RADAR BALI - Kebersamaan Bali United FC dengan striker asingnya, Boris Kopitovic, resmi berakhir. Penyerang jangkung asal Montenegro tersebut dipastikan menyudahi masa baktinya bersama Serdadu Tridatu.
Kabar perpisahan ini disampaikan langsung oleh Chief Executive Officer (CEO) Bali United FC Yabes Tanuri. Manajemen menyampaikan apresiasi yang mendalam atas kontribusi pemilik nomor punggung 9 tersebut selama berada di Pulau Dewata.
“Selama 18 bulan terakhir, Boris telah banyak berjuang untuk Bali United dan kami dari manajemen mengucapkan terima kasih yang mendalam atas dedikasi dan perjuangannya bersama tim ini,” ungkap Yabes TanurI.
Perjalanan 18 Bulan Berseragam Serdadu Tridatu
Boris Kopitovic pertama kali mendarat di Bali pada awal tahun 2025 lalu. Mantan raja gol Liga Singapura (SPL) yang melegenda bersama Tampines Rovers ini didatangkan pada bursa transfer paruh musim kompetisi 2024/2025 untuk mendongkrak produktivitas lini serang.
Kehadiran pemain bertubuh kekar dengan tinggi 189 cm ini langsung memberikan dampak instan. Pada setengah musim pertamanya, ia langsung nyetel dengan skema tim dan berhasil membukukan 6 gol dan 2 assist dari 15 penampilan.
Langkah awal yang manis ini sempat menjawab keraguan publik terkait proses adaptasinya dari lapangan rumput sintetis di Singapura ke rumput natural di Indonesia.
Memasuki musim penuhnya di kompetisi 2025/2026, Kopitovic tetap menjadi tumpuan utama di lini depan. Sepanjang musim ini, ia tercatat tampil dalam 32 pertandingan dengan sumbangan 8 gol dan 3 assist.
Kontribusi pentingnya terlihat dalam sejumlah laga krusial menjelang akhir musim, seperti saat ia memborong dua gol dalam kemenangan 4-1 atas Bhayangkara Presisi, serta penyerangan taktisnya kala menumbangkan Malut United dan PSBS Biak.
Secara keseluruhan, selama 18 bulan membela panji Serdadu Tridatu di semua ajang resmi, penyerang berusia 31 tahun ini telah mengumpulkan 47 penampilan dengan total 3.896 menit bermain, serta menyumbangkan 14 gol dan 5 assist.
Transformasi Peran di Indonesia
Jika melihat catatan statistiknya secara mentah, produktivitas Kopitovic di Indonesia memang tidak se-meledak ketika ia mengemas 110 gol di Singapura. Namun, hal ini tidak lepas dari perbedaan atmosfer kompetisi dan tuntutan taktis di lapangan.
Di bawah asuhan Johnny Jansen, Kopitovic tidak sekadar diplot sebagai finisher murni di dalam kotak penalti. Ia dituntut bermain lebih taktikal sebagai target man yang rajin turun ke bawah, memenangkan duel udara, dan memantulkan bola untuk membuka ruang bagi para penyerang sayap.
Ditambah lagi dengan ketatnya sistem pertahanan man-to-man marking yang agresif dari bek-bek di kompetisi Indonesia, ruang geraknya menjadi jauh lebih terbatas.
Meski ketajamannya tidak se-fantastis saat di Singapura, dedikasi dan determinasi yang ditunjukkan sang bomber di lapangan tetap menjadikannya pilar penting dalam perjalanan Bali United selama satu setengah tahun terakhir. Kini, jersey bernomor punggung 9 di skuad Serdadu Tridatu resmi tak bertuan.***
Editor : Ibnu Yunianto