya saja memang masih ada kekurangan yang perlu dibenahi bersama,” jelasnya dengan bijak.
Simbol Regenerasi dan "Aroma" Bali
Menariknya, kepengurusan APPI periode ini kental dengan nafas Serdadu Tridatu. Nadeo Argawinata, mantan kiper Bali United, kini menjabat sebagai Wakil Presiden mendampingi Hanif Sjahbandi. Di jajaran Advisory Board, tokoh-tokoh ikonik seperti Leonard Tupamahu dan Ramdani Lestaluhu turut memberikan bimbingan.
Masuknya Kadek Arel ke dalam struktur penting ini menjadi simbol regenerasi yang segar. Ia membuktikan bahwa kontribusi untuk sepak bola tidak selalu harus berupa tekel bersih atau sundulan gol. Terkadang, kontribusi paling berarti datang dari keberanian untuk bersuara dan kesediaan untuk mengambil peran di balik meja.
Dari Stadion Kapten I Wayan Dipta hingga ruang sidang APPI, Kadek Arel tengah menulis babak baru dalam kariernya: Bahwa seorang bek sejati tidak hanya menjaga area penaltinya, tapi juga martabat profesinya.[*]
Editor : Hari Puspita