SEMARAPURA - Terbatasnya minyak goreng dengan harga Rp 14 ribu per liter sudah barang tentu menyulitkan pedagang yang menjadikan minyak goreng sebagai bahan baku produksi. Pedagang gorengan kelimpungan karena adanya pembatasan jumlah pembelian. Di sisi lain, mereka pun harus memperkecil ukuran gorengan.
Seperti diakui Nurhayati, 40, pedagang gorengan di wilayah Semarapura Klod. Ia mengaku membutuhkan sekitar 2 dus minyak goreng untuk berjualan gorengan setiap harinya.
Sebelum harganya minyak goreng merangkak naik, harganya berkisar Rp 300 ribu per dus. Sementara saat ini mencapai Rp 450 ribu per dus.
“Harganya minyak goreng mulai naik November 2021,” ungkapnya.
Kondisi itu membuatnya dilema. Sebab bila menaikan harga gorengan, sudah barang tentu para pelanggannya akan kecewa. Namun bila tetap bertahan dengan harga normal, ia yang akan merugi.
Setelah meminta pendapat para pelanggan, akhirnya ia memutuskan untuk memperkecil ukuran gorengannya.
“Saya mencari untung sedikit. Yang penting usaha saya bisa bertahan,” katanya.
Sebelumnya staf salah satu toko modern berjejaring di Kabupaten Klungkung Ida Bagus Edi Kusuma mengungkapkan, minyak goreng di toko tempatnya bekerja mulai dipatok dengan harga Rp 14 ribu per liter sejak Rabu (19/1). Dari sebelumnya berkisar Rp 40 ribu per liter tergantung merek.
Dengan turunnya harga minyak goreng, konsumen ramai berdatangan untuk membeli minyak goreng. Agar turunnya harga minyak goreng dirasakan masyarakat secara merata dan mencegah adanya aksi penimbunan, setiap orang maksimal membeli 2 liter minyak goreng.
“Sejak harga turun, ramai yang membeli minyak goreng,” ungkapnya.
Editor : Yoyo Raharyo