Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Tangkal Wabah Corona, Warga Lepas Ayam dan Bebek Hitam ke Tengah Laut

Didik Dwi Pratono • Rabu, 8 April 2020 | 06:15 WIB
tangkal-wabah-corona-warga-lepas-ayam-dan-bebek-hitam-ke-tengah-laut
tangkal-wabah-corona-warga-lepas-ayam-dan-bebek-hitam-ke-tengah-laut

SINGARAJA–Segala upaya dilakukan warga untuk menangkal sebaran wabah pandemi Covid-19 (Corona).


Salah satunya seperti yang dilakukan krama (warga) Desa Adat Kaliuntu, Buleleng.


Menangkal gerubug atau wabah Corona, warga adat di Bali utara ini menempuh jalur niskala dengan menggelar ritual Angamet Tirta dengan menghaturkan pekelem ke tengah laut pesisir pantai utara Bali.


Ritual yang berlangsung sangat sederhana dan dipuput oleh da Resi Begawan Yoga Mimba dari Griya Taman Segara Intaran Kelurahan Kaliuntu, itu dilaksanakan Selasa pagi (7/4) di Pura Intaran pesisir pantai Kalintu dengan menenggelam seekor ayam dan kuwir (bebek) berwarna hitam ke tengah laut.


Tujuannya, dengan ritual yang digelar secara adat Hindu itu diyakini mampu mensirnakan pandemi virus corona yang kini sedang menjangkit masyarakat seluruh dunia.


Namun sebelum ritual Angamet Tirtha berlangsung, krama desa yang diwakili oleh tokoh agama an tokoh masyarakat Desa Adat Kaliuntu melaksanakan persembahyangan terlebih dahulu di Pura Intaran.


Ida Resi Begawan Yoga Mimba yang ditemui disela-sela upacara tersebut mengatakan, banyak cara yang dapat ditempuh oleh Umat Hindu di Bali dalam menghadapi musibah bentuk apapun. Ada yang menempuh jalan sekala dan niskala.


Dari sisi sekala, pemerintah sudah menginformasikan dengan menyarakan masyarakat agar melaksanakan protokol kesehatan. Yakni penyemprotan cairan disinfektan, menggunakan masker ketika berpergian, sosial distancing dan melakukan pola hidup sehat.  


“Jalan itu rasanya tidak cukup, manusia juga dalam menghadapi musibah seperti sekarang ini harus menempuh jalan niskala,” ungkap Ida Resi Begawan Yoga.


Menempuh cara niskala menurutnya, juga telah disebutkan dalam lontar sundari gamma dan aji somandala.


Dalam kedua lontar tersebut menyebut istilah melasti. Melasti inilah satu ritualnya angamet tirtha ring tengah segara atau mengambil air kehidupan (air suci) ditengah dasar laut.


“Air suci inilah dibawa pulang oleh masyarakat ke rumah di tempat di pura masing-masing dan menyiram pekarangan mereka,” tutur Ida Resi Begawan Yoga.   


Lanjutnya, mencari air suci ke dasar laut dengan kedalaman 100 meter. Krama menggunakan perahu nelayan. Disana krama sambil memohon ampunan dan berdoa dengan tulus agar musibah hilang atau cepat berlalu.


“Sebagai umat Hindu di Bali kami yakin air suci yang diambil di tengah laut ini mampu menetralisir segala kekotoran dialam semesta ini. Sehingga tercipa jagat yang khita atau harmonis,” ungkapnya.


Ida Resi Begawan Yoga menambahkan ritual angamet tirta juga dirangkai dengan krama menghanturkan guru piduka.


Mengapa harus guru piduka, saat ini banyak yang merasa hebat dam melebihi dari tuhan.


Semua orang merasa mampu menemukan dan menciptakan apapun, namun tak pernah rasa syukur dan sembah bakti pada pemilik jagat raya. Dan saat musibah ini waktunya tepat untuk semua krama harus memohon ampun.


“Kami berharap ritual mampu menetralkan alam semesta kembali. Dan virus ini tidak lagi menjangkit manusia di muka bumi. Khusus warga Bali,” pungkasnya. 

Editor : Didik Dwi Pratono
#covid-19