Ditemui di kediamannya Jalan Ratna, Denpasar namanya sangat terkenal, tempat pembuat keris dan pisau bernama Pande Keris Urip Wesi Tapa Karya. Pande mengaku menjadi pembuat keris benda-benda tajam dari leluhurnya sejak tahun 1931. Ilmu membuat keris dia gali dari buku dan lontar. Salah satu referensinya Ensiklopedi Keris dan Keris Bali Bersejarah penulis Pande Wayan Suteja Neka "Membuat keris saya dapatkan dari Ensiklopedi tapi saya lebih banyak baca buku Keris Bali Bersejarah. Pengetahuan keris banyak seluruh nusantara juga harus tahu, " ucap Pande Putu Yuda saat diwawancarai Jawa Pos Radar Bali kemarin (4/11).
Keris identik dengan seorang raja. Tapi sejatinya semua memerlukan keris. Baik rakyat biasa maupun pemimpin. Ia mengatakan bahwa memesan keris kepadanya tidak boleh untuk main-main harus ada alasan. Setiap yang memesan pertama ditanyakan tujuannya apa dan apakah ada permintaan. Supaya keris ini berguna menuntun kehidupan sang pemiliknya. "Keris ibaratkan gelas, gelas kosong biarpun dikerjakan yang memiliki tujuannya berbeda dan keinginan banyak. Ibaratkan gelas kosong mereka yang harus mengisi. Maunya dibwa kemana. Sebelum buat disampaikan dulu bisa membimbing yang menciptakan benda pusaka karena disaksikan sekala niskala. kalau ngambang -ngambang saya tolak," ujarnya.
Sebelum Tumpek Landep, ia banyak menerima pesanan untuk perbaikan keris. Sebab banyak pemilik keris yang menurutnya tidak pandai merawatnya. Seperti ada yang kerisnya sampai mengkarat dan jarang dibuka sarungnya jadi rusak. "Perbaikan banyak karena banyak keris yang mengkarat tidak paham bagaimana merawatnya dan tidak pernah dibuka. Jadinya banjir orderan di Tumpek Landep ini mengawali dengan hari Tumpek Landep mengenai ujung landep pusaka keris yang digunakan sebagai simbol memperbaiki pusaka merawat dan membuat," ucap Lelaki yang berusia 29 tahun ini.
Pande tidak ingat tepatnya sudah berapa banyak memproduksi keris, namun khusus dirinya dia memperkirakan sudah membuat 100 keris. Sebagai orang turunan Pande, ia sudah akrab dengan peralatan besi sejak kecil. Lebih lanjut dikatakan permintaan pemesan juga beda-beda dari bahan dan hiasannya. Ada yang berbalut emas, perak dan tembaga bahkan batu meteor. Pemesan juga bisa meminta jumlah emasnya berapa. " Ya tergantung berapa gram emasnya. Semakin banyak ya semakin mahal," ujarnya.
Seingatnya dari semua keris yang dia buat paling mahal Rp 30 juta. kayu yang digunakan juga kayu khusus dan menurutnya kayu terbaik bernama timoho dan untuk yang kualitas biasa kayu cendana. Dijelaskan bahwa keris merupakan simbol bahasa ungkap identitas dan kepribadian pemiliknya sehingga belum tentu sebuah pusaka akan cocok bila dikenakan orang lain. Maka, dalam dunia pekerisan ada istilah keris harus menemukan jodonhnya.
Dalam membuat keris, Putu Yuda harus melalui berapa ritual salah satunya puasa dan bersih secara jasmani dan rohani. Selain itu, seorang Mpu tidak tidur dan berkontemplasi di ruang suci. " Paling susah itu menjaga kedisiplinan menempa kedisiplinan dalam hidup, apalagi saya berumah tangga. Bagaimana saat harus bersih ya harus bersih. Makanya kita ritual dalam memulainya," ucapnya.
Untuk membuat satu keris bisa memakan waktu satu tahun. Maka dari itu, dalam saty tahun bisa memproduksi keris sekitar tiga atau paling banyak delapan. " Tidak menentu, kita tidak sembarang menjual. karena ketika keris menemui pemilik yang salah, saya yang salah sebagai mpu atau pembuatnya," ucapnya. (feb/rid)
Editor : M.Ridwan