Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Bekas Kamar Bola Era Belanda Diusulkan Jadi Rumah Budaya Singaraja

Yoyo Raharyo • Minggu, 29 Agustus 2021 | 21:15 WIB
bekas-kamar-bola-era-belanda-diusulkan-jadi-rumah-budaya-singaraja
bekas-kamar-bola-era-belanda-diusulkan-jadi-rumah-budaya-singaraja

SINGARAJA Sejumlah budayawan di Bali mengusulkan agar Graha Astina yang ada di Jalan Ngurah Rai, Singaraja, dikembalikan fungsinya sebagai rumah budaya. Selama ini bangunan yang lebih dikenal dengan sebutan Kamar Bola itu terlihat terbengkalai. Setelah sebelumnya sempat dijadikan rumah dinas prajurit TNI Angkatan Darat.


 


Bangunan Graha Astina memang terlihat sangat tua. Konon bangunan tua itu terakhir kali direnovasi pada 1920-an. Dulunya bangunan itu sempat dimanfaatkan sebagai rumah budaya oleh kolonial Belanda, maupun oleh masyarakat setempat.


 


Pasca-kemerdekaan pengelolaan gedung diserahkan pada institusi militer. Sementara aset berupa tanah seluas 66 are, diserahkan pada pemerintah.


 


Bangunan itu sempat dimanfaatkan sebagai klinik pratama. Kemudian menjadi asrama prajurit. Kini bangunan tersebut dimanfaatkan sebagai Primer Koperasi TNI Angkatan Darat (Primkopad) Buleleng.


 


Budayawan Sugi Lanus menjelaskan, bangunan itu merupakan salah satu tonggak penataan kawasan perkotaan Singaraja. Dahulu warga Belanda yang bermukim di Bali Uara menginginkan sebuah pusat kebudayaan.


 


“Jadi art centre pertama, ya bangunan ini. Jadi ada kesenian, pameran, tonil (sandiwara, Red), dan drama yang dipentaskan. Kemudian ada kegiatan menari dan dansa di sini. Itu dilakukan di ball room. Tapi di masyarakat saat itu diterjemahkan secara kaku, sehingga tempat ini disebut kamar bola,” ungkap Sugi Lanus.


 


Menurut Sugi bangunan tersebut diduga sempat direnovasi pada tahun 1920. Bangunan juga sempat dimanfaatkan sebagai rumah budaya hingga dekade 1950-an. Praktis selama seabad, bangunan itu tak pernah lagi tersentuh renovasi.



“Bagi kami yang concern dengan heritage, bangunan ini penting untuk sejarah dan budaya Bali. Kami mengusulkan agar bangunan ini diproses kembali sebagai rumah budaya,” harapnya.


 


Sementara itu Pangdam IX/Udayana Mayjen TNI Maruli Simanjuntak tak menampik bahwa pengelolaan bangunan itu cukup lama terbengkalai. Menurut Maruli pihaknya bersama pemerintah daerah berencana melakukan pengelolaan bersama. Sehingga lokasi itu memiliki nilai fungsi yang lebih optimal, namun tak kehilangan nilai sejarah.


 


“Kami sudah bertemu beberapa budayawan. Sudah ada ide mengoptimalkan bangunan itu sebagai rumah budaya. Secara internal kami akan berusaha agar bangunan ini berguna bagi kami di institusi militer, juga berguna bagi masyarakat sekitar,” kata Maruli saat kunjungan ke Buleleng pada Jumat (27/8).

Editor : Yoyo Raharyo