KALI ini, untuk kesekian kali, Sastra Jawa Kuna didiskusikan, diciptakan kembali, diapresiasi dan dilestarikan dalam aktivitas kehidupan mabebasan di Bali.
Hal itu disampaikanseperti dituturkan Koordinator Prodi Sastra Jawa Kuna Prof. Dr. I Nyoman Suarka, M.Hum menjelaskan bahwa Sastra Jawa Kuna adalah milik bangsa Indonesia.
Di dalamnya merepresentasikan jati diri bangsa Indonesia, sebagai sumber jiwa dan napas bangsa. Buktinya Bahasa Jawa Kuna digunakan sebagai falsafah, motto dan ideologi negara.
Lanjutnya, sastra pra-modern Indonesia ini menyimpan kearifan dengan nilai-nilai universal. Kendati punya peran strategis, ia menyebut Sastra Jawa Kuna berada dalam keadaan penuh perjuangan untuk terus bertahan seiring waktu.
“Marilah kita semua menumbuhkan kesadaran kita dengan mengangkat kembali Sastra Jawa Kuna, walau dalam hal sekecil apa pun,” tegasnya.
Lebih lanjut, Prof. Suarka menyebut bahwa Sastra Jawa Kuna menjadi sumber pendidikan karakter dan kesejahteraan masyarakat.
Prodi ini adalah satu-satunya di Indonesia dan dunia, yang sampai saat ini sudah memiliki akreditasi A dari BAN-PT dan sudah memiliki dua orang guru besar. Ia berharap melalui seminar ini dapat memacu langkah prodi untuk mengembangkan diri ke depan.
Sementara itu, Koordinator Staf Khusus Presiden RI, Ari Dwipayana menyebut Sastra Jawa Kuna selalu membuat pihaknya tertarik. Pihaknya tidak menampik ada kegelisahan dan kecemasan dari berbagai pihak. Terutama alumni mengenai prospek ke depan.
Mengatasi masalah itu, Gung Ari menawarkan tiga strategi untuk ke depan. Dimulai dari proteksi atau perlindungan dengan memberikan semacam afirmasi kepada program studi (prodi) ini. Misalnya dengan alokasi anggaran khusus yang tidak disamakan dengan prodi lain. Hal itu terkait pula dengan beasiswa bagi para mahasiswa.
Kedua, ia meneruskan dengan pengembangan dan pemajuan semacam pusat riset Jawa Kuna.
Pusat riset itu kata dia dapat dijadikan pintu gerbang (gate way) untuk mengeksplorasi sistem pengetahuan yang dimiliki. Ia juga menyarankan Sastra Jawa Kuna memiliki jejaring internasional dengan pihak-pihak yang sedang tertarik dengan karya Nusantara.
“Tidak hanya berhenti di penerjemahan tapi dilanjutkan dengan pengkajian,” sebutnya.
Ibarat samudra tanpa tepi, ia menyebut harus ada banyak upaya untuk mengeksplorasi kekayaan yang mesti dikembangkan dengan lebih agresif. Walau demikian, ia menegaskan agar kekayaan itu jangan juga diobral begitu saja, namun harus diperlakukan dengan sikap khusus.
“Bangun model yang mana harus dipegang dan yang mana bisa dibagi, jangan juga hanya dipegang namun juga harus dipelajari,” kata dia.
Terakhir, Ari menyebut harus ada pembudayaan, untuk memopulerkan di tataran generasi anak muda, dengan cara-cara kekinian. Jika ingin generasi muda terlibat, ia memandang harus menggunakan yang sesuai semangat zamannya anak muda.
Belakangan ia juga melihat gambaran saat ini penekun sastra tidak hanya orang tua. Tetapi anak muda bertalenta luar biasa. (ni kadek novi febriani/radar bali)
Editor : Hari Puspita