Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Fenomena Awan Mirip UFO di Gunung Agung, Ini Penjelasan Ilmiah BMKG

Didik Dwi Pratono • Sabtu, 23 Mei 2020 | 02:15 WIB
fenomena-awan-mirip-ufo-di-gunung-agung-ini-penjelasan-ilmiah-bmkg
fenomena-awan-mirip-ufo-di-gunung-agung-ini-penjelasan-ilmiah-bmkg

DENPASAR- Fenomena awan unik kembali terjadi di Puncak Gunung Agung, Karangasem, Bali, Jumat pagi (22/5)


Kejadian yang dianggap sebagian masyarakat sebagai fenomena langka, ini yakni terkait munculnya awan melingkar berbentuk mirip payung atau topi atau piring terbang (UFO).


Lalu apa pendapat ilmiah terkait fenomena awan unik yang juga sempat terjadi pada 5 September 2018 lalu dan viral di media sosial itu?


 


Kepala Bidang Data dan Informasi BMKG Wilayah III, Denpasar, Iman Faturahman mengatakan bahwa fenomena awan itu merupakan awan "Altocumulus Lenticularis'


 


“Ini merupakan pertanda keberadaan gelombang gunung. Gelombang gunung ini akan dapat menyebabkan terbentuknya turbulensi yang berbahaya bagi penerbangan," terang Iman Faturahman.


 


Imbuhnya, fenomena yang terjadi di gunung Agung itu adalah fenomena yang biasa terjadi di puncak gunung.


 


 Secara ilmiah, menurutnya, awan Lenticularis ini mulai terbentuk ketika arus angin yang mengalir sejajar permukaan bumi mendapat hambatan dari objek tertentu seperti pegunungan.


 


"Akibat hambatan tersebut, arus udara tersebut bergerak naik secara vertikal menuju puncak awan," jelasnya. 


 


 


Jadi, jika udara naik tersebut mengandung banyak uap air dan bersifat stabil, maka saat mencapai suhu titik embun di puncak gunung, uap air tersebut mulai berkondensasi menjadi awan mengikuti kontur puncak gunung dan tidak ada kaitannya dengn tanda atau bencan alam. 


 


Nantinya, saat udara tersebut melewati puncak gunung dan bergerak turun, proses kondensasi terhenti. "Inilah mengapa awan Lenticularis terlihat diam karena awan mulai terbentuk dari sisi arah datangnya angin di puncak gunung kemudian menghilang di sisi turunnya angin," tukas Faturahman. 

Editor : Didik Dwi Pratono
#bmkg denpasar