DENPASAR,radarbali.id - Bali terkenal dengan kuliner yang khas digemari masyarakat maupun wisatawan asing. Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-45 melaksanakan lomba apresiasi budaya tradisi "Pembuatan Kuliner Tradisional Berbahan hasil Laut, di Kantor Dinas Kebudayaan Provini Bali, kemarin pagi (28/6).
Lima kelompok mengolah hasil laut menjadi makanan tradisional Bali dengan tampilan menarik. Para peserta ini dari kalangan siswa dan mahasiswa yang memiliki keahlian di bidang tata boga. Mereka menyajikan hidangan dengan kreativitas yang tinggi. Tampak terlihat mewah layaknya makanan bintang lima. DItambah properti atau display biota laut, seperti lumba-lumba, perahu, dan berbagai ikan.
Hidangan yang disajikan ada empat jenis appetizer (pembuka) , soup, main course (utama) , dan dessert (penutup). Seperti kelompok Karang Amerta Kelangoan dari Institut Pariwisata Bisnis Internasional menghidangkan lodek bulung kuah pindang, jukut kuud kledok. Menu utamanya Tuasadi Timbangan Ulam Asri Jaladi.
Kata Gede Alit dan juga Fendi merupakan perwakilan kelompok Karang Amerta, makna dari menu utama memberikan filosofi mencerminkan kebahagian biota laut yang tinggal di lautan yang tenang dan harmonis.
Sementara makanan penutup dengan busukung bubur sumsum kung, yang memiliki terumbu karang yang mencintai kehidupan di dalamnya sehingga melahirkan generasi penerus di dalamnya.
Ada juga display lumba-lumba yang dibalut menggunakan butter. "Konsep yang kami usung Balinese dengan sentuhan modern. Kami tidak terlalu menonjolkan tradisionalnya, rasanya tradisional supaya bisa menaikan makanan Bali," ujar Fendi.
Baca Juga: Ngaku Banyak Konsumsi Produk Impor, Koster Akan Buka Lahan Bawang Putih 1000 Hektare
Fendi mengatakan untuk bisa membawa makanan Bali mendunia. Kelompoknya menggunakan teknik gastronomi molekuler menggunakan zat kimia untuk permainan gesture. Biasanya saus semi liquid, namun dibuat seperti busa pada makanan pembuka. Mereka membuat masakan memadukan rasa dengan yang lain.
Diakuinya masakan Bali itu enak, tidak kalah dengan kuliner dari negara maju. Namun, selama ini banyak kritikan terkait tampilan makanan Bali sehingga dengan lomba mendapatkan pengetahuan tentang masakan Bali dari hasil laut, dari pengolahan sampai penyajiannya.
Harapannya dengan kompetisi itu menjawab masalah pada penampilan masakan Bali selama ini. "Kekuatan masakan Bali taste strong, ketika bisa menyesuaikan kami coba dengan olahan berbeda," terangnya.
Menurut Fendi, wisatawan sangat suka masakan Bali khususnya wisatawan asing. Mereka ke Bali juga bertujuan untuk mencari pengalaman rasan kuliner di Bali yang tidak ada di negaranya.
"Makanan utama kami menggunakan udang dalam timbungan ulam yang biasanya itu ayam," jelasnya.
Menariknya, ada yang menyajikan dengan ada asap-asap memakai teknik modern yang bertujuan untuk menjaga konsistensi makanan tetap dingin. Cara itu alternatif supaya makanan bisa di bawah temperatur.
Lomba dengan hasil laut ini sesuai dengan tema PKB 2023 Segara Kerthi: Prabhaneka Sandhi yang bermakna sebagai samudra cipta peradaban. Sesuai juga dengan visi pembangunan Bali 2018-2023 Nangun Sat Kerthi Loka Bali program Pemerintah Provinsi Bali di bawah kepemimpinan Gubernur Bali Wayan Koster dan Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati mengandung makna menjaga kesucian dan keharmonisan alam Bali. ***
Editor : M.Ridwan