Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

15 Hari Terombang-ambing di Laut, Bertahan Hidup dari Tetesan Air

Didik Dwi Pratono • Selasa, 29 Juni 2021 | 03:15 WIB
15-hari-terombang-ambing-di-laut-bertahan-hidup-dari-tetesan-air
15-hari-terombang-ambing-di-laut-bertahan-hidup-dari-tetesan-air

GARA-gara As mesin perahu miliknya patah saat melaut mencari ikan, Sumaila Desiki nyaris celaka.


 


Akibat mesin perahu miliknya patah, Nelayan asal Pulau Satanger, Kecamatan Liukan Tangaya, Kabupaten Pangkajene, Makassar, Sulawesi Selatan, ini terombang-ambing di tengah laut sendirian selama 15 hari.


 


Beruntung, setengah bulan terjebak di antara ombak besar dan badai, nelayan renta ini berhasil ditemukan selamat. Ia ditemukan oleh salah seorang nelayan di wilayah perairan Banjar Dinas Batu Dawa Kelod, Desa Tulamben, Kecamatan Kubu, Senin (28/6).


 


ZULFIKA RAHMAN, Karangasem


 


WAJAH lusuh, kuyu dan pucat tampak terlihat dari raut Sumaila Desiki saat ia berhasil ditemukan nelayan dan ditarik ke darat.


 


Pria renta ini, bahkan mengaku sangat kelelahan dan nyaris kehilangan nyawa setelah sempat terombang-ambing ombak besar dan badai di tengah laut.



Komandan Kapal Polisi Satuan Polairud Polres Karangasem, Aipda I Gede Nuada seizin Kasat Polair Polres Karangasem, AKP I Gusti Agung Bagus Suteja mengungkapkan korban ini pertama kali ditemukan di salah satu rumpon ikan milik nelayan I Komang Sukarta.


 


Saat ditemukan, korban dalam kondisi selamat namun terlihat kelelahan.


 


“Oleh nelayan asal Tulamben itu, perahu korban ditarik menuju darat untuk diberikan pertolongan,” ujarnya.

Penyebab nelayan asal Makassar ini bisa terdampar hingga ke perairan Tulamben, imbuh Gede Nuada, yakni akibat As mesin perahunya patah saat melakukan aktivitas melaut.


 


Korban sudah 15 hari berada di tengah laut.


 


“Untuk bertahan hidup, selama 15 hari korban ini mengaku hanya minum air saja,” terang Nuada.

Sehingga saat ditemukan pertama kali, kondisi Sumaila sangat lemah.


Bahkan saat hendak diberikan makanan berupa nasi, nelayan ini tidak langsung memakannya.


 


“Karena kelelahan dan cukup lama di tengah laut menyebabkan perutnya sakit,” imbuhnya.

Nuada menambahkan, usai ditemukan terombang-ambing di tengah laut, saat ini nelayan tua itu diajak menginap di rumah Winata yang merupakan Klian Banjar Batu Dawa Kelod.


 


Aparat kepolisian pun akan melakukan koordinasi dengan Dinas Sosial Karangasem terkait mekanisme pemulangan ke daerah asalnya.

Editor : Didik Dwi Pratono