Hal itu ditegaskan Luhut, saat melakukan kunjungan ke Desa Patas, Kecamatan Gerokgak, pada Jumat (28/4). Kepada wartawan, Luhut memastikan bila kontroversi pembangunan terminal LNG sudah klir.
“LNG kita kira sudah selesai. Kemarin kami sudah lihat dan kami sudah lihat mekanisme yang terbaik,” ujar Luhut.
Ia menyatakan pemerintah pusat akan memindah pembangunan terminal LNG tersebut. Menurutnya pariwisata yang sudah berkembang tak perlu dihadapkan dengan industri skala besar, seperti terminal LNG. Sehingga tidak mengganggu aktivitas pariwisata.
Terminal LNG yang semula dilakukan di kawasan hutan mangrove Sidakarya, akan dipindah ke lokasi lain. “Sekarang kita pindah ke laut. Jadi offshore (lepas pantai). Kira-kira empat kilometer dari pantai,” imbuhnya.
Meski begitu Luhut tidak menyampaikan secara gamblang, dimana lokasi lepas pantai yang dimaksud. Namun lokasinya diperkirakan tak jauh dari kawasan Sidakarya. Sehingga tidak mengganggu aktivitas lalu lintas kapal, maupun aktivitas pariwisata.
“Apa yang kita lihat, orang ski segala maca, tidak terganggu. Resort tidak terganggu. Tapi pembangunan listrik bisa dilakukan, mangrove juga tidak rusak,” katanya lagi.
Perpindahan itu juga harus dilakukan dalam waktu cepat. Ia menargetkan proses itu sudah tuntas pada akhir 2024 mendatang. “Dalam 1,5 tahun harus selesai,” tegasnya.
Sekadar diketahui, Kementerian Koordinator Kemaritiman dan Investasi tidak merekomendasikan pembangunan Terminal LNG dan pipa bersih di Sidakarya. Namun Pemprov Bali meminta agar hal itu dipertimbangkan kembali. (eps/rid) Editor : M.Ridwan