Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Jembrana Jadi Pusat Budidaya Udang Vaname

Yoyo Raharyo • Senin, 25 Oktober 2021 | 12:15 WIB
jembrana-jadi-pusat-budidaya-udang-vaname
jembrana-jadi-pusat-budidaya-udang-vaname


NEGARA, Radar Bali - Udang sebagai komoditas kelautan dan perikanan yang menjadi primadona, tidak hanya untuk mencukupi kebutuhan pasar lokal tetapi juga pasar ekspor.


Terutama jenis udang vaname salah satu komoditas perikanan yang berpotensi besar untuk dikembangkan. 



Wilayah pesisir Jembrana saat ini mulai dilirik investor untuk budidaya udang vaname dengan teknologi baru yang disebut Ultra Intensive Aquagriculture Technology. 



Teknologi ini diciptakan oleh anak bangsa doktor Joe dari Elon Research Center Lo


vina Bali. Selain dikembangkan di Millenial Shrimp Farm Situbondo dan juga di Lovina, Buleleng.



Saat ini sedang dibangun sebanyak 90 kolam berdiameter 30 meter di Banjar Pebuahan, Desa Banyubiru, Kecamatan Negara.



Dengan menggunakan teknologi ini, dibanding teknologi yang sudah ada adalah kepadatan tebar mencapai 2000 ekor/m3. Dalam masa pemeliharaan 50 hari mencapai berat rata-rata 10 gram dengan produktivitas 80 ton per hektar dan FCR 1.6.



Teknologi budidaya udang inilah yang menarik Bupati Jembrana I Nengah Tamba untuk dikembangkan di Jembrana. Hal ini sejalan dengan program bupati yang menggelar karpet merah untuk investasi, tidak terkecuali dengan budidaya udang.



"Kami akan menjadikan Jembrana sebagai salah satu sentra produksi udang vaname di Indonesia," ujarnya, saat menghadiri panen udang Vaname di Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP) Situbondo, Jawa Timur, Sabtu (23/10) lalu.



Menurut Bupati, menjadikan Jembrana sebagai pusat produksi udang vaname, sesuai arahan dari Gubernur Bali Wayan Koster yang menargetkan Jembrana meningkatkan produksi udang sebesar 50 persen produksi udang Beli.



Produksi itu, tidak hanya untuk kebutuhan pangan lokal Bali, tetapi juga komoditas ekspor.


Menurut bupati, dalam menerapkan teknologi budidaya udang di Jembrana, saat ini sudah mulai di Desa Banyubiru yang masih dalam proses pembangunan, kemudian menyusul lagi di tempat lain.



Belasan hektar tersebar di beberapa tempat sudah disiapkan untuk budidaya udang.


"Teknologi ini ramah lingkungan, tidak perlu menggali lubang karena menggunakan metode di atas permukaan tanah," terangnya.



Dalam kesempatan itu, bupati sengaja mengajak Forkopimda Jembrana, yakni Ketua DPRD Jembrana Ni Made Sri Sutharmi bersama pimpinan dewan, Kajari Jembrana Triono Rahyudi, Dandim 1617 Jembrana Letkol Inf Hasrifuffin Haruna, untuk bersama sama melihat teknologi budidaya udang yang bisa dikembangkan di Jembrana.



"Saya sengaja mengajak ketua dewan dan Kajari, agar nantinya juga melihat teknologi dan disiapkan regulasi agar dengan budidaya udang ini juga bisa menjadi sumber pendapatan daerah," ungkapnya.



Menurut bupati, setelah budidaya udang ini berjalan di Jembrana, tidak ingin hanya melihat para investor menikmati hasilnya, tetapi pemerintah daerah juga mendapat hasil berupa pendapatan dari retribusinya.



"Jangan sampai nanti setelah semua budidaya berjalan, pemerintah daerah tidak dapat apa-apa, zonk. Sehingga harus disiapkan perangkat aturan, regulasi agar ada penapatan untuk pemerintah," ujarnya.



Salah satu potensi yang bisa menjadi pemasukan daerah dari budidaya udang ini ini adalah retribusi.



Misalnya dalam 1 kilogram bisa mendapat retribusi 1 kilogram dikalikan produksi sekitar 20.000 ton sekali panen, maka retribusi yang masuk ke daerah sebesar Rp 2 miliar.



Sedangkan dengan teknologi ini hanya membutuhkan waktu produksi 5 hari. "Retribusi ini bisa untuk meningkatkan pendapatan daerah untuk pembangunan Jembrana," terangnya.



Pelaksana tugas Kepala BPBAP Situbondo Manijo menyampaikan bahwa pengembangan teknologi ini merupakan sebuah inovasi yang sangat bisa dikembangkan ke skala industri untuk menunjang capaian produksi nasional udang vaname.



"Kami akan terus berupaya dan bermitra dengan berbagai kalangan untuk sama sama memajukan teknologi budidaya air payau dan laut khususnya udang vaname di BPBAP Situbondo," ungkapnya.



Menurut pencipta teknologi Ultra Intensive Aquagriculture Technology, DR Joe bahwa salah satu daerah yang cocok untuk menerapkan teknologi ini adalah di Jembrana Bali.


"Kondisi perairan laut di Jembrana sangat cocok untuk teknologi ini, perairan lautnya sangat bagus karena berhadapan langsung dengan Samudera Hindia, airnnya masih bersih dan kandungan mineral dan seluruh parameter kualitas air terpenuhi," katanya



Pada kesempatan ini Bupati Tamba dan Manijo memberikan sertifikat pelatihan kepada 25 orang milenial dari Jembrana yang telah selesai menjalani diklat di tambak milenial BPBAP Situbondo selama dua bulan.



Selanjutnya mereka akan kembali ke Jembrana untuk menjalankan proses produksi di tambak yang saat ini sedang proses pembangunan di desa Banyubiru Jembrana. (arb/bas)


Editor : Yoyo Raharyo
#pemkab jembrana #bupati i nengah tamba